Arteria Dahlan, Emil Salim dan Krisis Budi Pekerti

Kategori: Berita Nasional
Kamis, 10 Oktober 2019

Arteria Dahlan, Emil Salim dan Krisis Budi Pekerti

Fiqhislam.com - Pagi ini, saya melihat sebuah tayangan yang betul-betul menyentak emosi, perasaan, serta rasa kemanusiaan. Tayangan itu adalah sebuah diskusi yang menampilkan seorang politikus muda sekaligus anggota DPR yang terhormat, Arteria Dahlan dengan sesepuh bangsa, Emil Salim.

Dalam diskusi itu, Arteria yang usianya jauh lebih muda itu menunjuk, mencecar, dan berbicara dengan nada tinggi kepada orang yang secara usia nyaris menginjak 90 tahun. Beragam reaksi bermunculan di ruang publik atas diskusi itu. Sebagai manusia, rasanya kita semua sepakat bahwa tindakan Arteria sangat tidak elok dan jauh dari karakter budi pekerti bangsa yang berlandaskan Pancasila.

Pancasila bukan sekadar jargon yang dipekikikkan. Tidak ada artinya meneriakkan Pancasila harga mati, tapi tak pernah mempraktikkan nilai Pancasila dalam berpilaku.  Sebab Pancasila bukanlah jargon melainkan seperangkat gagasan yang dituangkan dalam kehidupan berbangsa, mulai dari level tertinggi (negara) hingga terendah (individu).



Apa yang tergambar di televisi malam itu sejatinya merupakan cermin minor yang bangsa kita. Sadar atau tidak bangsa ini sedang mengalami degradasi budi pekerti. Kita sedang mengalami krisis kehangatan dalam berbangsa. Sebaliknya, kebencian, kekerasan, dan perseteruan seperti mendapat panggung utama.

Hitungan tahun berganti, kita tak hentinya disuguhi aksi saling hujat, saling umpat, dan minus rasa hormat. Lantas apa sebenarnya pangkal dari krisis budi pekerti ini? Jawabannya hanya satu kata, "empati".

Krisis empati yang menjadi pangkal masalah yang akhir-akhir ini melanda Indonesia maupun dunia. Tanpa empati, seseorang jadi hidup dengan kacamata kuda. Melihat lurus pada preferensinya sendiri, tanpa peduli siapa yang sedang kita ajak berdiskusi.

Krisis empati membuat seseorang hanya memikirkan pandangannya tanpa peduli perasaan orang di sekelilingnya. Tanpa empati, setiap orang merasa berhak berkata atau mengunggah apapun di sosial media. Tanpa empati orang berhak memfitnah, menebar hoax, hingga mencerca.

Problem empati ini dirasakan Indonesia sejak era reformasi 1998. Pasca-keran kebebasan terbuka, semua merasa punya hak untuk berbicara, tanpa sadar adanya kewajiban untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda.

Pada 1801 seorang Thomas Jefferson sudah lebih jauh menyadari pentingnya empati di atas kebebasan dan demokrasi. Jefferson berpandangan bahwa rasa empati yang memuat kasih sayang harus selalu berada di atas kebebasan.

“Mari kita memulihkan hubungan sosial yang harmonis dan kasih sayang, tanpanya kebebasan dan bahkan kehidupan itu sendiri hanyalah hal-hal yang suram,” ujar Jefferson dalam pidato inaugurasinya.

Seperti dikatakan Jefferson, tanpa empati kebebasan berdemokrasi, berekspresi, atau berbicara malah bisa berujung perpecahan. Tanpa empati, demokrasi akan diekspresikan orang per orang dengan penuh sentimen. Yang satu pandangan politik akan dianggap baik dan selalu benar. Sedangkan yang pandangan politiknya berbeda akan dianggap jahat dan selalu salah.

Tanpa empati, setiap orang jadi merasa bebas mengekspresikan kebenciannya. Tanpa empati, orang-orang akan menjadikan hak berbicaranya untuk menghina martabat orang lain.

Semua fenomena ini harus dihentikan. Saatnya kita menempatkan empati kita sebagai manusia di atas pandangan politik atau pribadi.

Semua punya kewajiban untuk berempati. Pemimpin politik haruslah mengedepankan komentar yang empatik di depan publik. Pemimpin politik haruslah menebar kata-kata yang sejuk, bukan justru menyebarkan diksi-diksi tuna budi pekerti, apalagi kepada orang yang lebih tua.

