2 Dzulhijjah 1443  |  Sabtu 02 Juli 2022

basmalah.png

Ingin Karier Sukses Tak Harus Gila Kerja

Ingin Karier Sukses Tak Harus Gila KerjaFiqhislam.com - Banyak orang berpikir untuk bisa meraih sukses dalam karier harus banyak berkorban, termasuk gila kerja. Pengorbanan yang dimaksud seperti kerja lembur setiap hari, hingga menghabiskan waktu libur akhir pekan dengan bekerja.

Rajin bekerja memang bagus, bahkan disarankan setiap pekerja memiliki mental tersebut. Namun, jika terlalu berlebihan, tentu akan ada efek negatif. Demikian dilansir dari Time.

Emma Seppala, penulis buku The Happiness Track, menyatakan seseorang yang menyempatkan waktu untuk diri sendiri, justru bisa menjadi lebih produktif dan lebih sukses kariernya saat bekerja karena orang itu berada dalam kondisi rileks, sehingga saat bekerja ia jadi lebih kreatif dan bahagia dengan pekerjaannnya. Memang, tidak ada yang menjadi workaholic. Namun, itu juga bukan sesuatu yang patut dibanggakan.



Faktanya, para penggila kerja yang menghabiskan waktu hidupnya dengan bekerja, justru kalah produktif dibandingkan dari mereka yang bekerja sesuai waktu yang berlaku dan masih menyempatkan diri untuk melakukan hal selain bekerja. Jadi, sesibuk apapun, sebanyak apapun pekerjaan, sempatkanlah diri untuk beristirahat. Atau, sempatkan waktu untuk melakukan kegiatan lain selain bekerja.

Tak perlu merasa bersalah bila tidak bisa melakukan pekerjaan. Jika memang waktunya libur, sebaiknya gunakan waktu tersebut untuk beristirahat dan relaksasi. Energi tubuh juga perlu diisi ulang agar segar dan fit kembali saat beraktivitas. [yy/tempo]

Ingin Karier Sukses Tak Harus Gila KerjaFiqhislam.com - Banyak orang berpikir untuk bisa meraih sukses dalam karier harus banyak berkorban, termasuk gila kerja. Pengorbanan yang dimaksud seperti kerja lembur setiap hari, hingga menghabiskan waktu libur akhir pekan dengan bekerja.

Rajin bekerja memang bagus, bahkan disarankan setiap pekerja memiliki mental tersebut. Namun, jika terlalu berlebihan, tentu akan ada efek negatif. Demikian dilansir dari Time.

Emma Seppala, penulis buku The Happiness Track, menyatakan seseorang yang menyempatkan waktu untuk diri sendiri, justru bisa menjadi lebih produktif dan lebih sukses kariernya saat bekerja karena orang itu berada dalam kondisi rileks, sehingga saat bekerja ia jadi lebih kreatif dan bahagia dengan pekerjaannnya. Memang, tidak ada yang menjadi workaholic. Namun, itu juga bukan sesuatu yang patut dibanggakan.



Faktanya, para penggila kerja yang menghabiskan waktu hidupnya dengan bekerja, justru kalah produktif dibandingkan dari mereka yang bekerja sesuai waktu yang berlaku dan masih menyempatkan diri untuk melakukan hal selain bekerja. Jadi, sesibuk apapun, sebanyak apapun pekerjaan, sempatkanlah diri untuk beristirahat. Atau, sempatkan waktu untuk melakukan kegiatan lain selain bekerja.

Tak perlu merasa bersalah bila tidak bisa melakukan pekerjaan. Jika memang waktunya libur, sebaiknya gunakan waktu tersebut untuk beristirahat dan relaksasi. Energi tubuh juga perlu diisi ulang agar segar dan fit kembali saat beraktivitas. [yy/tempo]

8 Tanda Anda Gila Kerja

8 Tanda Anda Gila Kerja


Fiqhislam.com - Bagi banyak orang Indonesia, masuk jam 9 pulang jam 6 merupakan jam kerja paling umum. Indonesia merupakan salah satu negara dengan jam kerja terpanjang di dunia industri.

Jam kerja yang panjang ini belum termasuk waktu lembur. Akibatnya, keluarga, teman, kehidupan pribadi, dan waktu istirahat harus dikorbankan.

Dalam studi yang dilakukan Boston Consulting Group terungkap jam kerja panjang dapat membahayakan kesehatan dan mengurangi produktivitas kerja.

Selain itu studi yang sama menemukan bahwa memaksa karyawan pulang tepat waktu dan mempersilakan mereka beristirahat di akhir pekan justru meningkatkan efesiensi dan efektivitas karyawan dalam bekerja.

