2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Update Covid-19 Indonesia 27-Juli-2021: Positif 3.239.936, 2.596.820 Sembuh, 86.835 Meninggal

Update Covid-19 Indonesia 27-Juli-2021: Positif 3.239.936, 2.596.820 Sembuh, 86.835 Meninggal

Fiqhislam.com - Kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia bertambah 45.203 kasus pada Selasa (27/7/2021). Secara keseluruhan, kasus positif Covid-19 hingga saat ini mencapai 3.239.936.

Hal itu sebagaimana data yang dilihat di situs Kemenkes RI.

Pada hari ini kasus sembuh bertambah 47.128. Sebanyak 2.596.820 orang telah sembuh dari Covid-19 sejak awal pandemi.

Kasus kematian terkait Covid-19 tercatat sebanyak 2.069. Total 86.835 orang meninggal terkait Covid-19 hingga saat ini.

Sebelumnya, pada Senin (26/7/2021), kasus positif bertambah 28.228 sehingga total menjadi 3.194.733. Pasien sembuh bertambah 40.374 sehingga menjadi 2.549.692. Korban meninggal bertambah 1.487 sehingga menjadi 84.766.

Sementara itu, kasus aktif sebanyak 560.275 dan suspek mencapai 287.987 orang. [yy/okezone]

 

Update Covid-19 Indonesia 27-Juli-2021: Positif 3.239.936, 2.596.820 Sembuh, 86.835 Meninggal

Fiqhislam.com - Kasus virus corona (Covid-19) di Indonesia bertambah 45.203 kasus pada Selasa (27/7/2021). Secara keseluruhan, kasus positif Covid-19 hingga saat ini mencapai 3.239.936.

Hal itu sebagaimana data yang dilihat di situs Kemenkes RI.

Pada hari ini kasus sembuh bertambah 47.128. Sebanyak 2.596.820 orang telah sembuh dari Covid-19 sejak awal pandemi.

Kasus kematian terkait Covid-19 tercatat sebanyak 2.069. Total 86.835 orang meninggal terkait Covid-19 hingga saat ini.

Sebelumnya, pada Senin (26/7/2021), kasus positif bertambah 28.228 sehingga total menjadi 3.194.733. Pasien sembuh bertambah 40.374 sehingga menjadi 2.549.692. Korban meninggal bertambah 1.487 sehingga menjadi 84.766.

Sementara itu, kasus aktif sebanyak 560.275 dan suspek mencapai 287.987 orang. [yy/okezone]

 

Dunia Habiskan Rp159,5 Kuadriliun

Lawan Dampak Corona, Dunia Habiskan Rp159,5 Kuadriliun


Fiqhislam.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani mengungkapkan sudah 18 bulan seluruh dunia menghadapi pandemi Covid-19 . Seluruh negara di dunia mengerahkan segala daya dan upaya untuk menyelamatkan nyawa manusia dari krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi.

"Kita sudah 18 bulan menghadapi dampak pandemi Covid-19 baik dari sisi ekonomi hingga ancaman jiwa yang sangat besar," kata Sri Mulyani melalui video virtual, Selasa (27/7/2021).

Guna melawan dampak corona, kata dia, dunia telah menghabiskan alokasi anggaran sebesar USD11 triliun atau setara Rp159,5 kuadriliun (asumsi kurs Rp 14.500). Dampak merusak segala lini dari efek pandemi telah diidentifikasi dalam pertemuan G20. "Pandemi membuat dunia menggelontorkan USD11 triluun untuk melindungi rakyatnya dari Covid-19," ungkap dia.

Tak hanya itu, kebijakan moneter dan seluruh regulasi keuangan dikerahkan dalam upaya melindungi masyarakat dari ancaman pandemi Covid-19. Begitu juga dunia usaha dan perekonomian agar tetap bisa bertahan segera kembali pulih. "Covid-19 merupakan tantangam global karena tidak ada satu negara yang bisa lari, dan virusnya cepat menjalar hingga bermutasi," kata dia. [yy/sindonews]

 

Kombinasi Vaksin AstraZeneca dan Pfizer

Kombinasi Vaksin AstraZeneca dan Pfizer Buat Antibodi Naik 6 Kali Lipat?


Fiqhislam.com - Pemerintah Indonesia berencana untuk memberikan vaksin Covid-19 ketiga untuk para tenaga kesehatan. Adapun vaksin yang digunakan sebagai suntikan ketiga adalah moderna.

Tapi, pemberian vaksin ketiga ini menjadi polemik. Bukan karena dosis ketiganya, tapi karena vaksin yang digunakan berbeda dengan vaksin sebelumnya.

Meski begitu, sebuah studi di Korea Selatan membuktikan bahwa melakukan penyuntikan vaksin dengan merek yang berbeda masih aman dilakukan. Bahkan, kombinasi vaksin tersebut menunjukkan adanya peningkatan antibodi.

Pada dosis pertama AstraZeneca dengan vaksin Pfizer sebagai dosis kedua menunjukkan hasil peningkatan level antibodi, sebanyak enam kali lipat dibandingkan dengan vaksinasi dua dosis AstraZeneca, mengutip Reuters, Selasa (27/7/2021).

Penelitian ini sendiri digelar dengan melibatkan sebanyak 499 orang pekerja medis. 100 orang di antaranya menerima vaksin campuran, 200 orang lainnya disuntik vaksin Pfizer/BioNTech dan sisanya divaksinasi dengan dua dosis vaksin Covid-19 dari AstraZeneca.

Semua kelompok memperlihatkan antibodi penetralisir, artinya yang mencegah virus memasuki sel tubuh dan bereplika. Hasil dari vaksin campur ini menunjukkan jumlah antibodi penetral yang sama dengan yang ditemukan pada kelompok peserta yang menerima dua dosis vaksin Pfizer.

Sebelumnya, studi penelitian di Inggris pada Juni lalu juga kurang lebih menunjukkan hasil yang serupa. Dosis pertama menggunakan AstraZeneca lalu diikuti oleh Pfizer menghasilkan respons sel T terbaik dan respons antibodi yang lebih tinggi daripada jika divaksin menggunakan vaksin Pfizer sebagai dosis pertama dan baru vaksin AstraZeneca sebagai dosis kedua.

Dari keterangan Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Korea (KDCA), studi penelitian di Korea Selatan tersebut juga menganalisis aktivitas penetralan terhadap berbagai mutasi varian virus yang ssaat ini tengah jadi perhatian.

Ternyata, didapati tidak satu pun kelompok peserta yang menunjukkan adanya aktivitas penetralan yang berkurang terhadap varian Alpha. Namun titer netralisasi menurun 2,5 hingga 6 kali lipat terhadap varian Beta, Gamma dan Delta. [yy/okezone]