23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Komentari Pentagon, Menlu Retno: China Tak Bisa Bangun Pangkalan Militer di Indonesia

Komentari Pentagon, Menlu Retno: China Tak Bisa Bangun Pangkalan Militer di Indonesia

Fiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengomentari laporan Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) yang menyebut Indonesia merupakan salah satu negara yang dianggap China berpotensi dijadikan fasilitas logistik militer.

Retno menegaskan, Indonesia tak akan menjadi basis militer bagi negara manapun.

“Secara tegas saya ingin menekankan, sesuai dengan garis dan prinsip politik luar negeri Indonesia, maka wilayah Indonesia tidak dapat dan tidak akan dijadikan basis atau pangkalan maupun fasilitas militer bagi negara manapun,” kata Retno, Jumat (4/9/2020).

Laporan tahunan Pentagon setebal 200 halaman berjudul 'Perkembangan Militer dan Keamanan Melibatkan Republik Rakyat China 2020', yang dirilis Nikkei Asian Review, Rabu (2/9/2020), mengungkap rencana China untuk membangun jaringan logistik militer di Asia Pasifik.

China menganggap Myanmar, Thailand, Singapura, Indonesia, Pakistan, Sri Lanka, serta negara-negara lain di Afrika dan Asia Tengah sebagai lokasi yang tepat untuk merealisasikan agenda tersebut.

Disebutkan juga dalam laporan Pentagon, kemampuan China telah menyamai atau melampaui kekuatan militer AS di beberapa bidang pertahanan.

Pemerintah China mengecam laporan Pentagon tersebut. Kementerian pertahanan menegaskan laporan itu sama sekali salah tafsir serta mencemarkan nama baik militer China.

Laporan lain yang membuat China gerah, negara itu disebut akan menambah hulu ledak nuklir dua kali lipat dalam 10 tahun mendatang.

Nikkei juga mengungkap, China mengalami peningkatan di sektor militer. Peningkatan militer itu diyakini sejalan dengan kepentingan memperkuat kekuasaan serta menguasai jalur perdagangan di wilayah Asia-Pasifik.

Pada 2017, China membangun pangkalan militer pertama di luar negeri yakni di Djibouti, menghabiskan dana 950 juta dolar AS atau sekitar Rp8,6 triliun. Pembangunan ini diyakini untuk mendukung respons militer terhadap segala ancaman investasi China di Afrika. [yy/inews]