21 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 31 Juli 2021

basmalah.png

Israel Langgar Gencatan Senjata, Retno Desak GNB Bertindak | Bentrokan di Yerusalem

Israel Langgar Gencatan Senjata, Retno Desak GNB Bertindak | Bentrokan di Yerusalem

Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi mendesak Gerakan Non Blok (GNB) untuk mengambil langkah untuk menemukan solusi dalam mengatasi akar permasalahan konflik Palestina dengan Israel . Solusi tersebut harus tahan lama untuk akar permasalahan konflik yaitu, pendudukan.

"Seperti yang diperkirakan, Israel melanggar gencatan senjata minggu lalu," kata Retno dalam Rapat Luar Biasa Menteri Gerakan Non Blok Komite Palestina.

"Sebuah pertanyaan yang saya ajukan selama Debat UNGA (Majelis Umum PBB) di New York Mei lalu masih ada, berapa lama lagi kita akan membiarkan kekejaman ini berlanjut," sambungnya.

"Pelanggaran semacam itu oleh Israel telah menjadi normal baru, realitas baru, rutinitas baru dan akan terus demikian jika kita tidak dapat menemukan solusi yang tahan lama untuk akar permasalahan, pendudukan," katanya dalam rilis yang diterima Sindonews, Selasa (22/6/2021).

Retno pun mengusulkan kepada GNB tiga langkah penting untuk menemukan cara dalam mengatasi akar permasalahan dan bergerak melampaui manajemen krisis menuju solusi yang tahan lama.

"Pertama, GNB harus mendukung peluncuran kembali negosiasi multilateral yang kredibel," kata Retno.

Dikatakan oleh Retno, untuk waktu yang lama, tidak ada pembicaraan damai yang substantif antara Israel dan Palestina.

Dukungan GNB untuk menghidupkan kembali proses pembicaraan damai akan menjadi sangat penting, melalui platform multilateral yang ada dengan dukungan negara-negara di kawasan.

"Proses perdamaian seperti itu harus didasarkan pada solusi dua negara sesuai dengan parameter yang disepakati secara internasional," ujar Retno.

Kedua, sambung Retno, GNB harus mendukung kenegaraan Palestina.

"Kekuatan GNB ada pada jumlahnya, itulah mengapa suara kita untuk Palestina penting," tegas Retno.

GNB harus berbicara dalam satu suara untuk menghidupkan kembali komitmennya untuk mendukung kenegaraan Palestina. GNB harus menolak narasi yang memecah belah negara Palestina.

Salah satu cara untuk melakukannya, menurut Retno, adalah dengan menekan Israel untuk mengizinkan Palestina mengadakan pemilihannya. Pemilu yang kredibel di Palestina akan memperkuat kenegaraan Palestina secara keseluruhan.

"Kita harus mengulangi seruan kita kepada anggota GNB dan negara-negara lain yang belum mengakui Negara Palestina untuk melakukannya," serunya.

Ketiga, Retno melanjutkan, GNB harus mampu mencegah terulangnya kekejaman di masa depan.

"Dalam Debat UNGA Mei lalu, saya menyerukan pembentukan kehadiran internasional di Al-Quds untuk memantau dan memastikan keselamatan rakyat Palestina di wilayah pendudukan; untuk melindungi status kompleks Al Haram Al-Sharif sebagai corpus separatum, tempat suci tiga agama," kata Retno.

"GNB harus melakukan hal yang sama," cetus Retno.

"Negara-negara Anggota GNB yang saat ini duduk di Dewan Keamanan harus menjadi kekuatan pendorong untuk mendorong inisiatif ini," ucapnya.

Retno mengatakan GNB didirikan untuk mengakhiri imperialisme dan kolonialisme.

"Kami berutang kepada rakyat Palestina sebuah negara Palestina merdeka yang telah lama tertunda. Hidup berdampingan dalam pijakan yang sama dengan kita semua," kata Retno.

"Perjuangan kita masih jauh dari selesai tapi dengan bekerja sama, suatu hari nanti, saya yakin Palestina akan merdeka," pungkasnya. [yy/sindonews]