26 Rabiul-Akhir 1443  |  Rabu 01 Desember 2021

basmalah.png

90 Persen Teroris Karena Faktor Persahabatan

90 Persen Teroris Karena Faktor PersahabatanFiqhislam.com - Adik kandung Amrozi, Ali Fauzi mengatakan 90 persen orang yang terjaring dalam lingkaran terorisme dipengaruhi oleh faktor perkawanan, persahabatan dan persaudaraan. 

Ali bahkan menilai, ideologi ekonomi bukanlah menjadi faktor mendasar mereka masuk dalam jaringan teroris.
Ali mengatakan, selama ini mengapa jaringan terorisme sulit untuk diputus, karena para teroris lebih memakai perasaan dan kedekatan emosional.

Prinsip inilah yang sebenarnya menguatkan mereka dan cenderung tak bisa diubah. "Banyak karena faktor persaudaran, persahabatan. Jadi kalau misalkan mereka diiming imingi uang atau pekerjaanpun mereka tidak mudah goyah. Karena solidaritasnya kuat," ujar Ali saat ditemui di LIPI, Kamis (18/2).

Ali sendiri menilai hingga saat ini belum ada obat yang benar benar bisa membuat mereka tobat dan menghentikan aksi terornya. Malah, seiring perjalanan waktu mereka semakin membesar dan merekrut banyak orang jika negara tak segera membuat formula untuk mencegah penyebaran ini. "Episentrum ekstrimis ada di lapas. Karena memang lapas di Indonesia kurang tepat untuk memenjarakan mereka," ujar Ali.

Salah satu penyebrannya menurut Ali bisa melalui penjara. Sebab menurut Ali di penjara juga banyak pelaku kriminal. Para pelaku kriminal ini sangat mudah dipengaruhi dan dilatih untuk menjadi teroris."Dipenjara ini sangat mudah untuk melatih para pelaku kriminal menjadi teroris. Mereka mendapatkan kesempatan untuk menaikan kasta," ujar Ali.

Ali menilai pencampuran napi dalam lapas bisa mengakibatkan munculnya para teroris baru. Mereka bisa saling merekrut dan melakukan pengkaderan melalui lapas.

Radikalisme Lahir Jauh Sebelum Peristiwa 11 September

Peneliti Senior Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Endang Turmudi mengatakan,  Indonesia memiliki organisasi-organisasi yang berpikiran radikal. Mereka punya sikap fundamentalisme, kaku, merasa lebih benar daripada orang lain.

"Radikalisme, sudah mengendap dalam semua segmen masyarakat. Ada segmen pelajar dan masyarakat yang menyerap paham radikal," kata dia, Kamis, (18/2).

Idealisme dalam radikalisme merupakan kewajiban mendirikan negara Islam. "Ide ini wajar saja tapi kalau dilakukan dengan menggunakan kekerasan itu yang menyimpang."

Sebenarnya umat Islam mainstream, terang Endang, mengartikan jihad itu tak selalu berperang dalam sesungguhnya. Namun misalnya berperang menahan hawa nafsu diri sendiri.

Dia menjelaskan, radikalisme itu lahir jauh sebelum peristiwa 11 September di Amerika.  Karto Suwiryo merupakan pemikir radikalisme dari Indonesia. "Bahkan sebelum tahun 90 Candi Borobudur pernah dibom. Pesawat Garuda juga pernah dibajak oleh kaum radikal," ujarnya.

Terorisme, terang Endang, merupakan masalah bersama. Namun bahayanya bersifat lokal, misal pengeboman Sarinah membahayakan warga di sekitar Sarinah."Hal yang harus diwaspadai itu sikap radikalisme yang sudah menghinggapi seluruh masyarakat. Kalau kelompok radikal tak puas dengan negara ini, merasa tak diberikan keadilan oleh nagara maka mereka ada kemungkinan berubah jadi  teroris," ujarnya. [yy/republika]