fiqhislam
basmalah
Pustaka Muslim


26 Ramadhan 1442  |  Sabtu 08 Mei 2021

OPINI: Ketika Mahasiswa Takut Menjadi Sarjana

Fiqhislam.com - Menjadi mahasiswa dan sarjana merupakan impian banyak orang. Pasalnya, sarjana dipandang sebagai orang berilmu dan memiliki masa depan cerah.

OPINI: Ketika Mahasiswa Takut Menjadi SarjanaDengan gelar sarjana, orang akan hormat dan segan kepadanya. Namun, apakah sekarang demikian? ternyata tidak. Dewasa ini masyarakat lebih cenderung hormat pada orang yang “berduit” daripada sarjana.

Pandangan masyarakat terhadap “sarjana” memang berlebihan. Mereka dianggap sebagai orang terdidik yang mampu membawa perubahan di masyarakat. Selain itu, mereka juga dianggap kaum intelektual yang “serba bisa” dalam segala hal. Maka, tak jarang ketika pulang kampung, sarjana dituntut masyarakat untuk berkontribusi dalam berbagai hal.

Miskin Keterampilan

Diakui atau tidak, dewasa ini banyak sekali penganggur terpelajar memprihatinkan. Padahal, mereka mempunyai strata sosial tinggi di masyarakat. Pada kenyataanya, banyak sekali lulusan perguruan tinggi yang tidak memiliki keterampilan. Akibatnya, setelah menjadi sarjana mereka “nganggur” dan bingung mencari pekerjaan. Sungguh ironis sekali fenomena ini.

Menurut penelitian Vocation Education Development Center di Malang Jawa Timur menjelaskan bahwa lulusan perguruan tinggi kebanyakan tidak memiliki keterampilan khusus. Selain itu, mereka hanya mengetahui dan menguasai bidang/ilmu tertentu. Akibatnya, mereka menjadi penganggur terpelajar, begitu lulus mereka hanya mencari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja.

Karena itu, dalam konteks ini pendidikan kewirausahaan harus diajarkan di kampus, baik berupa mata kuliah, pelatihan, dan seminar. Pasalnya, hal ini sangat bermanfaat untuk mempersiapkan masa depan. Jadi, mahasiswa harus memiliki keahlian khusus di luar disiplin ilmunya, sebab setelah lulus dan bekerja, keterampilan tersebut akan menunjang pekerjaannya.

Maka dari itu, tak ayal jika banyak mahasiswa takut cepat lulus dan menjadi sarjana. Pasalnya, gelar “sarjana” melahirkan tanggung jawab besar di masyarakat. Lalu, apakah dengan alasan itu mereka menjadi “mahasiswa abadi” yang betah hidup di kampus sampai belasan semester? tentu hal ini harus diluruskan.

Masih Mencari Kerja

Diakui atau tidak, sebenarnya peluang menciptakan wirausaha di Indonesia terbuka lebar. Namun, kenyataannya di Indonesia pada tahun 2011 jumlah wirausaha masih 0,18%. Angka ini masih jauh dari ideal dengan standar dua persen. Karena itu, peluang tersebut mestinya ditangkap para sarjana untuk menciptakan lapangan kerja. Jumlah wirausaha di Indonesia masih jauh dibandingkan dengan Malaysia dan Korea. Untuk Malaysia mencapai 2,1%, Korea 4%, Singapura mencapai 7,2%, dan Amerika Serikat 11%.

Oleh karena itu, sarjana harus bisa menciptakan lapangan kerja. Pada tahun 2011, 80% sarjana masih sebagai pencari kerja. Lalu, apakah di tahun 2012 ini sarjana akan semakin produktif ataukah menambah angka pengangguran? Hal ini harus direnungkan bersama, baik bagi mahasiswa atau sarjana.

Yang sering terkena getahnya adalah lembaga pendidikan. Ia dianggap tak bisa mencetak lulusan siap pakai. Kualitas para lulusan tidak cocok dengan kebutuhan dunia kerja. Mereka tidak memenuhi standar persyaratan yang ditetapkan bagi rekruitmen tenaga kerja. Padahal, beberapa upaya sudah dilakukan kampus.

Maka dari itu, kampus sebagai pabrik pencetak sarjana harus mengambil langkah cerdas dan strategis. Hal ini sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Bab XIII yang mewajibkan seluruh program studi perguruan tinggi harus terakreditasi. Artinya, dalam konteks ini mutu perguruan tinggi sangat mempengaruhi kualitas lulusannya. Jadi, sudah seharusnya kampus mendongkrak kualitas pendidikannya untuk meminimalisir pengangguran terdidik.

Selain itu, sarjana seharusnya jangan berpuas diri. Mereka harus selalu meningkatkan petensi diri, berkarya, berinovasi, dan terus belajar untuk menambah khazanah keilmuwan mereka. Dengan demikian, setidaknya pengangguran akan terkurangi.

Pentingnya Soft Skill

Soft skill merupakan keterampilan yang tidak bisa diperoleh dalam proses pembelajaran. Salah satu alternatif cara untuk menumbuhkan soft skill adalah dengan aktif berorganisasi. Organisasi sedikit banyak membekali skill yang ada pada diri mahasiswa, karena kampus hanya mengajarkan teori saja. Pada intinya tinggal bagaimana mahasiswa memanfaatkan dan mengolah teori dan mengembangkan kecakapan hidup mereka, karena soft skillsangat menunjang masa depan.Maka, mahasiswa harus cerdas mencari dan mengembangkan soft skill.

Jadi, selain modal ijazah dan gelar “sarjana”, mereka harus memiliki keterampilan dan kecapakan hidup.Pasalnya, dunia kerja tak membutuhkan pelamar yang hanya bermodal ijazah, namun perusahaan menuntut pelamar memiliki soft skill, termasuk kemampuan berbahasa, komunikasi, dan keterampilan lainnya. Pada intinya adalah kemauan dan semangat mahasiswa mengembangkan soft skill, jika hanya mengandalkan ijazah, maka bersiaplah menjadi pengangguran. Wallahu a’lam bissawab.

Oleh Messie Nike Feranita
Mahasiswa Jurusan Fisika Murni FMIPA Unnnes Semarang, Peneliti di HI Study Centre Semarang