14 Jumadil-Akhir 1443  |  Senin 17 Januari 2022

basmalah.png

BERITA NASIONAL

Update Covid-19 Indonesia 30-Juni-2021: 2.178.272 Positif, 1.880.413 Sembuh, 58.491 Meninggal

Update Covid-19 Indonesia 30-Juni-2021: 2.178.272 Positif, 1.880.413 Sembuh, 58.491 Meninggal

Fiqhislam.com - Kasus positif COVID-19 harian di Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan data update corona , pada hari ini penambahannya mencapai 21.807 kasus. Ini berarti akumulasinya kini sebanyak 2.178.272 kasus COVID-19 di Tanah Air. Saat ini kasus Covid-19 tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Penambahan kasus COVID-19 hari ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 142.731 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat 10.807 orang. Sehingga total sebanyak 1.880.413 orang sembuh.

Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 467 atau menjadi 58.491 orang. Adapun jumlah suspek Covid-19 kini sebanyak 130.443 orang. Dan kasus aktif sebanyak 239.368 orang.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/ . [yy/sindonews]

 

Update Covid-19 Indonesia 30-Juni-2021: 2.178.272 Positif, 1.880.413 Sembuh, 58.491 Meninggal

Fiqhislam.com - Kasus positif COVID-19 harian di Indonesia masih sangat tinggi. Berdasarkan data update corona , pada hari ini penambahannya mencapai 21.807 kasus. Ini berarti akumulasinya kini sebanyak 2.178.272 kasus COVID-19 di Tanah Air. Saat ini kasus Covid-19 tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi.

Penambahan kasus COVID-19 hari ini merupakan hasil tracing melalui pemeriksaan sebanyak 142.731 spesimen yang dilakukan dengan metode real time polymerase chain reaction (PCR) dan tes cepat molekuler (TCM).

Selain itu, juga dilaporkan kasus yang sembuh dari Covid-19 pada hari ini tercatat 10.807 orang. Sehingga total sebanyak 1.880.413 orang sembuh.

Sementara jumlah yang meninggal kembali bertambah 467 atau menjadi 58.491 orang. Adapun jumlah suspek Covid-19 kini sebanyak 130.443 orang. Dan kasus aktif sebanyak 239.368 orang.

Data penambahan kasus positif Covid-19 di Indonesia ini dipublikasikan oleh Satuan Tugas Penanganan Covid-19 di https://www.covid19.go.id dan laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui laman https://www.kemkes.go.id/ . [yy/sindonews]

 

Satgas: Kenaikan Kasus Capai 381%

Gelombang Kedua Covid-19, Satgas: Kenaikan Kasus Capai 381%


Fiqhislam.com - Gelombang kedua Covid-19 telah menghantam Indonesia. Tercatat minggu lalu tepatnya pada 27 Juni 2021, Indonesia mencatatkan angka kasus positif harian yang sangat tinggi, bahkan mencetak rekor baru yaitu kasus harian tertinggi selama pandemi, bertambah 21.345 kasus dalam satu hari.

Bahkan, kasus ini lebih tinggi dari puncak kasus yang terjadi pada Bulan Januari 2021. Pada puncak yang pertama di Januari 2021, jumlah kasus mingguan mencapai 89.902 kasus, sedangkan pada minggu ini angkanya jauh lebih tinggi, yaitu mencapai 125.396 kasus.

“Hal ini menandakan second wave atau gelombang kedua kenaikan kasus Covid di Indonesia,” jelas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam keterangan yang diterima, Rabu (30/6/2021).

Wiku juga mengungkapkan bahwa pada puncak kasus pertama, kenaikan dari titik kasus terendah sebesar 283% dan memuncak dalam waktu 13 minggu. Sedangkan pada puncak kedua ini, kenaikan dari titik kasus terendah mencapai 381% atau hampir 5 kali lipatnya dan mencapai puncak dalam waktu 6 minggu.

Padahal, Indonesia sempat mengalami penurunan kasus sejak puncak pertama yaitu selama 15 minggu dengan total penurunan hingga 244%.

“Kenaikan yang mulai terjadi satu minggu pasca periode libur lebaran menunjukkan dampak yang ditimbulkan akibat libur panjang ternyata dapat terjadi sangat cepat. Awalnya kenaikan terlihat normal dan tidak terlalu signifikan. Namun, memasuki minggu ke-4 pasca periode libur kenaikan meningkat tajam dan berlangsung selama tiga minggu hingga mencapai puncak kedua di minggu terakhir,” papar Wiku.

