26 Dzulhijjah 1442  |  Kamis 05 Agustus 2021

basmalah.png

Buah Kerja Keras Tukang Potong Rumput

http://4.bp.blogspot.com/_sZCIi8Z8hP8/TJ2zxuihuRI/AAAAAAAAAMU/69349KD9pXw/s1600/meniru_orang_sukses-256x300.jpgCara untuk terus bertahan hidup mengantarkan John Dasburg menjalani karier yang gemilang. Sejumlah posisi kunci di beberapa perusahaan besar, berhasil diperolehnya.

Namun, siapa sangka kariernya bermula dari tukang potong rumput. “Saya mulai usaha sendiri sebagai pemotongan rumput pada usia 10 tahun,” ujar Dasburg seperti dilansir First Job Institute. Ya, Dasburg yang kini menjabat sebagai CEO ASTAR Air Cargo, pada usia 10 tahun menjalani profesi sebagai tukang potong rumput di Miami, Florida, Amerika Serikat (AS).

Orang pertama yang memakai jasa Dasburg adalah tetangganya sendiri. Kala itu pria kelahiran Queens, New York pada 1943 itu sudah mulai terbiasa bekerja sama. Hal ini dibuktikan dengan turut melibatkan sejumlah teman dalam pekerjaan memotong rumput. Maklum, area rumput yang harus dipotong cukup luas.

Sejumlah lahan pertanian membutuhkan banyak tenaga untuk membersihkan rumput yang dianggap parasit, sehingga tidak memungkinkan untuk dikerjakan sendiri. Oleh sebab itu, Dasburg melibatkan sejumlah teman untuk bekerja bersama. Dari upah yang diterima, dia memberikan sebagian kepada teman-temannya.

“Aku sadar tidak bisa melakukan semuanya dan menyewa beberapa anak lain bekerja untuk saya. Aku akan mengambil persentase dari pembayaran mereka,” tukasnya. Untuk masalah bayaran, Dasburg mengaku bergantung pada luas area yang akan dipotong. Namun, biaya potong dihitung per meter.

Jadi, besar bayaran bergantung luas lahan. Semakin luas lahan yang dikerjakan, semakin besar pula bayaran yang diterimanya. Dasburg melakukan pekerjaan ini hingga usia 18 tahun, dengan memiliki lima karyawan. Dari pekerjaan ini Dasburg belajar banyak hal, termasuk memperbaiki mesin pemotong rumput. Awalnya dia hanya tahu bahwa mesin pemotong rumput rusak harus dibawa ke bengkel.

“Saya menyadari bahwa harus belajar untuk memperbaikinya sendiri jika ingin menghasilkan uang,” tegasnya. Pelajaran memperbaiki mesin dia dapat dari seorang mekanik di bengkel lokal. Setelah itu, jika ada mesin yang rusak, Dasburg memperbaiki sendiri mesin itu di gudang belakang rumahnya.

Dari situlah, Dasburg meyakini bahwa kekayaan bisa dibuat dengan memiliki hubungan pengetahuan dan pelanggan. Artinya, Dasburg terus berupaya membangun hubungan dalam bisnis. Di samping itu, Dasburg juga terus berupaya mengembangkan diri dengan keterampilan yang bisa dia pelajari dari mana pun. Baginya, kurang keterampilan berdampak negatif pada orang lain (pelanggan).

“Saya bersemangat untuk bekerja keras dan belajar apa pun yang kita bisa. Saya belajar dengan cepat bahwa semakin keras Anda bekerja, semakin banyak Anda mendapatkan. Sayangnya, beberapa orang tidak berpikir seperti itu,” tandasnya. Wajar jika Dasburg harus bekerja keras untuk mendapatkan uang. Dia bukanlah dari keluarga kaya.

Saat dia kecil, orang tuanya selalu mengeluh kekurangan uang. Hal inilah yang kemudian memotivasi Dasburg untuk bekerja keras. “Mereka tidak pernah cukup memenuhi permintaan, sehingga selalu ada pengorbanan yang dilakukan. Namun, aku tidak pernah menganggap bahwa masa depanku terbatas. Jika bekerja cukup keras, aku akan lebih baik dari orang tuaku,” papar Dasburg mengenang masa kecilnya.

Dari pengalamannya itu, perjalanan waktu dan sejarah hidup tidak menakdirkan Dasburg hanya menjadi tukang potong rumput selamanya. Pria yang kini telah berusia 68 tahun itu sempat singgah di sejumlah sektor bisnis. Mulai properti, perhotelan, makanan, hingga maskapai.

Para pengguna jasanya bukanlah perusahaan kecil, melainkan juga sebaliknya. Banyak dari mereka memiliki reputasi besar. Sejak April 2003, Dasburg menjabat sebagai Chairman dan CEO Astar USA LLC, sebuah perusahaan jasa angkutan udara. Saat ini Dasburg juga menjadi anggota Dewan Penasihat Trilantic Capital Partners serta Direktur Rumah Sakit dan Yayasan Mercy.

Sebelumnya, dia mendapatkan posisi CEO dan Presiden Burger King Corporation. Jabatan ini diembannya sejak April 2001 hingga Januari 2003. Pada waktu yang sama, dia juga menjabat sebagai chairman sampai Maret 2003. Pada periode sebelumnya, perusahaan yang mendapatkan sentuhan tangan dinginnya adalah Northwest Airlines.

Lagi-lagi, Dasburg juga menjadi CEO dari 1989 hingga Maret 2001. Sejak tahun 1980 hingga 1989, dia memegang sejumlah posisi di Marriott Corporation, juga sebagai chief financial officer dan chief officer untuk bidang real estate.

“Menjadi CEO adalah pekerjaan yang sempurna bagi saya karena ada begitu keteguhan dalam kehidupan seorang CEO. Saya berurusan dengan berbagai masalah sehari-hari. Ini pekerjaan yang besar bagi seseorang yang mampu fokus,” tegasnya.

Dalam deretan kariernya yang gemilang tersebut, Dasburg berhasil mendapatkan sejumlah penghargaan yang membuktikan kapasitasnya. Di antaranya pada 2001, dia mendapatkan Horatio Alger Award yang mengukuhkannya sebagai salah satu orang terhormat AS.

SINDO//mbs/economy.okezone.com