24 Rabiul-Akhir 1443  |  Senin 29 Nopember 2021

basmalah.png

AUKUS, Sentralitas ASEAN, dan Keamanan Regional

AUKUS, Sentralitas ASEAN, dan Keamanan Regional

Fiqhislam.com - Pembentukan kerja sama trilateral antara Inggris, Amerika Serikat, dan Australia, yang kemudian disebut AUKUS, ditujukan untuk meningkatkan keamanan dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik. Kerja sama trilateral ini bukan hanya bertujuan membangun kapal selam bertenaga nuklir bagi Australia, namun juga kerja sama dalam peningkatan keamanan siber, kecerdasan buatan, dan juga kerja sama keamanan bawah laut.

Kesepakatan AUKUS kemudian langsung menimbulkan reaksi dari berbagai negara termasuk negara-negara dari kawasan ASEAN. Reaksi yang muncul juga beragam mulai dari ada yang khawatir, mendukung, dan memilih untuk tidak merespons sama sekali. Filipina misalnya menyampaikan dukungannya secara terbuka terhadap AUKUS karena menganggap kerja sama ini meningkatkan keamanan dan kestabilan regional.

Sementara itu, Indonesia dan Malaysia menyampaikan kekhawatiran dan keprihatinan karena hanya akan menambah akselerasi perlombaan senjata di kawasan dan menempatkan kestabilan perdamaian regional dalam bahaya. Vietnam lebih memilih untuk memberikan komentar khusus terhadap adanya kerja sama ini dan mengatakan tetap mengikuti perkembangan di kawasan.

Berbagai reaksi dan pendapat dari negara-negara di ASEAN menggambarkan adanya ketidaksatuan suara dalam konteks regional. Argumen Laura Southgate dalam Diplomat (2021) menyatakan bahwa perbedaan respons terhadap keberadaan AUKUS bahkan memperjelas semakin tidak kohesinya ASEAN dalam mengambil sikap dan suara terhadap perubahan konstelasi keamanan yang berpotensi besar mengancam stabilitas kawasan ASEAN sendiri.

Ancaman

Di tengah respons yang beragam dari negara-negara ASEAN, pemerintah Australia dan Amerika Serikat, melalui pernyataan formal mempertegas bahwa kerja sama ini sama sekali tidak akan memperlemah sentralitas ASEAN dalam usaha pembangunan keamanan dan stabilitas kawasan, terutama di wilayah Indo-Pasifik.

Namun, alih-alih mempertegas peran ASEAN dalam konteks keamanan regional, AUKUS semakin mengesampingkan peran sentralitas ASEAN dalam membangun keamanan di kawasan. Keberadaan AUKUS melengkapi kerangka multilateral yang tidak melibatkan negara-negara ASEAN setelah adanya revitalisasi the Quad.

Kondisi ini menggambarkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak terlalu memperhatikan ASEAN sebagai organisasi regional yang relevan dalam konstruksi keamanan kawasan Indo-Pasifik meskipun berada di wilayah yang kemungkinan akan menjadi jalur lintas dari kapal selam bertenaga nuklir tersebut. Menurut analis James Chin dari University of Tasmania dalam the Conversation (2021), AUKUS semakin mempertegas irelevansi ASEAN terhadap negara-negara Barat dalam konteks keamanan regional di Indo-Pasifik.

Tidak satu suaranya negara-negara di ASEAN dalam menanggapi perubahan konstelasi keamanan di kawasan seperti AUKUS bahkan berpotensi untuk memecah persatuan regional di ASEAN. Di tengah persaingan Amerika Serikat dan China, yang menurut beberapa pengamat sebenarnya menjadi landasan utama adanya kerja sama AUKUS, negara-negara di ASEAN dapat menjadi terbagi menjadi dua kutub. Sebagian semakin dekat ke Amerika Serikat, dan yang lainnya semakin dekat ke China.

Masa Depan

Sentralitas ASEAN harus menjadi perhatian utama apabila negara-negara ASEAN tidak ingin terpecah menjadi dua kubu yang hanya akan mendatangkan disrupsi terhadap pembangunan keamanan di kawasan. Negara-negara anggota ASEAN harus terus memperbesar investasi politik luar negerinya di ASEAN untuk menjaga keamanan.

Jika sikap dan dukungan menjadi terbagi terhadap ekskalasi persaingan China dan Amerika Serikat yang semakin mengerucut, terulangnya peta dan kondisi kawasan Asia Tenggara sebagai arena pertarungan seperti pada saat Perang Dingin akan sangat mungkin terjadi.

Mantan Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa dalam Jakarta Post (2021) menyampaikan bahwa AUKUS, sama seperti usaha revitalisasi the Quad, adalah sebagai pengingat akan ketidaksigapan dan harga yang harus dibayar ASEAN dalam merespon perubahan konstelasi geopolitik di kawasan.

Ketiadaan respons secara kolekif dapat dimaknai bahwa ketidaksatuan suara ASEAN sebagai organisasi regional sangat terlihat dalam merespon keberadaan AUKUS yang dapat mengancam stabilitas dan keamanan regional yang sebagian besar mencakup wilayah ASEAN. Hal sederhana yang dapat dilakukan ASEAN dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan di ASEAN adalah mengeluarkan sikap melalui joint statement ASEAN secara kolektif dalam merespons AUKUS.

Ini menjadi salah satu bukti dalam usaha untuk menjaga sentralitas dan persatuan ASEAN di kawasan. Seluruh kepala negara harus duduk bersama dalam lingkup ASEAN dalam menjawab keraguan terhadap sentralitas ASEAN yang semakin berkembang.

Revitalisasi

Selain memberikan satu suara dalam merespons AUKUS, ASEAN harus dapat menerapkan kebijakan yang lebih konkret dan nyata dalam merespons perubahan konstelasi keamanan yang terjadi di kawasan. ASEAN tidak hanya bisa berhenti pada menyampaikan keprihatianan dan juga kekhawatiran semata kepada implementasi AUKUS.

Revitalisasi sentralitas ASEAN dapat dilakukan melalui pembangunan rasa saling percaya terutama melibatkan negara-negara yang tergabung dalam AUKUS bersama-sama dengan China dan negara utama lainnya dalam membangun rasa saling percaya melalui jalur diplomasi multilateral yang telah dibangun ASEAN untuk membangun keamanan di kawasan.

Jalur diplomasi dan dialog multilateral yang digagas oleh ASEAN melalui ASEAN Regional Forum atau juga East Asia Forum harus dimanfaatkan menjadi forum dalam membangun komunikasi antar berbagai pihak. Reduksi terhadap rasa saling ketidakpercayaan dan potensi miskalkulasi strategi yang bisa saja terjadi dan memicu konflik di kawasan Indo-Pasifik harus diselesaikan secara diplomasi dan ASEAN setidaknya sudah mempunyai modal tersebut. [yy/news.detik]