Pun halnya Anda yang berstatus ulama, cedikiawan, tokoh publik, maupun pembesar negeri.  Jangan hanya memikirkan kebebasan berkomentar di depan publik, tanpa kewajiban untuk menjaga perasaan orang yang berbeda pandangan. Sebab tanpa itu, para tokoh itulah yang akhirnya membuat bangsa ini semakin dalam terjebak pada narasi kebencian.

Sudahilah bahasa-bahasa yang tidak simpatik. Toh, kritik dan pujian tentu tetap bisa disuarakan dengan bahasa wajar dan tak provokatif atau menyakiti hati. Sebab seperti itulah sejatinya budaya bangsa kita sesungguhnya. Budaya penuh budi pekerti, penuh empati, tepo seliro, dan tenggang rasa yang kini menjadi bahan pelajaran dunia, tapi justru mulai dilupakan di Indonesia.

Tak ada artinya jargon Pancasila jika dalam berpilaku tunahormat kepada sesama manusia. Mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip sebuah kisah di negeri antah berantah.

Syahdan, di sebuah negeri, seorang sepuh terlibat perbincangan hangat dengan seorang pejabat muda di sebuah negara. Pria sepuh membuka perbincangannya dengan sebuah kata tanya kepada sang pejabat.

"Jika boleh memilih, mana yang anda lebih inginkan, harta atau budi pekerti? tanyanya.

Kontan pejabat itu menjawab, "Jelas budi pekerti."

Si pejabat pun balik bertanya, "kalau Anda?"

Dengan mantab pria sepuh itu menjawab, "Saya pilih harta!"

Dipenuhi rasa heran, sang pejabat mempertanyakan alasan orang yang telah sepuh itu memilih harta dibanding budi pekerti?

Sang pria sepuh itu pun menjawab, "Adalah wajar bila seseorang menginginkan apa yang belum dimilikinya." [yy/republika]

Oleh Abdullah Sammy, wartawan Republika

Arteria Dahlan, Emil Salim dan Krisis Budi Pekerti

Fiqhislam.com - Pagi ini, saya melihat sebuah tayangan yang betul-betul menyentak emosi, perasaan, serta rasa kemanusiaan. Tayangan itu adalah sebuah diskusi yang menampilkan seorang politikus muda sekaligus anggota DPR yang terhormat, Arteria Dahlan dengan sesepuh bangsa, Emil Salim.

Dalam diskusi itu, Arteria yang usianya jauh lebih muda itu menunjuk, mencecar, dan berbicara dengan nada tinggi kepada orang yang secara usia nyaris menginjak 90 tahun. Beragam reaksi bermunculan di ruang publik atas diskusi itu. Sebagai manusia, rasanya kita semua sepakat bahwa tindakan Arteria sangat tidak elok dan jauh dari karakter budi pekerti bangsa yang berlandaskan Pancasila.

Pancasila bukan sekadar jargon yang dipekikikkan. Tidak ada artinya meneriakkan Pancasila harga mati, tapi tak pernah mempraktikkan nilai Pancasila dalam berpilaku.  Sebab Pancasila bukanlah jargon melainkan seperangkat gagasan yang dituangkan dalam kehidupan berbangsa, mulai dari level tertinggi (negara) hingga terendah (individu).



Apa yang tergambar di televisi malam itu sejatinya merupakan cermin minor yang bangsa kita. Sadar atau tidak bangsa ini sedang mengalami degradasi budi pekerti. Kita sedang mengalami krisis kehangatan dalam berbangsa. Sebaliknya, kebencian, kekerasan, dan perseteruan seperti mendapat panggung utama.

Hitungan tahun berganti, kita tak hentinya disuguhi aksi saling hujat, saling umpat, dan minus rasa hormat. Lantas apa sebenarnya pangkal dari krisis budi pekerti ini? Jawabannya hanya satu kata, "empati".

Krisis empati yang menjadi pangkal masalah yang akhir-akhir ini melanda Indonesia maupun dunia. Tanpa empati, seseorang jadi hidup dengan kacamata kuda. Melihat lurus pada preferensinya sendiri, tanpa peduli siapa yang sedang kita ajak berdiskusi.

Krisis empati membuat seseorang hanya memikirkan pandangannya tanpa peduli perasaan orang di sekelilingnya. Tanpa empati, setiap orang merasa berhak berkata atau mengunggah apapun di sosial media. Tanpa empati orang berhak memfitnah, menebar hoax, hingga mencerca.

Problem empati ini dirasakan Indonesia sejak era reformasi 1998. Pasca-keran kebebasan terbuka, semua merasa punya hak untuk berbicara, tanpa sadar adanya kewajiban untuk menjaga perasaan orang lain yang berbeda.

