23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Kala Patung JP Coen akan Dirobohkan dan Dikencingi Orang

Kala Patung JP Coen akan Dirobohkan dan Dikencingi Orang

Fiqhislam.com - Imbas anti rasisme akibat kematian pemuda kulit hitam oleh polisi Amerika ternyata benar-benar meluas dan berimbas ke mana-mana. Di Belgia patung Raja Leopold II telah dirobohkan massa demonstran karena dianggap sebagai orang yang paling bertanggung jawab atas kematian setengah penduduk Konggo akibat kolonialisme. Di pusat kota London tokoh Inggris yang dijadikan patung dan menghiasai sudut kota juga telah dirobohkan dan diceburkan ke sungai arena di masa kolonial dia dianggap sebagai salah satu pedagang budak.

Dan hal yang sama kini juga terjadi di kota Hoorn Belanda terkait dengan patung sosok Jan Pieterszoon Coen. Pada Jumat lalu, sekitar ratusan pengunjuk rasa ramai menuntut patung yang ada di depan rumah Coen dirobohkan. Patung itu dicoreti kata makian karena dia dianggap sebagai bapak kolonial dan rasisima di Indonesia yang dahulu menjadi tanah jajahan Belanda.

Seperti semua orang Indonesia pun tahu sosok Coen adalah selalau terikait dengan penyerbuan Sultan Agung ke Batavia ketika kolonial Belanda mulai mencapkan kakinya di Indonesia (Hindia Belanda).  Kala itu dia adaah Gubernur Jendral Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang keempat dan keenam. Pada masa jabatan pertama ia memerintah pada tahun 1619 – 1623 dan untuk masa jabatan yang kedua berlangsung pada tahun 1627 – 1629. 

JP Coen sendiir memang meninggal di Batavia pada 21 September 1629. Satu versi dia tewas dibunuh pasukan Mataramnya, Sultan Agung. Versi sejarah lainnya menyebut dia meninggal karena terkena kolera saat bentengnya yang berada di tepi Kali Ciliwung dikepung rapat bala tentara Mataram. Tak adanya pasokan air bersih karena aliran sungai di bendung sehingga muncul wabah kolera yang menyergap legiun tentaranya.

Dari catatan memang Coen lahir di Hoorn, Noord Holland pada penghujung tahun 1586. Catatan gereja menunjukkan bahwa ia dibaptis pada tanggal 8 Januari 1587 dengan nama ayah Pieter Janszoon van Twisk. Bagi orang Belanda dianggap dianggap sangat berjasa, sedangkan bagi Indonesia dianggap musuh atau bapak kolonialisme. Atas jasa Coen kepada negara Belanda, sosok dia dibuat patung yang sengaja didirikan di depan rumahnya di Hoorn tersebut.

*****

Uniknya generasi muda Belanda  yang banyak keturunan Indonesia (misalnya dari Maluku), pada masa kini sudah memandang tak sama dengan anggapan umum di sana. Satu sisi dia memang dianggap punya jasa. Tapi di sisi lain Coen dianggap lambang kolonialis sekaligus rasisme di Belanda yang mana pada Jumat lalu memicu protes itu. Tak hanya unjuk rasa damai, protes massa itu memunculkan keributan. Sebuah harian di Belanda memberitakan akibat keributan itu selusin demonstran ditangkap.

Media Belanda nltimes.nl menulis begini: Terjadi keributan setelah adanya aksi protes besar-besaran di Hoorn yang  menyebabkan selusin penangkapan di dekat patung tokoh kontroversial JP COen. Di kala itu, beberapa ratus orang menghadiri demonstrasi menentang patung Jan Pieterszoon Coen, seorang perwira abad ke-17 yang tanpa ampun menggunakan kekerasan terhadap masyarakat adat untuk mengendalikan perdagangan rempah-rempah untuk Perusahaan India Timur Belanda (VOC).

Meski merebakkan protes itu, tampaknya sosok Coen hari ini pun masih punya pendukung atau merupakan sosok yang baik bagi sebagian kalangan warga Belada. Sebab, pada saat yang sama hadir sekitar 20 orang wanita yang mengatakan bahwa patung Coen di kota kelahirannya itu merupakan kisah menarik dari masa lalu para pelaut yang bepergian ke tanah yang jauh. "Aku merasa menyakitkan bila para demonstran itu ingin menghancurkan patung itu. Ini akan menggangu keindahan kecil yang kita miliki," kata seorang wanita itu yang tak mau disebut namanya.

Uniknya, para pengunjuk rasa juga mengatakan mereka juga kecewa, terutama masih  sedikitnya jumlah pengikut demo. Akhirnya dengan kesal kemudian mereka pun meninggalkan situs lokasi patung itu,  sembari menurunkan bendera Belanda dan semboyan "Dispereert niet", atau "Jangan putus asa". Ungkapan ini unik karena  dua kata adalah bagian dari kutipan yang dikaitkan dengan Coen: "Jangan putus asa, jangan mengampuni kalian musuh, karena Tuhan beserta kita."

Tidak jauh dari sana, beberapa ratus penentang patung memang telah lama berkumpul untuk menyuarakan rasa jijik mereka karena memuliakan sosok yang terkait dengan praktik genosida dan perbudakan. "Saya sadar bahwa Zaman Keemasan telah membuat negara kita hebat. Bahwa kita masih mendapat manfaat dari itu. Tapi itu dengan mengorbankan leluhur saya di Maluku," kata Leonora Vlek.

"Coen memberi kita banyak kemakmuran, tetapi juga brutal dengan penduduk," kata Adraan de Boer. "Dia membunuh ribuan orang. Kamu seharusnya tidak bertepuk tangan atau berdiri di belakang itu,'' ujarnya lagi.

Tapi memang dalam protes itu kemudian muncul indikasi terjadinya kekerasan. Banyak di antara pengunjuk rasa membawa kursi dan meja ang lazimnya ada di teras  rumah sebagai perisai saat mereka berbaris di jalanan. Sementara demonstran  lain menyalakan bom asap dan kembang api sehingga membuat sibuk aparat polisi yang menjaga aksi itu. Bahkan polisi kemudian membentuk barisan dan mengerahkan sekitar 16 petugas poisi dengan pakaian anti huru hara di sekitar patung.

Namun, memang tidak ada laporan orang yang cedera yang ddalam bentrokan kecil itu. Hanya dua belas orang ditangkap karena melanggar perintah polisi dan melakukan kekerasan publik. Seorang pengunjuk rasa misalnya ditangkap karena dituduh buang air kecil di depan umum. Uniknya meski diringkus karena ulah itu, dia mengaku merasa lega karena telah mengencingi patung JP Coen yang jadi kebanggaan kota Hoorn itu. [yy/republika]

Oleh Muhammad subarkah, Jurnalis Republika