15 Safar 1443  |  Kamis 23 September 2021

basmalah.png

Kebenaran, Kebohongan dan Jurnalisme

Kebenaran, Kebohongan dan Jurnalisme

Fiqhislam.com - Winston Churchil, perdana menteri legendaris Inggris itu termasuk orang yang percaya, kebenaran mampu mengalahkan kebohongan. Dengan santai Pak Churchill bilang, meskipun kebohongan sudah berlari kencang sementara kebenaran baru mengikat tali sepatunya, tetapi kebenaran akan mengalahkan kebohongan.

Tetapi bagaimana dengan sekarang, kebohongan sudah lari kencang sekali berkendaraan media sosial (medsos) dengan dampak luar biasa sementara kebenaran baru cari toko sepatu? Sialnya, saat mau bayar, baru tahu, dompetnya ketinggalan. Kebenaran tampaknya memang sedang kedodoran, butuh bantuan dan kepedulian banyak orang.

Mengapa kebenaran dapat mengalahkan kebohongan? Menurut budayawan Radhar Panca Dahana (alm), dalam talkshow radio Polemik, Sabtu, 15 Januari 2011, meskipun kebohongan punya speed, tetapi kebenaran memiliki endurance. Kebenaran memiliki tenaga yang tak kenal lelah dalam menutup kebohongan. Jadi, jangan pernah lelah mendorong kebenaran untuk lari menyusul kebohongan.

Kebohongan yang sekarang populer disebut hoaks, dulu perlu waktu sampai kepada seseorang, sekarang dalam hitungan detik menyebar ke ribuan bahkan seantero dunia. Hoaks membuat masyarakat terbelah, pemerintah tak lagi dipercaya, sesama manusia saling curiga dan merontokkan kepercayaan kepada siapa saja, di mana saja, kapan saja.

Penelitian Journal of Personality and Social Psychology mengungkapkan, dalam sehari seseorang dapat melakukan kebohongan satu sampai dua kali. Tetapi menarik pendapat psycolog Prof Hamdi Muluk, suatu hari, sambil makan siang di Warung Daun Jakarta mengungkapkan, seorang psikopat yang suka berbohong, bahkan bangga hasil kebohongannya sukses merugikan orang banyak dan menipu bagian dari hidupnya tetap marah jika dikatakan sebagai pembohong. Tidak ada satu manusia pun di muka bumi ini nyaman dikatakan sebagai pembohong. Basis moralnya runtuh.

Terapi Jurnalisme

Peredaran hoaks di medsos sudah masuk ketegori kondisi darurat dan merepotkan. Contohnya, hoaks seputar Covid-19 di Indonesia yang menambah semakin rumitnya penanganan dan pengendalian virus mematikan ini. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) Indonesia mencatat, dalam sehari tidak kurang 200–250 informasi hoaks di medsos. Pada 2021, sejak Januari sampai awal Juli ada 1.695 isu Covid-19 hoaks ditemukan dan dipastikan terus berlanjut. Hoaks dikemas dengan gaya sangat meyakinkan sehingga penerimanya seakan terhipnotis, tanpa pikir panjang langsung meneruskan pesan secara berantai dan menjadi viral.

Pemerintah tidak diam melawan hoaks dengan melakukan sosialisasi melalui radio, televisi, surat kabar sampai baliho raksasa di pinggir jalan agar masyarakat sadar serta selektif menerima informasi. Namun semua itu belum membuahkan hasil menggembirakan karena hoaks masih berseliweran di medsos.

Persoalan berita bohong di hulu dan hilir tak kunjung berakhir meskipun sudah dilakukan edukasi kepada masyarakat di wilayah tersebut. Banyak pelaku pembuat hoaks diringkus dan diadili, namun hoaks-hoaks baru dan viral muncul kembali. Media jurnalistik sebagai penyampai kebenaran tampak kalah pamor. Medsos sudah bergerak cepat sementara media jurnalistik masih memastikan tali sepatunya terikat dengan benar. Dalam kondisi kebohongan yang membingungkan, peran media jurnalistik sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat mendapatkan kejelasan.

Media jurnalistik harus diakui relatif lamban dibanding medsos, karena sebelum menjadi berita, informasi harus diolah melalui aturan jurnalistik. Informasi yang masuk ke meja redaksi harus diverifikasi dahulu kebenarannya, sehingga membutuhkan waktu untuk disiarkan. Medsos tak peduli dengan aturan. Penerima pesan dari medsos dapat langsung unggah atau share tanpa verifikasi kebenarannya dan tidak jelas siapa bertanggung jawab. Pada media jurnalistik jelas siapa dan dimana pihak bertanggung jawab terhadap berita yang disiarkannya. Polisi harus melacak, mengurai simpul awal penyebaran berita bohong di medsos untuk sampai kepada orang yang bertanggung jawab.

Jurnalisme memiliki aturan dalam menyiarkan berita, seperti tidak menghakimi, azas praduga tak bersalah, menghormati keberimbangan dan yang utama adalah informasi harus diuji dahulu kebenarannya. Sebagai institusi produksi dan penyebaran informasi jurnalisme berpegang pada etika, standar profesional dan tanggung jawab dalam menghasilkan serta menyebarkan informasi. Prinsip inilah yang perlu menjadi budaya atau sistem nilai dalam era digital terkait penyebaran informasi. Meskipun dunia dan interaksi antara publik berubah, tetapi prinsip dasar jurnalisme tak pernah berubah.

Kondisi masyarakat yang terkontaminasi medsos akut perlu segera disadarkan melalui terapi. Ada baiknya jurnalisme diperkenalkan sejak dini sebagai salah satu terapi kepada masyarakat luas agar bijak dalam bermedsos. Dulu ada majalah dinding di sekolah-sekolah yang sekarang berubah bentuk menjadi media on-line melalui kegiatan ini pengenalan jurnalistik bisa lebih ditekankan.

Sayangnya, media sekolah sering tidak menarik sehingga siswa lebih banyak terhubung dengan media sosial, apakah itu Facebook, WhatsApp, Twitter dan sebagainya. Anak hidup dalam era informasi instan tetapi tidak banyak mendapat pendidikan, bagaimana berkomentar di media dengan baik. Jurnalisme membantu mereka menuliskan komentar positif dalam blog sekaligus belajar bertanggung jawab atas media yang dikelolanya.

Pelajaran atau pengenalan jurnalistik di sekolah kepada siswa dapat disisipkan dalam mata pelajaran yang sudah ada, seperti Pendidikan Informatika maupun Bahasa Indonesia. Selain melalui pelajaran ekstra kulikuler media massa yang sudah dilakukan sejumlah sekolah. Kerja sama antara sekolah dengan lembaga pers atau media jurnalistik dan Dewan Pers dapat dilakukan sebagai penguatan materinya. Intinya, jangan sampai menebar kebohongan kemudian hari menjadi budaya. [yy/sindonews]