26 Rabiul-Akhir 1443  |  Rabu 01 Desember 2021

basmalah.png

Aktivis Curiga Kunjungan Dubes AS dan Dubes Inggris ke Papua

Kunjungan Dubes AS dan Inggris ke Papua Diduga Terkait Freeport

Fiqhislam.com - Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) memandang kunjungan Dubes AS Robert Blake dan Dubes Inggris Moazzam Malik ke Papua dalam waktu bersamaan tidak boleh dianggap sebelah mata. Diduga ada agenda terselubung yang dibawa kedua dubes tersebut terkait Freeport.

"Kecurigaan tersebut bukan tanpa alasan. Pasalnya Papua saat ini sedang menjadi sorotan internasional terkait dengan masa depan Freeport di Indonesia. Bisa dikatakan posisi Freeport saat ini sedang mengalami rongrongan yang sangat dahsyat. Tuntutan nasionalisasi terus menggema seiring dengan terkuaknya kasus papa minta saham," ujar Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) Sya'roni dalam siaran persnya, Kamis (21/1/2016).

Kasus yang diinisiasi mantan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Ma'roef Syamsuddin ini, menurut Sya'roni, telah memakan banyak korban. Diawali dari terjungkalnya Setya Novanto dari kursi Ketua DPR dan kemudian secara berturut-turut diikuti pengunduran diri Jim Bob dan Ma'roef Syamsuddin dari posisi strategis di Freeport.

"Dengan memandang begitu strategisnya posisi Freeport bagi AS, maka bisa diduga bahwa kunjungan Dubes AS dan Dubes Inggris masih ada kaitan untuk mengamankan posisi Freeport di Indonesia. AS dan Inggris adalah dua negara yang sangat kuat persekutuannya. Keduanya sudah saling bahu-membahu mengamankan kepentingan satu dengan yang lainnya," bebernya.

Sebab itu, lanjut dia, pemerintah Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan. Tidak boleh lengah sedikit pun. Tidak boleh lagi memanjakan Freeport dengan kebijakan-kebijakan yang terkesan "mengalah". Akibatnya, Freeport makin berani memandang sebelah mata negara Indonesia dengan menawarkan harga yang tidak wajar untuk divestasi sahamnya.

"Dari gelagatnya, Freeport sudah mulai mempersiapkan 'perang terbuka' dengan Indonesia. Jim Bob dan Ma'roef Syamsuddin dianggap bukan lagi prajurit tangguh, sehingga harus diganti dengan petarung yang lebih kuat," tegas Ma'roef.

Dia menambahkan, jika Freeport berani menekan kedua petingginya untuk mengundurkan diri, maka Presiden Jokowi juga seharusnya berani menekan Menteri ESDM Sudirman Said untuk angkat koper dari Kabinet Kerja.

"Agar tidak dijungkalkan oleh Freeport, maka Presiden Jokowi harus secepatnya mengganti Menteri ESDM Sudirman Said. Dapat disimpulkan bahwa Sudirman Said adalah sosok yang lemah ketika menghadapi tekanan-tekanan Freeport. Padahal, saat ini sosok yang dibutuhkan adalah figur yang tidak gentar menghadapi gertakan Freeport, AS beserta sekutunya," tandas Sya'roni. [yy/sindonews]

Aktivis Curiga Kunjungan Dubes AS dan Dubes Inggris ke Papua

Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika) Syaroni mengatakan, kunjungan Dubes AS Robert Blake dan Dubes Inggris Moazzam Malik ke Papua dalam waktu yang hampir bersamaan tidak boleh dianggap sebelah mata.

Menurutnya, kunjungan tersebut patut dicurigai, karena bisa jadi ada agenda terselubung yang dibawa oleh kedua dubes tersebut untuk memuluskan suatu tujuan tertentu. 

Kecurigaan tersebut bukan tanpa alasan. Dia menilai Papua saat ini sedang menjadi sorotan internasional terkait dengan masa depan Freeport di Indonesia. Bagaimana tidak, posisi Freeport saat ini sedang mengalami rongrongan yang sangat dahsyat. Tuntutan nasionalisasi terus menggema seiring dengan terkuaknya kasus "papa minta saham".

Dengan memandang begitu strategisnya posisi Freeport bagi AS, maka bisa diduga bahwa kunjungan Dubes AS dan Dubes Inggris masih ada kaitan untuk mengamankan posisi Freeport di Indonesia. “AS dan Inggris adalah dua negara yang sangat kuat persekutuannya. Keduanya sudah saling bahu-membahu mengamankan kepentingan satu dengan yang lainnya,” kata Syaroni pada siaran pers yang diterima Republika.co.id, Rabu (20/1).

Menurutnya, pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan dan tidak boleh lengah sedikit pun. Tidak boleh lagi memanjakan Freeport dengan kebijakan-kebijakan yang terkesan "mengalah". Akibatnya, Freeport makin berani memandang sebelah mata negara Indonesia dengan menawarkan harga yang tidak wajar untuk divestasi sahamnya.

Syaroni melanjutkan, dari gelagatnya, Freeport sudah mulai mempersiapkan "perang terbuka" dengan Indonesia. Jim Bob dan Ma'roef Syamsuddin dianggap bukan lagi prajurit tangguh, sehingga harus diganti dengan petarung yang lebih kuat.

 “Kalau Freeport berani menekan kedua petingginya untuk mengundurkan diri, maka Presiden Jokowi juga seharusnya berani menekan Menteri ESDM Sudirman Said untuk angkat koper dari Kabinet Kerja,” ucap Syaroni.

Agar tidak dijungkalkan oleh Freeport, maka Presiden Jokowi harus secepatnya mengganti Menteri ESDM Sudirman Said. Dapat disimpulkan bahwa Sudirman Said adalah sosok yang lemah ketika menghadapi tekanan-tekanan Freeport. Padahal, saat ini sosok yang dibutuhkan adalah figur yang tidak gentar menghadapi gertakan Freeport, AS beserta sekutunya. [yy/republika]