Sayangnya, banyak orang tidak sadar kalau hidup mereka tidak seimbang karena lamanya durasi bekerja. Untuk mengecek apakah Anda termasuk salah satunya, simak artikel berikut seperti dikutip dari CekAja.com:

1. Jam kerja sangat panjang

Mari bahas dari yang paling sederhana dulu. Normalnya jam kerja sebenarnya tidak lebih dari 40 jam. Namun di Indonesia rata-rata menerapkan 45 jam seminggu belum termasuk lembur.

Tapi kalau Anda menghabiskan 50 jam seminggu, ini adalah tanda bahaya pertama. Dan kalau Anda menghabiskan waktu di kantor sampai 60-70 jam seminggu, Anda sulit memiliki kehidupan lain di luar pekerjaan. Karena jika menghabiskan 12 jam di kantor, 8 jam tidur, dan hitunglah 2 jam untuk perjalanan, Anda hanya punya 2 jam waktu luang.

Stres yang dihasilkan dapat memicu dampak yang lebih fatal seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kecenderungan mabuk-mabukan. Bahkan kalau Anda bekerja dari rumah pun, Anda harus tetap membagi waktu.

2.  Tertidur (atau sering mengantuk) di kantor

Banyak orang tidak mendapat tidur cukup karena jam kerja panjang. Kurang tidur membuat Anda berisiko terkena stroke, kecemasan, depresi. Dan kalau Anda bekerja lebih dari 80 jam per minggu, risiko penyakit jantung meningkat hingga 94 persen.

Kalau Anda sering tertidur di meja kerja karena begadang, minum delapan gelas kopi sehari supaya tetap terjaga, mungkin jam kerja Anda terlalu panjang.

Tak punya kehidupan

3. Anda tidak punya kehidupan sosial

Coba ingat-ingat, berapa kali Anda membatalkan janji untuk berkumpul dengan teman atau keluarga demi pekerjaan? Atau seberapa sering Anda punya waktu untuk diri sendiri? Pernahkah Anda terpaksa menjual tiket konser yang sudah dibeli karena harus bekerja di akhir pekan?

Hal-hal tersebut merupakan tanda kalau keseimbangan hidup Anda kacau. Lembur satu atau dua kali sebulan tidak masalah. Dan kadang permintaan lembur tidak terhindarkan. Tapi kalau sampai Anda tidak punya kehidupan sosial di luar pekerjaan, segeralah ambil cuti.

4. Selalu kepikiran pekerjaan

Anda memikirkannya sebelum tidur, saat makan, bahkan mengkhawatirkannya saat berbicara dengan teman. Kalau yang ada di pikiran Anda hanya pekerjaan, Anda sebenarnya sedang punya masalah serius.

Saat sedang bekerja, Anda memang harus fokus. Tapi jika sedang bersama keluarga, teman, atau melakukan kegiatan di luar kantor, Anda tidak seharusnya memikirkan pekerjaan. Terus menerus memikirkan pekerjaan tidak baik untuk kesehatan mental Anda.

Kalau Anda sadar tidak bisa memikirkan hal-hal lain selain pekerjaan, saatnya meminta bantuan psikolog. Mereka akan mengajarkan Anda untuk mengalihkan pikiran.

5. Secara konstan mengecek email

Sekarang ini hampir setiap orang membawa ponsel pintar. Namun jika Anda menggunakannya untuk mengecek email setiap lima menit sekali, pekerjaan Anda telah mengambil alih hidup Anda.

Beberapa orang bahkan terbangun di tengah malam karena email dari bos atau klien.
Buatlah batasan. Matikan smartphone Anda di waktu tidur dan jangan buka email sampai tiba di kantor.

Tak pernah ambil cuti

6. Anda tidak pernah mengambil jatah cuti atau sakit

Cuti sangat penting untuk kesehatan mental Anda. Begitu juga kalau sakit, jangan memaksakan diri ke kantor.

Tidak hanya Anda butuh waktu untuk memulihkan diri, Anda juga bisa berisiko menyebarkan penyakit. Dedikasi memang bagus, tapi jangan sampai mengorbankan kesehatan diri sendiri.

7. Mudah emosi

Apakah Anda jadi mudah tersulut emosi akhir-akhir ini? Misalnya seperti mudah membentak, berteriak, atau memasang raut tidak senang. Mungkin penyebabnya karena tekanan pekerjaan.
Semakin lama bekerja, tapi semakin sedikit istirahat, semakin naik pula temperamen Anda.

8. Rumah berantakan

Karena pergi sebelum mata hari terbit dan pulang nyaris tengah malam, Anda jadi tidak punya waktu untuk bersih-bersih. Sampai Anda sadar, rumah Anda hanya menjadi tempat tidur dan mandi saja.

Saat di rumah, Anda sudah kepalang capek. Begitu pun di akhir pekan, Anda lebih memilih istirahat total daripada bersih-bersih. Akibatnya rumah jadi berantakan. Coba cek rumah Anda, apakah kondisinya sudah tidak karuan? Jika ya, mungkin antara pekerjaan dan kehidupan pribadi Anda tidak seimbang. [yy/liputan6]