pustaka.png.orig
basmalah.png


4 Dzulqa'dah 1442  |  Senin 14 Juni 2021

Jejaring Sosial versus Karir

http://1.bp.blogspot.com/_LMmZOK_dNCI/SynGaDYJOUI/AAAAAAAAAfk/IhYiThxdp0c/s200/karir2.jpgDewasa ini, rasanya hampir semua orang memiliki akun jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan sebagainya. Media sosial pada dasarnya memudahkan kegiatan transaksi informasi, mendekatkan kembali kawan-kawan lama yang tak terjangkau, menambah teman, memudahkan komunikasi dan sebagainya. Ditunjang dengan gadget dan teknologi yang kian maju pesat, membuat hampir seluruh pengguna seperti tersihir dengan asyiknya berjejaring sosial.

Namun bagi para pekerja atau para calon pekerja,  Anda perlu hati-hati terhadap akun jejaring sosial Anda sendiri. Bisa-bisa, akun Anda malah jadi faktor pertama yang menggagalkan karir Anda.

Karena dalam perkembangannya, para personalia ternyata menggunakan situs jejaring untuk mengenali karakter para calon pekerja yang sedang melamar pekerjaan. Dari jejaring sosial, biasanya mereka akan mendapatkan informasi mengenai keseharian seseorang, cara berinteraksi, sikap, manner, sopan santun, dan sebagainya. Hal ini tentunya akan sangat menentukan diterima atau tidaknya Anda ketika melamar pekerjaan. Sekalipun isi CV seseorang baik, namun jika tergambar jelas sikap yang kurang baik bahkan cenderung kasar di jejaring sosialnya, para personalia semakin yakin untuk tak memanggil Anda.

Para pekerja yang sudah memiliki pekerjaan pun musti berhati-hati. Beberapa perusahaan besar melarang para pekerjanya ‘bermain’ di jejaring sosial pada saat jam kerja. Hal ini bukan tanpa sebab. Karena produktivitas seseorang cenderung menurun ketika mereka malah aktif di jejaring sosial pada saat tersebut. Dan yang lebih perlu diperhatikan lagi, beberapa perusahaan besar juga telah merekrut atau memanfaatkan jasa psikolog untuk memantau perkembangan kejiwaan para pekerja dilihat dari informasi yang dipos oleh para penggunanya.

Maka tak ada ruginya jika seseorang mulai mengerem keluh kesahnya (apalagi kalau menggunakan bahasa yang kasar) lewat jejaring sosial. Sebaiknya tunjukanlah bahasa yang baik, bahkan cobalah sapa teman-teman Anda dengan memberikan motivasi-motivasi ringan. Gunakan pula foto yang sopan dan tidak vulgar atau memberi kesan yang kurang baik. Pengaturan ini tidak hanya melatih untuk berfikir dan bersikap positif, tetapi juga menguntungkan dalam proses pembangunan karir.

perempuan.com