24 Syawal 1443  |  Kamis 26 Mei 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Jumlah korban ledakan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, bertambah menjadi 19 orang. Sebelumnya, Polri menjelaskan korban akibat bom tersebut sebanyak 14 orang.

Hal itu disampaikan Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel), Irjen Pol Merdisyam, saat memberikan keterangan kepada Inews Tv, Minggu (28/3/2021). "Perkembangan sampai saat ini, jumlah korban bertambah menjadi 19 orang. Itu di luar korban yang diduga pelaku," kata Merdisyam.

Hingga saat ini para korban baik luka ringan atau kritis telah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Makassar seperti RS Siloam. Laporan sementara, ada empat orang yang mengalami luka kiritis.

Menurut Merdisyam, aparat kepolisian saat ini masih terus melakukan olah kejadian perkara, untuk mengumpulkan sejumlah barang bukti . Selain itu, ada 10 orang saksi yang sedang dimintai keterangan. [yy/sindonews]

 

Fiqhislam.com - Jumlah korban ledakan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar, bertambah menjadi 19 orang. Sebelumnya, Polri menjelaskan korban akibat bom tersebut sebanyak 14 orang.

Hal itu disampaikan Kapolda Sulawesi Selatan (Sulsel), Irjen Pol Merdisyam, saat memberikan keterangan kepada Inews Tv, Minggu (28/3/2021). "Perkembangan sampai saat ini, jumlah korban bertambah menjadi 19 orang. Itu di luar korban yang diduga pelaku," kata Merdisyam.

Hingga saat ini para korban baik luka ringan atau kritis telah menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di Kota Makassar seperti RS Siloam. Laporan sementara, ada empat orang yang mengalami luka kiritis.

Menurut Merdisyam, aparat kepolisian saat ini masih terus melakukan olah kejadian perkara, untuk mengumpulkan sejumlah barang bukti . Selain itu, ada 10 orang saksi yang sedang dimintai keterangan. [yy/sindonews]

 

Kelompok JAD

Kapolri: Bomber Makassar dari Kelompok JAD yang Terkait Bom Gereja Filipina


Fiqhislam.com - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan terduga pelaku bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan merupakan jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Terduga pelaku diketahui berjumlah dua orang.

"Kejadian tersebut dilakukan oleh 2 tersangka. tersangka pertama L (sidik jari identik), sedangkan tersangka kedua masih diidentifikasi," ujar Listyo usai meninjau lokasi bom bunuh diri di Gereja Katedral, Makassar, Minggu (28/3/2021).

Listyo mengatakan aksi bom bunuh diri itu ada kaitannya dengan penangkapan 24 tersangka terorisme pada Januari 2021 lalu. 24 tersangka terorisme yang ditangkap itu berasal dari Sulawesi Selatan.

"Peristiwa tersebut ada kaitannya dengan penangkapan 24 tersangka terorisme pada bulan Januari 2021 di wilayah Sulawesi Selatan," katanya.

Selain itu, kata Listyo, terduga pelaku juga diketahui bagian dari kelompok Daro. Menurutnya, Daro merupakan pelaku yang pernah melakukan aksi teror di Jolo, Filipina.

"Kelompok Daro pelaku yang beberapa waktu yang lalu kita Amankan.Kelompok ini bergabung terkait yang pernah melakukan kegiatan bom di Jolo (Filipina)," katanya.

Lebih lanjut, Listyo mengimbau kepada masyarakat untuk tetap tenang namun waspada. Dia meminta masyarakat menyerahkan sepenuhnya kasus tersebut kepada Polri.

"Secara khusus kami juga memohon kepada seluruh tokoh agama untuk membantu menyampaikan kepada masyarakat untuk tetap tenang," katanya.

Sebelumnya, Jenderal Listyo Sigit Prabowo mendatangi lokasi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. Sigit pun meminta agar warga tidak perlu takut serta menyerahkan penanganan kasus teroris ke kepolisian.

"Masyarakat tidak boleh ada yang takut, tidak boleh ada yang panik, laksanakan aktivitas seperti biasa," ujar Jenderal Sigit kepada wartawan di depan Gereja Katedral Makassar, Minggu (28/3/2021).

"Urusan teroris serahkan kepada kami, kami akan menyelesaikan dan menangkap para pelakunya," tegas Sigit.

Sigit mengatakan, dirinya sudah memberi perintah secara khusus agar mengungkap kasus terorisme dan mencegah jatuhnya korban tambahan.

"Saya sudah perintahkan kepada Kadensus dan jajarannya lakukan apa yang harus kita lakukan. Yang penting jangan sampai ada ledakan lagi," kata Sigit. [yy/news.detik]

 

Sinyal Mereka Ingin Tunjukkan Eksistensinya

Bom di Gereja Katedral, Pengamat: Sinyal Mereka Ingin Tunjukkan Eksistensinya


Fiqhislam.com - Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi sasaran bom bunuh diri. Dalam peristiwa itu sebanyak 14 orang dikabarkan mengalami luka-luka.

Pengamat militer dan intelijen Susaningtyas Kertopati mengatakan, dalam menganalisa kejadian terorisme harus dilakukan secara holistik. Secara probabilitas bisa saja ada hubungan atau tidak sama sekali dengan penangkapan teroris secara massal di Sulawesi Selatan (Sulsel). ”Kejadian bom bunuh diri itu tentu saja signal bahwa mereka ingin menunjukan eksistensinya. Oleh karena itu harus dikenali oleh aparar embrio terorisme di Indonesia itu apa,” ucapnya, Minggu (28/3/2021).

