22 Rabiul-Awal 1443  |  Kamis 28 Oktober 2021

basmalah.png

Bola Karet dan Bola Kaca

Fiqhislam.com - Hidup ini seperti pemain circus yang harus memutar sejumlah bola di udara, hanya saja sebagian dari bola-bola itu adalah bola karet dan sebagian yang lain adalah bola kaca.

Bola Karet dan Bola Kaca Bola-bola dari karet boleh saja dikorbankan untuk jatuh bila dipandang perlu, karena dia akan memantul dengan sendirinya dan dapat diambil kembali saat dibutuhkan.

Bola-bola dari kaca tidak boleh jatuh sama sekali – karena sekali jatuh dia hancur, jadi dia harus selalu tertangkap tangan dan tidak boleh dikorbankan. Memahami mana yang bola karet dan mana yang bola kaca akan menentukan apa yang menjadi prioritas hidup Anda.

Ambil misalnya Andalah pemain circus itu dan Anda bermain dengan lima bola,  sebut saja: pekerjaan, keluarga, pertemanan, kesehatan, keimanan. Mana diantara lima ‘bola’ ini yang bola karet dan mana yang ‘bola’ kaca bagi Anda? Setiap orang akan memiliki pilihannya sendiri.

Idealnya adalah kita perlakukan semuanya sebagai ‘bola kaca’ sehingga tidak ada satupun  yang boleh jatuh. ‘Pemain circus’ yang pinter mungkin saja bisa melakukan ini, tetapi kebanyakan orang suatu saat akan terpaksa membiarkan salah satunya jatuh. Bila ini yang harus dilakukan, maka hanya bola karet-lah yang boleh jatuh.

Dalam perjalanan karir saya sebagai karyawan dahulu, berulangkali saya harus membiarkan ‘bola karet’ pekerjaan itu jatuh. Karena ini yang paling aman untuk dijatuhkan bila terpaksa, dan insyaallah selalu dapat dipungut lagi – dalam bentuk pekerjaan lain.

Nampaknya sederhana tetapi banyak juga orang yang salah pilih - menganggap pekerjaannya adalah ‘bola kaca’ sedangkan yang lain adalah ‘bola karet’. Kok bisa? Ini terjadi ketika orang mengorbankan keluarga, pertemanan, kesehatan dan bahkan keimanan – demi untuk mempertahankan pekerjaannya.

Apakah Anda termasuk yang menganggap pekerjaan Anda adalah ‘bola kaca’? Anda bisa coba mengetesnya dengan sejumlah pernyataan berikut:

1. Orangtua, anak/pasangan Anda kritis di rumah sakit – Anda serahkan ke perawat dan yang lain untuk menanganinya karena Anda sibuk dengan pekerjaan.

2. Anda rela mengorbankan pertemanan Anda demi karir dan pekerjaan Anda.

3. Kesibukan pekerjaan Anda yang luar biasa membuat Anda tidak bisa makan dan tidur secara sehat dan tidak sempat berolah raga menjaga kesehatan.

4. Demi pekerjaan Anda, Anda berani menyerempet bahaya dengan hal-hal yang bersifat suap, korupsi, permainan proyek dan sejenisnya.

5. Anda tidak peduli dengan pendapatan perusahaan/instansi Anda yang bercampur dengan Riba, Maisir dan Gharar.

Bila salah satu saja dari lima statement tersebut diatas Anda iya-kan , maka kemungkinan besar Anda telah menganggap pekerjaan Anda adalah ‘bola kaca’-nya dan yang lain adalah bola karet.

Bila no 1 yang Anda iya-kan, berarti keluarga yang menjadi ‘bola karet’-nya.

Bila no 2 yang Anda iya-kan, berarti pertemanan Anda yang Anda jadikan ‘bola karet’nya.

Bila no 3 yang Anda iya-kan, berarti kesehatan Anda yang menjadi ‘bola karet’nya.

Bila no 4 atau 5 yang Anda iya-kan, berarti keimanan Anda yang Anda jadikan ‘bola karet’-nya.

Memilah dan memilih mana yang Anda anggap bola karet dan mana yang bola kaca ini akan memudahkan Anda menentukan sikap mana yang harus dipertahankan mati-matian tidak boleh jatuh,  dan mana yang boleh jatuh bila situasi memaksa. Wa Allahu A’lam.*

 
Oleh: Muhaimin Iqbal
Penulis adalah Direktur Gerai Dinar, kolumnis hidayatullah.com