21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Satu Inovasi Membutuhkan Seribu ‘Tidak’

Fiqhislam.com - Seorang wirausahawan muda menceritakan pengalamannya. Setelah tiga tahun mengelola kedai kopi, ia mulai memetik hasil lumayan.

Bisnisnya berkembang hingga ia bisa membuka beberapa kedai yang semuanya laris manis. Kemudian datang kepadanya seorang kawan yang mengajaknya berkongsi untuk beternak sapi. Lantaran tertarik, ia pun membuka peternakan. Beberapa bulan kemudian, ada orang lain mengajaknya berdagang kayu. Tergiur oleh potensi keuntungan yang besar, ia pun menuruti ajakan orang tersebut.

Belum lagi setengah tahun bisnis kayu berjalan, ia rugi besar. Uangnya ditilep oleh kongsinya. Musibah ini berimbas pada bisnisnya yang lain. Bisnis kedai kopinya terganggu mengingat dananya tersedot untuk perdagangan kayu yang ternyata malah mendatangkan musibah.

Tapi anak muda ini tidak patah arang. Setelah sempat merasa terpukul, ia pun merenung: “Apa ya yang keliru?” Setelah ngobrol dengan sejumlah pebisnis yang lebih senior, ia pun mengerti. Ia terlampau tergesa-gesa memasuki wilayah-wilayah baru. Mungkin, karena begitu bersemangatnya. Perhatian yang semula terpusat pada upaya membesarkan bisnis kedai kopi kemudian terpecah ke bidang-bidang lain.

Dari pengalaman itu, usahawan muda ini belajar pentingnya untuk fokus, tidak mudah tergoda oleh ajakan memasuki bisnis baru ketika kaki-kaki belum lagi kokoh. Ia juga belajar, kunci agar bisa fokus secara strategis pada satu hal ialah kesanggupan untuk mengatakan ‘tidak’ serta tidak mudah menjawab ‘ya’. Menolak tawaran bisnis yang menggiurkan memang sukar, tapi bila tawaran ini dituruti, fokus bisnis akan menjadi kabur. Akhirnya, ia kembali memusatkan perhatian kepada bisnis kedai kopi saja dan meraih sukses dalam mengembangkan bisnis ini lewat jalur waralaba.

Bagi Warren Buffett, sahabat pendiri Microsoft Bill Gates, yang juga seorang investor global, mengatakan tidak merupakan hal terpenting untuk menjaga fokus. Ia pernah berujar, “Dalam menjalankan bisnis, kata terpenting bagi saya ialah ‘tidak’. Saya duduk sepanjang hari dan melihat proposal-proposal investasi yang sampai ke meja saya, dan saya katakan Tidak, Tidak, Tidak hingga akhirnya saya melihat apa yang saya cari, dan kemudian saya katakan Ya.”

Buffett fokus pada apa yang ia cari, yakni proposal investasi yang benar-benar tepat menurut pertimbangannya. Ia tidak mudah goyah untuk mengatakan, “Ya, saya akan berinvestasi seperti yang disampaikan dalam proposal ini.” Bagi Buffett, kata ‘tidak’ membuatnya terlindung dari kehilangan fokus menemukan proposal terbaik.

Mendiang Steve Jobs, pendiri Apple, juga meletakkan kata ‘tidak’ sebagai cara agar ia menemukan yang terbaik dalam aktivitas inovasinya. Secara hiperbolis ia pernah mengatakan, “Inovasi membutuhkan seribu ‘tidak’.” Di mata anak-buahnya, sangat boleh jadi Steve dianggap orang yang kurang menghargai gagasan orang lain, tapi inilah cara yang menurut Steve tepat untuk menemukan inovasi terbaik.

Kata ‘tidak’ menjadi kata yang ampuh untuk mendapatkan kualitas inovasi seperti standar yang ia tetapkan. Tak heran apabila baik di tingkat gagasan maupun ketika produk sedang digodog oleh berbagai departemen di Apple, produk itu harus bolak-balik antardepartemen untuk akhirnya menjadi produk yang diterima oleh Steve Jobs karena standarnya sudah tercapai.

Betapapun mungkin sukar mengucapkan kata ‘tidak’dan betapa kata ini mungkin kurang enak didengar (tidak mau, tidak suka, tidak enak, tidak menarik, dsb), tapi kata ini punya nilai fungsional yang signifikan. Selain sebagai proteksi agar kita tetap fokus pada jalan yang kita inginkan, juga sebagai cara mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan standar kualitas yang kita tetapkan.  [yy/tempo/foto wordpress.com]

Dian R. Basuki