Secara akademis, militer di seluruh dunia juga bertugas menghadapi terorisme. Implikasi pemberantasan atau penanggulangan terorisme oleh militer dan polisi berbeda perspektif hukumnya karena terorisme bisa menjadi kejahatan terhadap negara atau kejahatan terhadap publik.

”Penanganan terorisme di Indonesia selama ini cenderung masih dalam klasifikasi kejahatan terhadap publik sehingga cenderung ditangani Polri semata. Jika terorisme mengancam keselamatan Presiden atau pejabat negara lainnya sebagai simbol negara, maka terorisme tersebut menjadi kejahatan terhadap negara dan harus ditanggulangi oleh TNI,” ujar Nuning, panggilan akrab Susaningtyas Kertopati kepada SINDOnews.

Selain itu, terkait dengan jenis senjata dan bom yang digunakan oleh teroris masih tergolong konvensional, maka masuk kewenangan Polri. Tetapi jika senjata dan bom yang digunakan oleh teroris tergolong senjata pemusnah massal (Weapon of Mass Deatruction), seperti senjata nuklir, senjata biologi, senjata kimia dan senjata radiasi, maka yang menangani adalah TNI.

Selain subjek ancaman teror dan jenis senjata, maka rezim kedaulatan suatu negara juga berimplikasi kepada kewenangan penegakan hukum. Jika kejahatan teror dilakukan di wilayah kedaulatan penuh Indonesia, maka Polri dan TNI bisa bersama-sama menanggulangi.

”Tetapi jika rezimnya adalah hak berdaulat, maka TNI yang melakukan aksi penanggulangan. Hal ini penting untuk diketahui sehingga kedudukan siapa yang menangani dapat diterapkan dengan tepat,” kata mantan anggota Komisi I DPR ini. [yy/sindonews]

 

Muhammadiyah

Muhammadiyah Curigai Bom Bunuh Diri di Makassar Bentuk Adu Domba


Fiqhislam.com - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah , Haedar Nashir meminta agar seluruh pihak tidak mengaitkan aksi bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, dengan agama apapun. Ia menduga aksi bom bunuh diri itu justru adalah bentuk adu domba.

"Meski terjadi di depan rumah ibadah, jangan serta-merta mengaitkan tindakan bom tersebut sebagai terhubung dengan agama dan golongan umat beragama tertentu," kata Haedar Nashir melalui pesan singkatnya, Minggu (28/3/2022).

"Boleh jadi tindakan bom bunuh diri tersebut merupakan bentuk adu domba, memancing di air keruh, dan wujud dari perbuatan teror yang tidak bertemali dengan aspek keagamaan," imbuhnya.

Ditegaskan Haedar, Muhammadiyah mengecam keras aksi peledakan bom di depan Gereja Katedral, Makassar, tersebut. Ia meminta aparat penegak hukum untuk segera mengusut tuntas insiden keji tersebut.

"Segala bentuk kekerasan yang menimbulkan ketakutan, kekacauan, serta mengancam dan mengorbankan nyawa manusia, apapun motif dan tujuannya serta oleh siapa pun pelakunya sangatlah biadab yang harus diusut tuntas," tuturnya.

Haedar juga berharap agar masyarakat tetap tenang dan tidak panik. Ia meminta agar aksi bom bunuh diri itu diserahkan ke aparat penegak hukum untuk diungkap.

"Semua pihak harus tenang, waspada, dan seksama menyikapinya, serta mempercayakan sepenuhnya kepada aparat kepolisian untuk mengungkap tindakan anarkis tersebut," katanya.

Sekadar informasi, ledakan yang diduga akibat bom bunuh diri terjadi di lingkungan atau tepatnya di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/3/2021) sekitar pukul 10.30 WIB. Belum diketahui motifnya. Namun, pelaku diduga berjumlah dua orang. [yy/sindonews]

 

PBNU

PBNU: Seluruh Umat Manusia Adalah Saudara


Fiqhislam.com - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Robikin Emhas memberikan pesan damai yang menyejukkan pascaadanya aksi bom bunuh diri yang terjadi di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Minggu (28/3/2021), pagi tadi.

Ia menekankan pentingnya arti persaudaraan antar umat beragama, khususnya di Indonesia. "Seluruh umat manusia adalah saudara. Persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah insaniyah/ ukhuwah basyariyah) itu tak bisa dikurangi hanya karena berbeda agama, suku, ras, warna kulit ataupun golongan," kata Robikin melalui pesan singkatnya kepada MNC Portal Indonesia, Minggu (28/3/2021).

Menurut Robikin, upaya dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis adalah keharusan dan kewajiban yang mesti dipikul bersama. Oleh karenanya, seluruh umat di Indonesia tidak boleh saling menyakiti. "Tak seorang pun boleh mengelaknya. Toh dengan dalih apapun manusia tidak akan pernah terhindar dari kehidupan yang majemuk, plural dan beragam. Karena hal itu sudah merupakan keniscayaan (sunnatullah) yang telah ditetapkan oleh Tuhan YME," bebernya.

Ditekankan Robikin, setiap tindakan kekerasan yang mengancam rusaknya harmoni sosial, tidaklah bisa dibenarkan. Apalagi, kata dia, berupa teror dalam bentuk bom. Sebaliknya, perbuatan seperti itu harus dikutuk. "Kekerasan dan teror bukan ajaran agama. Agama apapun tidak mengajarkan dan membenarkan hal itu," pungkasnya. [yy/sindonews]