pustaka.png
basmalah.png.orig


8 Dzulqa'dah 1442  |  Jumat 18 Juni 2021

8 Pola Pikir Keliru

8 Pola Pikir KeliruFiqhislam.com - Anda mungkin sering mendengar ungkapan “yang kaya makin kaya,” tapi pernahkah Anda berpikir mengapa hal itu bisa terjadi?

Ini karena orang-orang kaya memiliki seperangkat nilai-nilai, filosofi, dan strategi yang jauh berbeda dengan orang-orang yang menyebut diri mereka 'kelas menengah'.

Rahasia untuk meraih kekayaan bukan terletak pada hanya fokus mencari uang semata, tapi yang terpenting bagaimana nilai-nilai dan cara berpikir soal kekayaan.

Dengan kata lain, apabila Anda ingin menjadi orang kaya, Anda harus berpikir layaknya orang kaya. Ketika memiliki konsep berpikir orang kaya, Anda memiliki modal penting untuk lepas dari 'kelas menengah'.



Berikut delapan pola pikir keliru yang selama ini menghambat Anda untuk menjadi orang kaya dikutip dari CNBC, Minggu (9/2/2020):

1. Bekerja keras -bahkan di tempat kerja yang Anda benci- akan membuat Anda kaya raya

Banyak orang yang rela bekerja keras di tempat yang mereka pikir “masih bisa ditoleransi”. Mereka bertahan di sana selama bertahun-tahun sambil khawatir memikirkan kemungkinan dipecat.

Mengapa demikian? Karena mereka percaya bekerja keras meskipun pekerjaan itu dibencinya adalah cara yang paling efektif untuk menjadi orang kaya.

Pola pikir semacam ini jelas tak dimiliki orang kaya. Orang kaya bekerja keras untuk mengisi hidupnya. Setelah menemukan pekerjaan yang disukai, mereka akan mencurahkan seluruh tenaga, pikiran, dan waktu demi pekerjaan itu sehingga mereka menjadi orang yang paling ahli dalam bidang pekerjaannya dan menghasilkan banyak uang.

Intinya, lakukan pekerjaan yang Anda benar-benar sukai dan menjadi orang kaya melalui pekerjaan tersebut.

2. Anda tidak bisa kaya tanpa mengenyam pendidikan formal

Banyak orang percaya kalau pendidikan formal menentukan level kekayaan. Jika memang seperti itu, dapat dikatakan lulusan perguruan tinggi dengan predikat cum laude akan menjadi miliarder.

Faktanya, miliarder dunia tercatat tidak memiliki rekam jejak pendidikan mentereng. CEO Dell Technologies Michael Dell yang drop out dari Universitas Texas, sekarang memiliki kekayaan 32 miliar dolar AS. Selain itu, mendiang Steve Jobs, yang merupakan Pendiri Apple juga mengatakan kalau keputusannya keluar dari kampus adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah dia lakukan dalam hidupnya.

Pendidikan formal tidak menjamin Anda menjadi orang kaya. Kuncinya adalah keahlian. Jika Anda menyukai bidang pemasaran misalnya, Anda dianjurkan mengasah keahlian Anda di bidang itu. Misalnya, mengambil kursus atau belajar langsung ke orang-orang berpengalaman di bidang itu.

3. Menjadi kaya sudah takdir, tidak ditentukan diri sendiri

Rata-rata orang percaya menjadi kaya adalah sebuah "privilige" yang didapat oleh sebagian kecil orang beruntung. Untuk itu, mereka fokus untuk menabung untuk pendidikan, keahlian, termasuk membeli mobil dan rumah sehingga anaknya akan memperoleh "privilige" itu.

Padahal orang kaya meyakini bahwa di negara kapitalis, mereka memiliki hak untuk kaya sepanjang mereka memiliki kontribusi besar bagi orang lain. Orang kaya percaya kalau bisa mengatasi masalah orang banyak, maka mereka akan mendapatkan kekayaan.

Anda harus berpikir membuat terobosan baru yang dapat memecahkan masalah di lingkungan Anda daripada hanya fokus menyimpan uang saja yang ujung-ujungnya untuk membayar tagihan dan kebutuhan sehari-hari saja.