Masih adanya masyarakat yang mudik di saat peniadaan telah diberlakukan serta arus balik 1-2 minggu pasca Idul Fitri ini berdampak pada kenaikan kasus yang tinggi. Selain itu, hal ini juga dapat disebabkan munculnya beberapa varian Covid-19 baru yang telah masuk ke Indonesia diperparah dengan mobilitas yang tinggi.

Kondisi-kondisi ini menyebabkan dampak periode libur terlihat hingga minggu ke-6 dan kemungkinan masih akan terlihat hingga minggu ke-8.

Keberhasilan pengendalian dari lonjakan kasus ini, menurut Wiku kembali pada kesiapan masing-masing daerah dalam menyusun dan menjalankan strategi penanganan terbaik di wilayahnya.

“Dengan demikian, lonjakan kasus yang terjadi dapat segera ditekan dan dikendalikan sehingga mengurangi beban pada fasilitas, sistem, dan tenaga kesehatan,” katanya. [yy/okezone]

 

PPKM Darurat

Jokowi Pastikan PPKM Darurat untuk Jawa-Bali


Fiqhislam.com - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebutkan pemerintah memutuskan untuk memberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Langkah ini, kata dia, diambil sebagai respons atas lonjakan Covid-19 yang sangat tinggi dalam 1,5 bulan terakhir.

Hanya saja, Presiden Jokowi belum menyebutkan mulai kapan PPKM darurat ini mulai berlaku. Kebijakan ini disebut masih dalam tahap finalisasi di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

"Kita melihat karena lonjakan yang sangat tinggi untuk memutuskan diberlakukannya PPKM darurat. Tidak tahu keputusannya apakah seminggu atau dua minggu karena petanya sudah kita ketahui semuanya," kata Presiden Jokowi dalam sambutannya dalam Munas VIII Kadin di Kendari, Sulawesi Tenggara, Rabu (30/6).

PPKM darurat yang berlaku selama 1-2 pekan ini, kata Jokowi, hanya akan berlaku di Pulau Jawa dan Bali. Alasannya, di dua pulau ini terdapat 44 kabupaten/kota dan 6 provinsi yang asesmen situasinya memiliki skor 4.

Penilaian ini didapat dari situasi penularan kasus, tingkat keterisian tempat tidur di RS, tingkat kematian akibat Covid-19, dan respons terhadap testing, tracing, serta treatment di wilayah tersebut. "Kita adakan penilaian secara detail yang ini harus ada treatment khusus sesuai dengan yang ada di indikator laju penularan oleh WHO," ujar Jokowi.

Presiden pun memberi contoh kasus di Jakarta Barat, DKI Jakarta. Dari peta penularan Covid-19 yang terlihat bahwa sebarannya sudah merata. Dengan kondisi ini, kata Jokowi, pemerintah perlu mengambil keputusan cepat dan tegas untuk menekan penularan. [yy/republika]

 

Nakes Terus Bertumbangan

Nakes Terus Bertumbangan


Fiqhislam.com - Tenaga kesehatan (nakes) di berbagai daerah terus bertumbangan terpapar Covid-19 meski telah menerima dua dosis vaksin. Jumlah sumber daya untuk penanganan Covid-19 menjadi kian terbatas. Berbagai pihak menyerukan ada upaya luar biasa untuk menghentikan laju penularan yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Nakes di DI Yogyakarta yang menangani pasien Covid-19 terus berkurang jumlahnya dalam dua pekan terakhir karena ikut terpapar. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes DIY, Yuli Kusumastuti mengatakan, rumah sakit harus mencari jalan keluar untuk mencukupi kebutuhan nakes agar pelayanan berjalan dengan baik.

“SDM (sumber daya manusia) yang terbatas kemudian ditambah beberapa terkonfirmasi, sesuai prosedur (menjalani) isolasi mandiri dan ini yang semakin memperberat (beban nakes),” kata dia dalam konferensi virtual, Senin (28/6).

Dari 27 rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 yang ada di DIY, seluruhnya sudah pernah melaporkan bahwa ada nakes yang terpapar Covid-19. Dia menyebut, sekitar 40 sampai 45 nakes terkonfirmasi positif di RSUD Kota Yogyakarta. “Ini cukup mengganggu stabilitas pelayanan,” ujar Yuli.

Di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta setidaknya sudah 20 persen SDM-nya yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sebagian besar SDM yang terkonfirmasi merupakan perawat dan dokter yang menangani langsung pasien Covid-19.

Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah, Mohammad Komarudin mengatakan, penambahan kapasitas bed penanganan Covid-19 bisa saja ditambah. Namun, penambahan kapasitas ini tetap harus mempertimbangkan kemampuan SDM yang ada.

“Dokter jaga IGD setelah (jumlahnya) berkurang, kemarin tujuh dokter (juga terpapar) dan dokter lain sudah bergejala, sudah melakukan isolasi mandiri. Ruangan masih bisa bisa manfaatkan, tapi sekali lagi SDM sangat terbatas,” ujar dia.

RS Panti Rapih juga mengeluhkan hal yang sama. SDM yang terpapar Covid-19 sudah mencapai 31 orang sejak Mei hingga Juni 2021 ini. SDM ini terdiri dari enam dokter, petugas administrasi dan perawat.

RSUP Dr Sardjito Yogyakarta juga melaporkan ada 204 SDM-nya yang terpapar Covid-19. Saat ini, 185 SDM melakukan isolasi mandiri, 15 SDM isolasi di tempat yang sudah disediakan Sardjito dan empat SDM lainnya tengah mendapatkan perawatan intensif karena positif dengan kondisi yang berat.

“Ada peningkatan (SDM yang terpapar) di Februari sampai Mei, rata-rata terpapar sebulan 30-an orang,” kata Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Rukmono Siswishanto.

Di Puskesmas I Purwokerto Timur, Jawa Tengah, sebagian besar karyawannya terpapar Covid 19. Menyusul kejadian itu, Puskesmas Purwokerto Timur ditutup sementara selama sepekan hingga 5 Juli 2021.

“Dari 40 karyawan dan nakes yang bertugas di puskesmas tersebut, ada 32 orang yang terpapar Covid-19,” kata Bupati Purwokerto, Achmad Husein. Tidak hanya dokter dan perawatnya, tenaga staf puskesmas lainnya juga terkonfirmasi positif Covid-19.

Sebanyak 55 nakes di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung terkonfirmasi positif Covid-19. Direktur RSKIA, Taat Tagore menuturkan, jumlah nakes yang terpapar Covid-19 merangkak naik signifikan sejak dua pekan lalu hingga akhirnya mencapai 55 orang. “Mulai naik dua pekan lalu. Nambah terus,” ujar dia.

Sementara di Bogor, Jawa Barat, sebanyak 336 nakes dinyatakan positif Covid-19. Sebagian besar kesehariannya, mereka bertugas menangani pasien Covid-19. Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto mengatakan, ratusan kasus tersebut merupakan kasus aktif. “Dan presentasenya terus naik,” kata Bima Arya.

Bima Arya mengatakan, sebagian besar nakes terpapar dari rumah sakit dan keluarganya. Agar rumah sakit tidak lumpuh karena banyaknya nakes yang terpapar, kata Bima, pemerintah harus melakukan langkah pencegahan Covid-19 yang lebih strategis.

“Ini artinya mungkin saat ini masih bisa, tapi kalau tidak ada langkah-langkah yang lebih strategis lagi, maka rumah sakit kita bisa lumpuh. Itu yang sangat kita khawatirkan,” ujar dia.

‘Sudah Nyaris Melampaui Kapasitas Kita Semua’

Laju kenaikan kasus aktif masih berlanjut dan semakin mengkhawatirkan. Pada Senin (28/6), Satgas Penanganan Covid-19 melaporkan ada tambahan 10.791 kasus aktif baru, sehingga jumlah kasus aktif Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 218.476 orang. Kenaikan kasus aktif, selalu berbanding lurus dengan beban nakes.

Ahli epidemiologi hingga kepala daerah pun menyerukan adanya kebijakan luar biasa untuk menghentikan laju penularan yang kian tak terkendali ini. Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, mengusulkan agar gedung perkantoran perlu tutup untuk sementara dan mempekerjakan para pegawainya dari rumah.

“Tidak PSBB (pembatasan sosial berskala besar) tidak apa-apa. Asal gedung perkantoran ditutup sampai dua pekan dalam kondisi seperti ini. Kan bisa semua pakai digital di rumah. Yang ke kantor kalau bisa hanya satu persen, itu juga kalau ada yang urgent,” kata dia saat dihubungi Republika, Senin (28/6).

Menurut Dicky, masa kritis ini masih panjang, bahkan bisa sampai akhir Juli. Dia mengimbau semua orang untuk mengurangi kegiatan di luar rumah. “Kalau semua taat akan makin cepat kasus ini menurun,” kata dia.

