2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Kritik Keras Menlu Retno di New York Soal AUKUS

Kritik Keras Menlu Retno di New York Soal AUKUS

Fiqhislam.com - Indonesia mencermati dan mengkhawatirkan meningkatnya ketegangan di antara negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik, menyusul pengumuman inisiatif pertahanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat, yang dikenal dengan AUKUS.

“Saya singgung mengenai AUKUS dan keputusan Australia untuk pengadaan kapal selam bertenaga nuklir,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ketika menyampaikan keterangan pers secara virtual dari New York, AS, Rabu.

Melalui kemitraan baru tersebut, Australia akan mendapatkan teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir guna memperkuat angkatan lautnya. Kesepakatan AUKUS dianggap bertujuan untuk menyaingi kekuatan China yang semakin meningkat di kawasan.

Selain itu, kesepakatan baru Australia dengan Inggris dan AS juga telah memicu kemarahan Prancis, yang sebelumnya memiliki perjanjian dengan Australia soal pembelian kapal selam konvensional.

Ketika berbicara pada forum Asia Society yang berlangsung secara virtual pada Selasa (21/9), Menlu Retno mengatakan bahwa Indonesia mencatat komitmen-komitmen yang dinyatakan Australia, termasuk janji negara itu untuk terus menghormati prinsip nonproliferasi dan hukum internasional.

“Tetapi saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection (unjuk kekuatan—red) di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan,” kata Menlu RI.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga memperingatkan tentang meningkatnya ketegangan antara China dan AS.

Ia khawatir persaingan antara kedua negara adidaya tersebut akan membawa dunia menuju menuju dua setelan aturan ekonomi, perdagangan, keuangan, dan teknologi yang berbeda; dua pendekatan yang berbeda dalam pengembangan kecerdasan buatan; dan pada akhirnya dua strategi militer dan geopolitik yang berbeda pula.

"Ini mungkin menjadi bencana. Ini akan jauh lebih sulit diprediksi daripada Perang Dingin," ujar Guterres pada pembukaan Sidang ke-76 Majelis Umum PBB di New York, Selasa. [yy/vivaNews]

 

Kritik Keras Menlu Retno di New York Soal AUKUS

Fiqhislam.com - Indonesia mencermati dan mengkhawatirkan meningkatnya ketegangan di antara negara-negara besar di kawasan Indo-Pasifik, menyusul pengumuman inisiatif pertahanan antara Australia, Inggris, dan Amerika Serikat, yang dikenal dengan AUKUS.

“Saya singgung mengenai AUKUS dan keputusan Australia untuk pengadaan kapal selam bertenaga nuklir,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi ketika menyampaikan keterangan pers secara virtual dari New York, AS, Rabu.

Melalui kemitraan baru tersebut, Australia akan mendapatkan teknologi pembuatan kapal selam bertenaga nuklir guna memperkuat angkatan lautnya. Kesepakatan AUKUS dianggap bertujuan untuk menyaingi kekuatan China yang semakin meningkat di kawasan.

Selain itu, kesepakatan baru Australia dengan Inggris dan AS juga telah memicu kemarahan Prancis, yang sebelumnya memiliki perjanjian dengan Australia soal pembelian kapal selam konvensional.

Ketika berbicara pada forum Asia Society yang berlangsung secara virtual pada Selasa (21/9), Menlu Retno mengatakan bahwa Indonesia mencatat komitmen-komitmen yang dinyatakan Australia, termasuk janji negara itu untuk terus menghormati prinsip nonproliferasi dan hukum internasional.

“Tetapi saya menekankan bahwa yang tidak diinginkan oleh kita semua adalah kemungkinan meningkatnya perlombaan senjata dan power projection (unjuk kekuatan—red) di kawasan, yang tentunya akan dapat mengancam stabilitas keamanan kawasan,” kata Menlu RI.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres juga memperingatkan tentang meningkatnya ketegangan antara China dan AS.

Ia khawatir persaingan antara kedua negara adidaya tersebut akan membawa dunia menuju menuju dua setelan aturan ekonomi, perdagangan, keuangan, dan teknologi yang berbeda; dua pendekatan yang berbeda dalam pengembangan kecerdasan buatan; dan pada akhirnya dua strategi militer dan geopolitik yang berbeda pula.

"Ini mungkin menjadi bencana. Ini akan jauh lebih sulit diprediksi daripada Perang Dingin," ujar Guterres pada pembukaan Sidang ke-76 Majelis Umum PBB di New York, Selasa. [yy/vivaNews]

 

Arogansi AUKUS

Rusia Kritik Keras Arogansi AUKUS AS-Sekutu Unjuk Senjata di Asia


Fiqhislam.com - Pemerintah Rusia mengkritik terbentuknya pakta pertahanan tandingan bikinan Amerika Serikat (AS), Inggris dan Australia di Asia Pasifik yang disebut dengan AUKUS. Kerja sama pertahanan trilateral ini dinilai tak akan membawa dampak positif khususnya bagi negara-negara yang ada di kawasan Asia Pasifik termasuk di kawasan Asia Tenggara.

"Kami sama sekali tidak melihat relevansinya dalam hal memperkuat Asia Pasifik yang damai," kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva melalui konferensi pers via Zoom Meeting pada Rabu, 22 September 2021.

Diketahui AS-Inggris dan Inggris membangun kekuatan keamanan trilateral AUKUS demi menandingi pengaruh China di Asia Pasifik. Konsekuennya, Australia sedang mempersiapkan kapal selam dengan kekuatan nuklir. Hal ini sendiri sudah menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Australia diingatkan atas komitmen mereka tentang non-proliferasi.

Sementara itu Dubes Vorobieva juga menyoroti hal senada. Menurut dia unjuk kekuatan pakta pertahanan dan senjata ini adalah poros eksklusif yang juga belum tentu akan membawa keuntungan bagi negara-negara di kawasan.

"Ini hanya semacam klub eksklusif bagi sejumlah negara. Seharusnya Australia juga mengingat kembali komitmen untuk tidak membangun senjata nuklir apalagi kita semua tahu bagaimana sikap ASEAN yang tidak setuju dengan penggunaan senjata nuklir," lanjut dia.

Oleh karena itu Rusia berharap agar tiga negara kuat tersebut menghormati ASEAN sebagai penghuni sebenarnya kawasan Asia Pasifik dan sebenarnya secara proximity adalah pihak yang paling berkepentingan dengan kedamaian di kawasan.

"Saya kira itu posisi kami yang harus kami sampaikan," kata Dubes Rusia. [yy/vivaNews]

 

 

Tags: AUKUS | Nuklir | Prancis