30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Pemikiran Sosialisme Demokrasi Mohammad Hatta

Pemikiran Sosialisme Demokrasi Mohammad Hatta

Fiqhislam.com - Paham Sosialisme merupakan salah satu paham yang cukup mendapat perhatian terutama dalam dunia perpolitikan dunia, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Paham sosialisme yang dikembangkan di Indonesia pada dasarnya berasal dari tokoh-tokoh pendiri bangsa Indonesia ( Fouding Fathers ) salah satunya adalah Moh. Hatta.

Sebelum membahas lebih lanjut, saya akan memulai dengan definisi, arti, dan apa yang dituju oleh paham sosialisme ini. Terlebih corak sosialisme yang ada di Indonesia sejatinya sedikit banyak berbeda dengan sosialisme dalam artian kontekstual itu sendiri yang lahir di Eropa pada abad ke- 19.

Sosialisme dalam artian umum didefinisikan sebagai suatu paham yang menuntut adanya kepemilikan bersama yang berarti penghapusan kepemilikan individu, kesamaan seluruh lapisan masyarakat di muka umum, kesetaraan hak hak individu, dan kebersamaan. Pada dasarnya dalam mendefinisikan sosialisme cukup sulit, hal tersebut sejalan dengan pendapat Ian Adams dalam buku Ideologi Politik Mutakhir , di mana ia menuliskan bahwa sosialisme merupakan ideologi yang sulit untuk didefinisikan ( Adams, 1993 : 157 ).

Saya sendiri mengakui bahwa paham sosialisme cukup sulit di didefinisikan secara pasti, hal tersebut dikarenakan sosialisme yang diterapkan kadang kala memiliki perbedaan penafsiran dari satu tokoh dengan tokoh lain dan dari satu negara dengan negara lain. Akan tetapi, sosialisme sendiri memiliki dua penafsiran, pertama ialah sosialisme secara halus yang kebanyakan digunakan di Jerman dan Inggris pada periode abad ke-19 dalam usaha melawan dominasi liberalisme kapitalisme antara kelas pekerja dengan pemilik modal atau industri dan kedua adalah sosialisme keras yang merujuk pada suatu revolusi kelas yang kebanyakan hal ini disebut komunisme atau sosialis Marxis.

Menarik untuk dibahas lebih lanjut bagaimana sosialisme yang diaplikasikan di Indonesia memiliki sedikit banyak perbedaan dengan apa yang telah saya sebutkan di atas. Merujuk pada definisi dari Herbert Felth dan Lance Castle dalam bukunya Pemikiran Politik Indonesia 1945 1965 mengenai Sosialisme Demokrat.1

Dapat saya pahami sosialisme demokrat adalah paham sosialisme yang berlandaskan kerakyatan, keterbukaan, dan kebebasan individu atau dalam definisi yang lebih komperhensif didefinisikan sebagai paham yang menginginkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dengan cara menghilangkan jurang kesenjangan kelas sosial sebagai upaya terciptanya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Setelah kita membahas mengenai apa itu sosialisme dan sosialisme ala Indonesia ( sosialisme demokrat ) maka selanjutnya kita akan membahas pemikiran Hatta akan sosialisme. Sebelumnya Hatta mendapat pengaruh Sosialisme pada saat ia bersekolah di Negeri Belanda. Hatta banyak melihat Fabian Society di Inggris di mana paham sosialisme dijadikan dasar dalam menyelesaikan permasalahan permasalahan sosial yang ada. Paham sosialisme menurut Hatta adalah kolektivitas masyarakat Indonesia yang terdiri atas berbagai suku dan bangsa serta berlandaskan gotong royong.

