30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Poros Islam, Cita-Cita atau Angan-Angan Belaka?

Poros Islam, Cita-Cita atau Angan-Angan Belaka?

Fiqhislam.com - Wacana Poros Partai Islam atau Poros Islam muncul setelah pertemuan petinggi PKS dan PPP. Wacana ini menuai polemik, terutama di kalangan parpol Islam sendiri.

Sejumlah partai politik sudah mulai ancang-ancang menghadapi Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2024. Beberapa di antaranya melakukan kunjungan ke partai lain.

Pada Rabu 14 April 2021, jajaran DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) bertandang ke Kantor Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan.

Seusai pertemuan, Koalisi Poros Partai Islam diwacanakan mereka. Jumlah partai Islam memang tidak sedikit. Misalnya, yang menjadi peserta Pemilu 2019 lalu ada PKS, PPP, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Bulan Bintang (PBB). Wacana Koalisi Poros Partai Islam itu pun menuai pro dan kontra di antara mereka sendiri.

Semisal PAN melalui Juru bicaranya, Viva Yoga Mauladi sudah menyatakan tidak ikut dalam wacana tersebut. Di sisi lain, wacana itu disambut baik oleh Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, walaupun diakuinya bahwa tidaklah mudah untuk merealisasikannya. Kemudian, Wakil Ketua Umum DPP PKB Jazilul Fawaid atau Gus Jazil berharap agar poros partai Islam tak hanya berhenti sebagai wacana.

Wacana Koalisi Poros Partai Islam sebenarnya pernah muncul di momen pemilu sebelumnya. Lalu, apakah wacana Koalisi Parpol Islam yang digagas PPP dan PKS kini sebagai cita-cita atau hanya angan-angan?

“Poros islam yang terdiri dari parpol-parpol Islam secara teoritis mungkin terbentuk karena ada empat partai Islam (PKS, PPP, PKB, PAN) yang memiliki kursi di parlemen. Empat parpol ini menguasai sekitar 30 persen kursi DPR, cukup untuk modal mencalonkan presiden,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan kepada SINDOnews, Sabtu (24/4/2021).

Djayadi mengatakan, minima tiga dari parpol-parpol tersebut harus bersatu agar memenuhi syarat ambang batas pencalonan presiden. "Tapi ini tidak mudah karena PAN dan PKB tampaknya lebih suka bekerja sama dengan parpol nasionalis seperti PDIP dan Golkar,” katanya.

Dia menambahkan, Poros Islam juga mungkin terbentuk kalau ada calon presiden yang cukup kuat elektabilitasnya dan mampu mengangkat suara Parpol-parpol Islam tersebut. Dia mengungkapkan bakal calon presiden yang sekarang tampak unggul berdasarkan berbagai riset ada Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Ganjar Pranowo, Sandiaga Uno, Agus Harimurti Yudhoyono, Ridwan Kamil, dan lain-lain.

Menurut dia, Prabowo, Anies, dan Sandi selama ini dikenal memiliki pendukung yang kuat di kalangan parpol Islam. "Jadi bisa saja parpol Islam bersatu kalau mereka mencalonkan salah satu dari nama bakal capres tersebut,” ungkapnya.

Tetapi, kata dia, formula selama ini yang paling mungkin menang itu adalah menggabungkan parpol Islam dan nasionalis. "Kalau hanya parpol Islam saja yang bersatu mungkin sulit untuk menang. Harus digabungkan dengan parpol yang lebih nasionalis. Dengan demikian, meskipun terbentuk, poros Islam tetap memerlukan minimal satu partai nasionalis untuk menjadi kompetitif memenangkan pertarungan Pilpres 2024," pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Indo Barometer Muhammad Qodari berpendapat bahwa ide Poros Islam itu sesuatu yang memang bersifat romantik. "Dan sudah dibayangkan oleh banyak tokoh partai Islam semenjak dulu, tetapi pada kenyataannya sulit diwujudkan karena partai-partai ini satu sisi memang memiliki katakanlah kesamaan ya ideologinya atau konstituennya itu Islam. Nilai-nilainya Islam, tetapi sesungguhnya mereka di antara satu dengan yang lain seringkali juga berkompetisi terutama yang memang akarnya sama,” kata Qodari.

Dia mengatakan, Islam pun terdiri dari tradisional dan modernis. Kata Qodari, Islam Tradisional begitu kental dengan tradisi lokasl, organisasinya Nahdlatul Ulama (NU) dan partai politikmya adalah PKB dan PPP. "Yang kedua Islam modernis yang orientasinya itu kepada pemurnian ajaran Islam yang menurut mereka memiliki bentuk asli, turunannya kan pada saat ini ada PKS, PAN, organisasinya Muhammadiyah. Lalu kemudian sekarang muncul Gelora dan Partai Ummat, jadi sebetulnya antar PKS dan PAN sulit ketemu karena mereka notabenenya memperebutkan segmen yang sama," tuturnya.

Buktinya, elite PAN sudah menyampaikan tidak akan ikut bergabung dalam koalisi Poros Partai Islam itu. "Dan mengatakan konsep poros tengah atau poros Islam tahun 1999 itu sebagai sebuah nostalgia atau sesuatu yang tidak relevan lagi kondisi sekarang dan sulit diulangi," imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, antara PKB dengan PPP juga sulit bertemu karena kedua partai itu juga merebutkan basis pemilih yang kurang lebih sama yaitu Islam tradisional. "Itu sebabnya mungkin yang menjelaskan kenapa yang ketemu adalah PPP dengan PKS, bukan PPP dengan PKB atau PKS dan PAN, jadi intinya sulit ya," ucapnya.

Namun, kata dia, tak tertutup kemungkinan parta-partai Islam disatukan oleh suatu momentum atau peristiwa. "Terutama misalkan kalau menemukan tokoh yang mau diusung sama-sama katakanlah misalnya Anies Baswedan pada pilpres yang akan datang, karena Anies naiknya di jabatan gubernur itu melalui nuansa warna dukungan kelompok-kelompok Islam, jadi isunya adalah penistaan agama, di luar isu-isu kebijakan Ahok, kemudian ada tokoh-tokoh seperti Rizieq Shihab GNPF, ulama, FPI, kemudian ada peristiwa 411 dan 212, jadi mungkin saja, menurut saya itu pun tidak akan mutlak atau semua partai Islam berbasis massa Islam berkumpul di sana, pasti nanti ada yang memilih calon yang lain, katakanlah calon dari nasionalis,” pungkasnya.

Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Riset dan Analisis (SUDRA) Fadhli Harahab menilai Koalisi Poros Partai Islam hanyalah sebuah angan-angan. "Hanya angan-angan. Apalagi melihat fragmentasi masing-masing Parpol yang cenderung memiliki kepentingan yang lebih besar atas golongannya ketimbang kepentingan koalisi yang berdasarkan pada Poros Islam itu sendiri," kata Fadhli secara terpisah.

Sebab, menurut dia, terlalu banyak perbedaan di internal parpol islam itu sendiri, mulai dari irisan geografis, pemahaman, hingga kondisi sosial budaya. Dia menilai perbedaan di internal itu bisa saja memicu perpecahan yang berakibat meruncingnya politik aliran di internal parpol Islam.

"Saya kira sejarah telah membuktikan bagaimana sulitnya mempersatukan parpol Islam menjadi sebuah poros yang kuat dan menentukan. Alih-alih bersatu, wacana poros Islam hanya akan menjadi marketing politik kelompok Islam tertentu untuk kepentingan politik jangka pendek," pungkasnya. [yy/sindonews]