19 Rabiul-Awal 1443  |  Senin 25 Oktober 2021

basmalah.png

Pemimpin Sang Raja Terakhir Menolak Disebut Aliran Sesat

Pemimpin Sang Raja Terakhir Menolak Disebut Aliran Sesat

Fiqhislam.com - Kepala Badan Kesatuan Bangsa  Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Cirebon, Tata Kurniasasmita, mendatangi markas Raja Terakhir di Jalan Evakuasi Kota Cirebon, Jumat 26 Februari 2016.

Dalam pertemuan tersebut, pemimpin Sang Raja Terakhir, Sri Baginda Raja Pangeran Muhammad Abdullah Hasanuddin, mengklaim dialah raja terakhir dari raja-raja yang pernah lahir. Menurutnya, gerakan tersebut bukan aliran sesat melainkan sebuah lembaga adat nusantara. “Tidak ada yang menyimpang dari gerakan kita,” kata Abdullah.

Namun, ia mengakui jika gerakannya tersebut untuk menyelamatkan aset nusantara yang ada di luar negeri saat ini. Menurutnya, aset yang ada di luar negeri bisa untuk menyejahterakan masyarakat nusantara. Bahkan, ia juga mengaku sudah mendapatkan mandat langsung dari Raja Mulawarwan yang dibuktikan dengan beberapa surat keputusan dan mandat yang ia miliki.

“Saya diamanatkan oleh Raja Mulawarwan untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia,” kata Abdullah.

Abdullah tidak mengakui mengenai kepemilikan aset sebesar Rp700 triliun seperti yang diceritakan salah satu pengikutnya. Ia juga membantah akan menggaji tukang sapu hingga Rp25 juta per bulan. “Kalau aset yang di luar negeri memang ada, namun bisa diambil atau tidak belum diketahui,” ujar Abdullah.

Kepala Badan Kesatuan Bangsa  Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Cirebon, Tata Kurniasasmita, mengaku masih mendalami dan mengawasi gerakan tersebut. “Selama ini belum ada aktivitas yang mengganggu, tapi kami masih mengawasi dan mendalami gerakan ini,” kata Tata.

Mengaku Punya Aset Rp700 T, Markas Raja Terakhir Masih Ngontrak

Masyarakat Cirebon dihebohkan dengan munculnya aliran baru yang bernama Sang raja Terakhir. Pemimpinnya, Muhammad Abdullah Hasanuddin, mengaku sebagai raja yang bisa menyejahterakan masyarakat nusantara. Dari infromasi yang diperoleh, dalam setiap perekrutan anggota baru, aliran tersebut terus berkoar memiliki aset Rp700 triliun.

Metrotvnews.com menyambangi langsung markas Sang Raja Terakhir bersama Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpolinmas) Kota Cirebon.

Lokasi markas Sang Raja Terakhir berada di Jalan Evakuasi Kota Cirebon. Beberapa petugas keamanan berjaga di bangunan berlantai dua bercat putih itu. Beberapa anggota gerakan tersebut juga terlihat menggunakan pakaian serbahitam dan menggunakan atribut kedaerahan.

Di ruang utamanya terpampang foto sang pimpinan bersama beberapa anggota lainnya yang juga mendapatkan gelar Sri Baginda Raja (SBR). Lukisan dan berbagai ornamen khas keraton banyak terpampang di sudut ruangan. Saat ditanya status kepemilikan bangunan, markas itu ternyata masih mengontrak.

“Infromasi yang saya dapat dari yang bersangkutan, bangunan ini masih ngontrak,” kata Kepala Kesbangpol Kota Cirebon, Tata Kurniasasmita, Jumat (26/2/2016).

Dalam pertemuan tersebut, Hasanuddin mengakui jika gerakan yang dipimpinnya itu adalah untuk menyelamatkan aset nusantara yang ada di luar negeri. “Bentuk asetnya seperti apa, nanti akan dijelaskan oleh pengacara saya pada saat konferensi pers,’ ujar Abdullah.

Aliran Sang Raja Terakhir Gaji Pengikutnya Rp25 Juta

Tawaran menggiurkan diberikan kepada masyarakat yang bersedia bergabung dengan Aliran Sang Raja Terakhir. Bahkan, sang raja menjanjikan gaji fantastis untuk masyarakat yang akan bergabung.

Kusnadi, ketua RW 05 Kebon Kelapa Timur, Kelurahan Kejaksan, Kota Cirebon, Jawa Barat, mendapatkan informasi yang tidak masuk akal itu dari salah satu warganya berinisial MT. MT masuk dalam anggota aliran tersebut dan menceritakan banyak hal tentang gerakan itu.

"Salah satunya tentang gaji yang besar yang akan diberikan kepada para pengikutnya,” kata Kusnadi, ditemui Jumat (26/2/2016).

Sesuai dengan penuturan MT, menurut Kusnadi, raja terakhir akan memberikan gaji hingga Rp25 juta hanya untuk menjadi tukang sapu yang bergabung dalam gerakan tersebut. Bahkan, para pengikut yang tidak ikut beraktivitas pun akan mendapatkan gaji.

“Jadi, kata Pak MT, kalau nanti uang yang Rp700 triliun sudah cair, tukang sapu saja digaji Rp25 juta per bulan. Pengikut yang hanya diam saja di rumah juga bisa mendapat Rp5 juta per bulan,” ujar Kusnadi.

Kusandi mengaku kasihan dengan warganya yang bergabung dengan aliran tersebut karena menurutnya uang dan kekayaan yang dimaksud sangat tidak mungkin untuk direalisasikan. Ia berharap pemerintah segera mengantisipasi gerakan ini agar tidak berkembang.

Sebelumnya diberitakan ada aliran baru di Kota Cirebon yang dinamai Sang Raja terakhir. Aliran ini mengaku memiliki dana hingga Rp700 triliun yang akan dicairkan pada April nanti. Uang tersebut nantinya akan digunakan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia, terutama para pengikutnya. [yy/metrotvnews]