Pada 1801 seorang Thomas Jefferson sudah lebih jauh menyadari pentingnya empati di atas kebebasan dan demokrasi. Jefferson berpandangan bahwa rasa empati yang memuat kasih sayang harus selalu berada di atas kebebasan.

“Mari kita memulihkan hubungan sosial yang harmonis dan kasih sayang, tanpanya kebebasan dan bahkan kehidupan itu sendiri hanyalah hal-hal yang suram,” ujar Jefferson dalam pidato inaugurasinya.

Seperti dikatakan Jefferson, tanpa empati kebebasan berdemokrasi, berekspresi, atau berbicara malah bisa berujung perpecahan. Tanpa empati, demokrasi akan diekspresikan orang per orang dengan penuh sentimen. Yang satu pandangan politik akan dianggap baik dan selalu benar. Sedangkan yang pandangan politiknya berbeda akan dianggap jahat dan selalu salah.

Tanpa empati, setiap orang jadi merasa bebas mengekspresikan kebenciannya. Tanpa empati, orang-orang akan menjadikan hak berbicaranya untuk menghina martabat orang lain.

Semua fenomena ini harus dihentikan. Saatnya kita menempatkan empati kita sebagai manusia di atas pandangan politik atau pribadi.

Semua punya kewajiban untuk berempati. Pemimpin politik haruslah mengedepankan komentar yang empatik di depan publik. Pemimpin politik haruslah menebar kata-kata yang sejuk, bukan justru menyebarkan diksi-diksi tuna budi pekerti, apalagi kepada orang yang lebih tua.

Pun halnya Anda yang berstatus ulama, cedikiawan, tokoh publik, maupun pembesar negeri.  Jangan hanya memikirkan kebebasan berkomentar di depan publik, tanpa kewajiban untuk menjaga perasaan orang yang berbeda pandangan. Sebab tanpa itu, para tokoh itulah yang akhirnya membuat bangsa ini semakin dalam terjebak pada narasi kebencian.

Sudahilah bahasa-bahasa yang tidak simpatik. Toh, kritik dan pujian tentu tetap bisa disuarakan dengan bahasa wajar dan tak provokatif atau menyakiti hati. Sebab seperti itulah sejatinya budaya bangsa kita sesungguhnya. Budaya penuh budi pekerti, penuh empati, tepo seliro, dan tenggang rasa yang kini menjadi bahan pelajaran dunia, tapi justru mulai dilupakan di Indonesia.

Tak ada artinya jargon Pancasila jika dalam berpilaku tunahormat kepada sesama manusia. Mengakhiri tulisan ini, saya akan mengutip sebuah kisah di negeri antah berantah.

Syahdan, di sebuah negeri, seorang sepuh terlibat perbincangan hangat dengan seorang pejabat muda di sebuah negara. Pria sepuh membuka perbincangannya dengan sebuah kata tanya kepada sang pejabat.

"Jika boleh memilih, mana yang anda lebih inginkan, harta atau budi pekerti? tanyanya.

Kontan pejabat itu menjawab, "Jelas budi pekerti."

Si pejabat pun balik bertanya, "kalau Anda?"

Dengan mantab pria sepuh itu menjawab, "Saya pilih harta!"

Dipenuhi rasa heran, sang pejabat mempertanyakan alasan orang yang telah sepuh itu memilih harta dibanding budi pekerti?

Sang pria sepuh itu pun menjawab, "Adalah wajar bila seseorang menginginkan apa yang belum dimilikinya." [yy/republika]

Oleh Abdullah Sammy, wartawan Republika

Tak Perlu Tunjuk-tunjuk, Ini Etika Berdebat dalam Islam

Tak Perlu Tunjuk-tunjuk, Ini Etika Berdebat dalam Islam


Fiqhislam.com - Perdebatan biasa terjadi terutama saat kita memiliki perbedaan pendapat. Tapi bagaimana cara kita melakukannya? Seperti ini etika berdebat dalam Islam.

Adu argumen antara politikus PDIP Arteria Dahlan dengan ekonom Emil Salim terkait Perppu KPK jadi sorotan publik. Debat keduanya tersaji dalam program Mata Najwa episode Ragu-ragu Perpu yang ditayangan Trans7. Sikap Arteria Dahlan yang berdebat sambil tunjuk-tunjuk dan sebut Emil Salim sesat ini sangat disayangkan oleh netizen.

Dikutip dalam buku 'Solidaritas dan Toleransi Membangun Kebersamaan dalam Perbedaan' oleh Prof. Dr. A. Rahman Ritonga, M.A mengatakan, berdebat harus menggunakan kata santun dan menyenangkan orang lain. Tidak boleh menggunakan kata-kata keras dan kotor yang menyinggung pribadi yang berdebat.

