10 Muharram 1444  |  Senin 08 Agustus 2022

basmalah.png

Berwirausaha, Anak Butuh "Role Model"

Jiwa wirausaha perlu ditanamkan dalam diri anak sejak belia. Wirausaha bukan sekadar soal berjualan atau bisnis sampingan. Karakter entreprenuer lebih menyasar pada kepribadian yang kreatif, ulet, gigih, percaya diri, dan mandiri.

Anak bisa melatih dirinya mempelajari karakter wirausaha ini melalui pendidikan informal, dengan dukungan orangtua dan lingkungannya. Dengan begitu, anak akan tumbuh menjadi pribadi mandiri dan berprestasi, dalam setiap sisi kehidupannya.

Sembilan perempuan wirausaha, finalis Ernst & Young Entrepreneur Award, memiliki kepedulian tersebut. Para perempuan yang sukses berwirausaha ini meluncurkan Group Social Responsibility, program pelatihan wirausaha selama enam bulan bagi anak putus sekolah.

Lita Mucharom, koordinator Group Social Responsibility, mengatakan fokus utama program ini memang menyasar pada anak putus sekolah usia 17-25 tahun, perempuan, dan memiliki semangat serta motivasi tinggi untuk mengembangkan potensi diri menjadi entreprenuer.

"Jiwa entrepeneur bisa diasah dengan mengubah mindset dan memberikan motivasi kepada anak dan remaja. Anak membutuhkan role model. Anak juga perlu diberikan pemahaman bahwa menjadi berbeda itu baik. Identitas diri tak harus seragam, sama dengan kebanyakan orang. Anak perlu dilatih mandiri dan diyakinkan bahwa mereka bisa menyokong ekonomi," jelas Lita kepada Kompas.com di sela bincang-bincang wirausaha di Jakarta beberapa waktu lalu.

Role model Lita mengatakan, anak membutuhkan role model untuk melatih jiwa kewirausahaan pada dirinya. Role model bisa berasal dari orang dewasa yang sukses berwirausaha, atau anak seusianya.

Namun, jika Lita dan delapan pebisnis perempuan ingin berbagi pengalaman pada remaja perempuan, lain lagi dengan kisah Natasya Asriati (12) dari Tangerang, Banten. Gadis belia akrab disapa Acha ini, secara alami, melatih karakter kewirausahaan sejak duduk di bangku sekolah dasar. Saat berusia delapan tahun, Acha belajar menjajakan makanan yang dibuatnya sendiri, kepada lingkungan di sekitar tempat tinggalnya.

"Saat SD, sekitar usia delapan tahun, Acha berjualan pisang goreng di rumah. Acha memang senang memasak. Begitu melihat ada pisang di rumah, ia punya ide untuk menggorengnya, lalu menjualnya di sekitar rumah. Sayang katanya kalau pisang itu tidak dimanfaatkan. Acha membuat pisang goreng dengan menggunakan kompor minyak, memasak dan menjualnya sendiri, tanpa minta bantuan," tutur Nurwati (50), ibu Acha.

Nurwati mengakui, Kreativitas, keberanian, percaya diri dan mandiri memang menonjol dalam diri Acha. Karakter ini tak lahir dengan sendirinya. Nurwati menilai, kemandirian dan kepercayaan diri terbangun dalam diri anak perempuan ini karena perlakuan setara dan kebebasan di keluarga.

"Acha anak perempuan satu-satunya, dengan dua kakak laki-laki. Ketika melihat kakaknya bebas bermain bola dan sepeda, ia pun melakukan hal yang sama, dan keluarga tidak membatasi. Meski begitu ia juga senang membantu saya memasak di dapur. Ia selalu bertanya bumbu masakan dan cara membuat makanan yang sedang diolahnya bersama saya. Dari pengalaman ini, Acha belajar banyak hal," tutur Nurwati yang mengaku kemandirian pada diri anak perempuannya terlatih secara alami tanpa konsep maupun teori.

Melalui kisah Acha, terbukti bahwa rasa ingin tahu anak yang dikuatkan dengan dukungan keluarga, menghasilkan pribadi mandiri yang kreatif. Pengalaman masa kecil perempuan belia kelahiran 14 Mei 1999 inilah yang kemudian membentuk pribadi mandiri.

Siswi tingkat satu SMP ini dikenal sebagai pribadi yang aktif dan mandiri. Setidaknya, karakter ini bisa menjadi modal dasar semangat dan jiwa kewirausahaan yang bisa terus diasah dalam diri anak muda.

kompas.com