2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Menjadi Negara Sejahtera

Menjadi Negara Sejahtera

Fiqhislam.com - Dimana harapan kesejahteraan dilabuhkan? Dalam wilayah kehidupan bersama, kita menyalakan imajinasi ruang serta waktu, tentang relasi kesetiakawanan dan kebersamaan layaknya sebuah komunitas, Benedict Anderson, Imagined Communities, 2008.

Pada teritori tersebut, sejahtera menjadi harapan yang menyatukan kepentingan bersama. Pemenuhan hirarki kebutuhan hidup, sebagaimana Abraham Maslow, menyebut tentang basis fisiologis -aspek fisik, hingga fase puncak terkait aktualisasi diri.

Problem utamanya, manusia menyisakan ruang konflik dengan berlaku layaknya serigala bagi manusia lain -homo homini lupus. Situasi itu membuat jargon si vis pacem, para bellum mengemuka, bahwa damai hanya tercipta bila kita selalu bersiap untuk perang.

Era modern menghadirkan realitas fisik yang berubah. Model pembangunan dengan mengedepankan pendekatan perang -warfare, seperti perang dunia, beralih menjadi berorientasi kesejahteraan -welfare. Kondisi kehidupan penduduk menjadi pokok tujuan terpenting dalam konsep bernegara.

Indikator kesejahteraan mulai dikuantifikasi, berdasarkan ukuran yang terkontrol. Simbol nilai dalam angka-angka menjadi representasi dari yang dinamakan sejahtera. Pertumbuhan ekonomi, total pendapatan nasional hingga perkapita menjadi alat ukur baru.

Meski begitu jurang kesenjangan, ketimpangan dan prinsip keadilan kerap tidak terlihat dari angka-angka yang tampil ke publik.

Darrel Huff, dalam buku Berbohong dengan Statistik, 2002, menyatakan bahwa data serta angka statistik kerap bias informasi, bukan hanya kelemahan metodologis pengambilan sampel, juga tentang kekeliruan penyajian kesimpulan karena faktor kepentingan.

Campur Tangan Negara

Berkaitan dengan upaya mewujudkan kesejahteraan, maka peran negara sebagai entitas yang mengelola seluruh legitimasi dan mengkonsentrasikan kekuasaan bagi pencapaian tujuan kehidupan bersama menjadi vital.

Transformasi negara modern yang mengadopsi kehendak kehidupan sejahtera, tidak lagi menjadi negara penjaga malam -nachtwachterstaat, dengan fokus pada keamanan dan ketertiban, melainkan beralih pada upaya pemenuhan hidup yang lebih sejahtera -welfare state.

Dengan begitu, negara dipaksa untuk bisa menghadirkan kehidupan yang lebih baik secara berkeadilan, termasuk menurunkan tingkat ketimpangan, mengurangi jarak kesenjangan, dan menciptakan masyarakat yang makmur.

Daron Acemoglu & James Robinson, pada Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity and Poverty, 2012 diterangkan bahwa pola ekonomi politik yang menggunakan paradigma ekstraktif dengan kecenderungan sentralistik dan berpusat pada kepentingan segelintir pihak.

Pendekatan pembangunan harus diubah dengan memakai perspektif ekonomi politik inklusif, dengan pokok haluan terbesar terletak bagi kepentingan umum sebagai pemilik kedaulatan.

Hanya dengan partisipasi demokratis, maka emansipasi kehendak publik dapat sampai pada sasaran yang diinginkan. Karena kekuasaan perlu diawasi, dikoreksi bahkan direposisi, agar tidak tergelincir menjadi alat serta sarana kepentingan kelompok kecil dengan kekuatan besar.

Merawat Sejahtera

Keseimbangan dari upaya menghadirkan imajinasi akan tujuan kehidupan bersama yang sejahtera, adalah amanat bernegara.

Pembukaan -preambule konstitusi menyebut secara eksplisit tentang mencapai pintu gerbang kemerdekaan yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Sehingga sejahtera adalah totalitas lahir-batin yang tercukupi. Bukan saja termuat dalam ukuran fisik, tetapi sampai pada ruang jiwa.

Maka formula kesejahteraan -welfare mencakup perasaan menjadi jati diri manusia merdeka -well being.

Karena itu pula, proses menjadikan kehidupan sejahtera secara bersama membutuhkan upaya kelembagaan, memastikan sirkulasi aspirasi terjadi, ruang kekuasaan tidak bersifat mutlak, monilitik dan tunggal, melainkan membutuhkan asupan oposisi.

Tanpa itu, pergeseran pemangku kuasa pada tiap tahap peralihan kekuasaan hanya akan memunculkan tangan besi kuasa yang baru, tanpa makna dan tujuan bersama.

Sebagaimana George Orwell, dalam Animal Farm yang menampilkan metafora pemberontakan di kandang babi, yang pada akhirnya menghadirkan si babi penguasa baru, dengan tindak tanduk serta tingkah pola yang tidak berbeda dari penguasa sebelumnya.

Dalam atmosfer kehidupan bersama yang lebih demokratis, maka agenda kesejahteraan menjadi bagian yang terintegrasi.

Dengan itu, makna suara publik yang merupakan titah Tuhan -vox populi vox dei, mewujud bagi kebaikan bersama -bonum commune, dalam bentuk masyarakat yang sejahtera lahir batin, sebagai manusia merdeka. [yy/republika]

Oleh Yudhi Hertanto