4. Kekayaan yang berlebihan akan membuat perilaku orang berubah menjadi buruk

Banyak orang percaya hal ini. Kelas menengah berpikir bahwa kesuksesan dan uang bisa mengubah orang menjadi rakus, korup, dan penindas. Padahal uang bisa digunakan untuk hal-hal yang positif.

Namun, orang-orang kaya sepakat bahwa kekuasaan dan kekayaan akan menunjukkan jati diri yang sebenarnya. Kalau Anda orang yang brengsek dan tukang tipu sebelum jadi orang kaya, perilaku Anda makin buruk jika mendapat kekayaan. Sebaliknya, jika sebelumnya Anda orang yang jujur, rendah hati, dan pekerja keras, Anda mungkin akan menjadi orang yang lebih baik dengan kondisi finansial yang mapan.

5. Bermain aman dengan uang adalah hal yang bijak

Banyak orang yang mengelola keuangan secara konservatif, sehingga membuat mereka untuk terlalu berhati-hati dalam mengelola keuangan. Mereka takut jika mereka kehilangan uang, mereka tidak akan pernah memperoleh uang itu kembali.

Orang kaya di sisi lain justru menghabiskan uang mereka untuk menghasilkan uang yang lebih banyak melalui investasi dan sebagainya. Mereka akan belajar dari pengalaman, baik yang berhasil maupun gagal. Hal ini membuat mereka dapat mencegah kesalahan berulang di masa depan sehingga bisa memperoleh keuntungan lebih besar daripada kerugian yang dialami sebelumnya.

Intinya, beranikan diri Anda mengambil risiko dengan membangun usaha baru, berinvestasi, atau membangun jaringan. Dengan itu, rasa percaya diri Anda akan terus meningkat dan membantu Anda dalam mengelola keuangan.

6. Sangat penting mengajarkan anak cara menabung

Banyak orang tua yang pada umumnya hanya mendidik anak mereka caranya menabung dan berhemat. Bukannya menabung salah, tapi anak-anak juga perlu diberi tahu caranya untuk mengembangkan uang yang mereka miliki.

Lain halnya dengan orang-orang kaya yang selalu mencari cara untuk menggandakan penghasilan mereka, sehingga mereka bisa menikmati hidup. Mereka melakukan hal tersebut dengan cara menempatkan uang mereka di saham, obligasi, hingga sektor properti. Mereka sendiri melihat uang sebagai sesuatu yang harus diputar dan dikembangkan dan mereka mengajarkan pandangan itu ke anak-anak mereka.

Intinya, menabung itu baik. Namun Anda juga perlu mendidik anak Anda cara untuk menginvestasikan uang jajan yang anak Anda miliki.

7. Banyak uang membuat stres dan gampang marah

Orang-orang pada umumnya melihat uang dengan emosi yang negatif. Mereka percaya kalau berbicara masalah uang langsung membuat stres dan depresi. Dengan begitu, mereka berupaya menjauhi topik soal uang.

Lain halnya dengan orang kaya yang memandang uang apa adanya dan logis. Mereka terbiasa berbicara soal uang untuk menyusun strategi menghasilkan lebih banyak. Saat berbicara uang, logika dan rasionalitas dikedepankan dan emosional dikesempingkan.

Intinya, gunakanlah pemikiran logis Anda dalam merumuskan rencana keuangan dan manfaatkanlah emosional Anda untuk memotivasi diri Anda agar terus berpedoman pada rencana tersebut.

8. Hidup nyaman sudah lebih dari cukup

Orang-orang pada umumnya berusaha hanya mewujudkan ketenangan fisik, psikis, hingga emosional. Sedangkan orang kaya percaya kalau menjadi kaya itu butuh perjuangan dan menjadi nyaman justru berpotensi menimbulkan bahaya. Orang kaya justru belajar untuk nyaman di tengah situasi yang tak menentu.

Saat orang kebanyakan menghindari sesuatu hal yang berisiko, orang-orang kaya justru optimistis dan berani mengambil sesuatu yang berisiko tersebut.

Nemang tidak mudah untuk menjadi orang kaya. Namun, orang-orang yang berjuang pasti akan mendapatkan hasil yang sepadan.

Oleh karena itu, Anda bisa memulai langkah menuju kekayaan dengan meluruskan kembali pola pikir Anda meski Anda tak menyukainya. Pola pikir baru tentang kekayaan ini setidaknya membawa Anda selangkah lebih awal untuk menjadi orang kaya. [yy/inews]

Muhammad Aulia