Kita akan melihat bagaimana pemikiran sosialisme dari Hatta ini diterapkan dalam kebijaksanaannya di kancah perpolitikan Indonesia pasca kemerdekaan, khususnya perihal masalah disintegrasi yang pada waktu itu masih menjadi hambatan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

Bangsa Indonesia awal kelahirannya mengalami berbagai hambatan dan tantangan. Polemik pertama dalam permasalahan Bangsa Indonesia di awal kemerdekaan adalah dibentuknya partai tunggal dan diresmikannya KNIP sebagai lembaga legislatif. Pada awalnya sidang PPKI memutuskan untuk mengesahkan Partai Nasional Indonesia ( PNI ) sebagai satu satunya partai resmi. PNI sendiri merupakan salah satu partai yang didirikan dan dibangun oleh Soekarno pada periode Pergerakan Nasional. Tentunya dengan PNI menjadi satu satunya partai menimbulkan kosekuensi tersendiri yang dianggap Hatta akan menimbulkan pemerintahan yang totaliter di bawah pengaruh kekuasaan Soekarno yang pada saat itu menjabat sebagai Presiden.

Untuk mencegah adanya partai tunggal yang dilihatnya sebagai satu hal yang tidak merepresentasikan keberagaman budaya, agama, suku, dan aliran politik. Oleh karena itu, Hatta mengeluarkan Maklumat Wakil Presiden No. X pada 3 November 1950 yang berisi perintah untuk membentuk partai politik di Indonesia. Usaha Hatta mencegah timbulnya rezim yang bergerak dengan kehendak sendiri itulah yang merupakan bentuk dan cerminan dari paham Hatta mengenai Sosialisme Demokrasi di Indonesia. Maka pertanyaan yang muncul apa itu Sosialisme Demokrasi dan sejauh mana Sosialisme Demokrasi ini diterapkan di Indonesia dalam upaya mencegah disintegrasi bangsa.

Sosialisme Demokrasi pada dasarnya paham sosialisme kerakyatan. Artinya adalah segala bentuk tindak tanduk yang dilakukan oleh negara haruslah bersumber pada rakyat. Sosialisme Demokrasi diterapkan oleh Hatta dalam kita aspek umum, yaitu Demokrasi Ekonomi, Demokrasi Politik, dan Demokrasi Sosial. Pemahaman lebih lanjut mengenai macam Demokrasi Ekonomi tersebut diucapkan oleh Moh. Hatta pada kutipan pidato ketika menerima gelar doktor kehormatan dari Universitas Gadjah Mada pada 27 November 1956. Dalam kutipan pidato tersebut Hatta menekankan bahwa kemerdekaan Indonesia haruslah mencangkup pada tiga demokrasi yaitu politik, ekonomi, dan sosial.

Demokrasi ekonomi yang Hatta katakan ialah mencegah masuknya sistem kapitalisme barat dalam industri di Indonesia, karena Kapitalisme justru akan menimbulkan jurang pemisah antara pemilik modal dengan kaum serta akan terjadi sistem perekonomian individualis yang tentunya tidak sesuai dengan nilai nilai Bangsa Indonesia yang menekankan pada kolektivitas antar individu.

Kedua adalah demokrasi politik yang menekankan pada persatuan dan kesatuan nasional. Hatta berpendapat bahwa Dewan Perwakilan Rakyat tidaklah mungkin menggunakan mufakat sebagai upaya menentukan suatu keputusan. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari sistem politik yang berasal dari Barat. Terakhir adalah demokrasi sosial, Hatta menganggap bahwa demokrasi sosial merupakan gabungan dari demokrasi ekonomi dan politik. Demokrasi sosial lahir dari masyarakat desa dengan sifat gotong royong, peri kemanusiaan, dan hak asasi manusia.

Sayangnya, pemikiran Hatta mengenai sosialisme demokrasi ini kurang mendapat pengaruh dan tempatnya secara langsung terhadap masyarakat Indonesia. Hal tersebut dikarenakan Moh. Hatta tidak pernah menyebutkan secara langsung aliran politik mana yang ia anut selama masa hidupnya. Akan tetapi, nilai-nilai yang terkandung dalam pemikirannya sangat merepresentasikan Hatta sebagai tokoh sosialis yang memiliki kecintaan yang tinggi terhadap rakyatnya dan menjunjung tinggi nilai nilai kemanusiaan. [yy/republika]

Oleh Ikhsan alfahri