18 Safar 1443  |  Minggu 26 September 2021

basmalah.png

Mengasah Perfeksionisme yang Sehat

Mengasah Perfeksionisme yang Sehat Fiqhislam.com - Perfeksionisme yang sehat mampu mendorong individu mencapai prestasi tertinggi dan bekerja keras. Tapi, jika tidak berhati-hati mengelolanya, perilaku tersebut dapat menjadi bumerang yang menghancurkan diri sendiri.

Gwyneth Paltrow, Serena Williams, serta si kembar Mary-Kate dan Ashley Olsen merupakan beberapa contoh perfeksionis sehat. Sebaliknya, karakter yang dimainkan Natalie Portman di film Black Swan merupakan contoh sempurna untuk menggambarkan perfeksionisme yang obsesif dan melanggar batas.

Jika Anda menyebut diri sebagai seorang perfeksionis, pelajari bagaimana cara membuat perilaku tersebut menjadi sesuatu yang bersifat positif dan sehat. Berikut ini adalah sejumlah panduan yang diberikan psikolog Harvard, Jeff Szymanski, Ph.D., seperti dikutip situs msn.careerbuilder.com:

Berhenti mengkhawatirkan potensi kesalahan
Wajar saja jika Anda tidak ingin membuat kesalahan dalam hal apa pun. Tapi, ada baiknya mengevaluasi gravitasi kesalahan berdasarkan tugas serta hasil yang diharapkan. Kesalahan ejaan dalam laporan setebal 100 halaman kemungkinan akan diabaikan orang, sedangkan satu kesalahan saja dalam lembar resume bisa menangkap perhatian seseorang dengan segera.

Jika Anda selalu khawatir tentang kesalahan yang mungkin dibuat, Anda bisa terlalu tenggelam dalam satu hal dan melewatkan hal-hal penting lainnya seperti tenggat waktu dan membuat stres diri sendiri.

Menjaga keseimbangan
Kualitas sama pentingnya dengan efisiensi di tempat kerja. Selain rajin dan cermat, Anda juga dituntut untuk memberikan hasil yang memuaskan. Sebagai contoh, seorang wartawan tidak selalu memiliki waktu untuk memeriksa ulang fakta dan akurasi hingga dirinya yakin seratus persen tentang artikel yang ditulis. Tapi, bagaimana pun berita tetap harus naik cetak dan tenggat waktu dipenuhi.

Fokus pada usaha
Ada kemungkinan Anda membuang-buang banyak waktu untuk menyempurnakan hal-hal yang sebetulnya tidak perlu disempurnakan. Perilaku tersebut hanya akan membuat Anda stres dan kehabisan energi sepanjang waktu. Keterbatasan waktu dan sumber daya membuat Anda harus memprioritaskan hal-hal secara strategis dan mengetahui kapan harus berhenti menuntut segala sesuatu serba sempurna.

Belajar dari kesalahan
Ada perbedaan mendasar antara kecewa pada diri sendiri atas kinerja Anda dengan membenci atau tidak menyukai diri karena hal itu. Perfeksionisme sehat terkait dengan kemampuan Anda untuk mengoreksi dan mengkritik diri sendiri, sedangkan perfeksionisme yang tidak sehat terkait dengan rasa kecewa kronis yang berujung pada depresi dan membenci diri sendiri.

Kali lain membuat kesalahan, cobalah untuk belajar dari kesalahan yang Anda buat dan tidak menganggapnya sebagai kegagalan.

Yulia Permata Sari
mediaindonesia.com