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengusulkan pemerintah pusat agar kembali menerapkan pembatasan ketat di wilayah Jabodetabek seperti pada PSBB tahap pertama. “Situasi Covid-19 sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah nyaris melampaui kapasitas kita semua untuk menangani,” ujar dia.

Dia menilai, pemerintah pusat harus berani mengambil langkah-langkah kebijakan yang lebih ketat. Mungkin tidak dipukul rata secara nasional, kata dia, tapi bisa diberlakukan sesuai dengan kedaruratan di wilayahnya. Di sisi lain, kata Bima, nakes terus bertumbangan.

Sementara di sisi lain, kebijakan reaktif, insidental, seperti pelarangan mudik, pembatasan mobilitas, realitanya memang sulit dijalankan dengan maksimal di lapangan. “Jadi PPKM yang kita terapkan sekarang ini terlihat belum maksimal untuk mengatasi persoalan yang semakin berat,” ujar Bima. [yy/republika]

 

1 dari 8 Orang yang Terpapar Covid-19 adalah Anak-Anak

1 dari 8 Orang yang Terpapar Covid-19 adalah Anak-Anak


Fiqhislam.com - Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Aman Pulungan, mengatakan sebanyak 12,6 persen penularan SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 di sejumlah daerah dialami kelompok usia anak.

"Data nasional menunjukkan, kasus anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada rentang usia 0 hingga 18 berjumlah 12,6 persen," ujarnaya saat dikonfirmasi di Jakarta, Selasa (29/6).

Aman mengatakan dari delapan orang yang terpapar Covid-19, satu di antaranya berasal dari kelompok usia anak. Bahkan saat ini, anak juga masuk dalam kriteria risiko kematian akibat Covid-19.

Aman mengatakan, anak bisa sakit dan meninggal karena Covid-19, tergantung pada komorbid yang mereka alami. "Komorbid ini bisa terjadi pada siapa saja, mau balita dan remaja juga ada komorbidnya, seperti obesitas, TBC, hipertensi dan sebagainya," ujarnya.

Atas latar belakang tersebut, IDAI merekomendasikan agar 10 persen persen populasi anak perlu mendapatkan vaksin Covid-19. "Satu dari 83 kematian akibat Covid-19 adalah anak Indonesia. Ini perlu jadi perhatian dan kewaspadaan pada orang tidak bergejala agar isolasi mandiri. Namun dengan komorbid dan terinfeksi butuh konsultasi ke fasilitas kesehatan agar tidak jatuh pada kondisi berat," ujarnya.

Dia menyebut, kelompok anak juga berkontribusi pada penularan bagi keluarga mereka. "Saya sampaikan, semua kegiatan anak usia 0 hingga 18 tahun agar diselenggarakan secara daring, hindari anak keluar rumah, ajarkan disiplin protokol kesehatan, imunisasi anak harus dipenuhi dan Air Susu Ibu (ASI) harus tetap digalakkan," katanya.

IDAI mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menjadikan kelompok anak usia 12 hingga 17 tahun masuk dalam program vaksinasi Covid-19. "Pada Sabtu (26/6), saya mewakili IDAI diundang ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk dimintai pandangan terkait izin vaksin bagi anak," kata dia. [yy/republika]

 

5.148 WNI Terkonfirmasi Covid-19 di Luar Negeri

Kemlu: 5.148 WNI Terkonfirmasi Covid-19 di Luar Negeri


Fiqhislam.com - Kementerian Luar Negeri ( Kemlu ) kembali melaporkan perkembangan kasus WNI terkonfirmasi Covid-19 di luar negeri. Hingga Rabu (30/6/2021), jumlahnya mencapai 5.148 orang.

Berdasarkan data yang dirilis Kemlu, ada tambahan WNI terkonfirmasi Covid-19 di Italia, Kuwait, Madagaskar, Namibia, dan Siprus. Ada juga laporan WNI sembuh dari Covid-19 di Italia, Madagaskar, dan Siprus.

"Total WNI terkonfirmasi di luar negeri adalah 5.148: 4.294 sembuh, 212 meninggal & 642 dalam perawatan," demikian dikutip dari akun Twitter @Kemlu_RI.

Jika dibandingkan dengan data kemarin, ada tambahan 12 kasus WNI terkonfirmasi Covid-19. Diketahui, pada 29 Juni 2021, jumlah total WNI terkonfirmasi Covid-19 di luar negeri adalah 5.136 orang. Rinciannya, 4.282 sembuh, 212 meninggal dunia, dan 642 dalam perawatan. [yy/sindonews]