Ada firman Allah SWT yang mengingatkan Musa dan Harun mengajari Firaun supaya tidak keterlaluan dalam mendurhakai Allah yakni:

"Pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, sesungguhnya dia telah melewati batas. (QS:20:43)"

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut. (QS: 20: 44)

Ayat ini mengandung pelajaran tentang pentingnya memelihara etika dalam berdebat.

Dikutip dalam nu.or.id akademisi Mohammad Syifa ketika menjelaskan "Etika Debat dan Dialog dalam Tradisi Keilmuan Islam dan Aplikasinya di Masa Kini". Dalam berdebat hendaklah mengedepankan hikmah dan mauidzatul hasanah. Berdebat juga harus mengedepankan kerendahan hati.

Kerendahan hati ini sudah dicontohkan oleh para ulama dalam etika berpendapat dan berdebat. Mereka selalu menyampaikan kalimat "wallahualm bisshowab" sebagai penutup pendapat mereka walaupun sudah melalui pemahaman yang mendalam dan sungguh-sungguh. Tak perlu tunjuk-tunjuk saat berdebat. [yy/news.detik]

Arteria Dahlan Sebut Emil Salim Sesat

Arteria Dahlan Sebut Emil Salim Sesat


Fiqhislam.com - Politikus PDIP Arteria Dahlan menerima banyak kecaman terkait sikapnya saat adu argumen dengan ekonom senior Profesor Emil Salim saat debat terkait Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) UU KPK.

Dalam program "Mata Najwa episode Ragu-ragu Perppu", Arteria menunjukkan sikap yang meluap -luap, sampai menunjuk-nunjuk Emil Salim.

Pada mulanya, Arteria bicara soal operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan KPK yang dinilainya dipandang publik berlebihan. Padahal, menurut dia, banyak janji KPK yang tidak tercapai.

Pernyataan Arteria itu kemudian dibalas Emil dengan menyinggung soal ketua partai yang terjerat kasus di KPK. "Apa semua ketua partai masuk penjara, apa itu tidak bukti keberhasilan KPK?" ujar Emil.

Tetapi menurut Arteria, penangkapan ketua partai itu sebagian kecil dari kerja KPK. Arteria menyoroti sejumlah hal mulai dari monitoring hingga pencegahan. Arteria bahkan 'menguliahi' profesor di almamaternya sendiri.

"Prof, gini loh, Prof dengan segala hormat saya sama profesor, profesor bacalah tugas fungsi kewenangan KPK, tidak hanya melakukan penindakan tapi bagaimana pencegahan," ucap Arteria.

"Bagaimana penindakannya, bagaimana juga supervisi, monitoring ini dan koordinasi ini tidak dikerjakan Prof, tolong jangan dibantah dulu Prof," ujar dia melanjutkan.

Arteria pun bicara soal alasan pembentukan dewan pengawas hingga sejumlah kasus korupsi yang menurut dia tak diangkat KPK, misalnya dana bencana, kasus KONI hingga kasus pasar Sawit. Emil Salim lantas mengatakan, ada kewajiban dalam UU KPK untuk menyampaikan laporan. Namun Arteria menepis hal tersebut.

"Mana Prof, saya di DPR, Prof. Tidak boleh begitu Prof, saya yang di DPR saya yang tahu, mana Prof? Sesat, ini namanya sesat," kata Arteria memotong pernyataan Emil dengan menunjuk-nunjuk Emil dengan posisi setengah berdiri.

Arteria dengan Emil Salim juga terus berdebat di segmen lain, misalnya soal demokrasi, pemilihan dan korupsi. Arteria pun menyinggung proses Emil menjadi Menteri Pertanian di era Soeharto, kali ini dengan suara keras. "Anda bisa jadi menteri karena proses politik di DPR, Pak jangan salah," ujar Arteri.

Bahkan, dalam beberapa perdebatan, Arteria masih terus menunjuk - nunjuk Emil, meskipun Emil sempat mengingatkan sikapnya. "Kasih contoh pak ke generasi muda kita, bernegara dengan baik, beradab dengan baik dan beretika dengan baik," kata Emil.

Sikap Arteria ini pun menuai kecaman warganet. Di Twitter, frasa 'Arteria Dahlan' bahkan memuncaki trending topic. Budayawan Sudjiwo Tejo melalui akun Twitter-nya @Sudjiwotejo bahkan menyarankan PDIP dan Megawati selaku ketua umum meminta maaf ke Emil Salim.

“Mbak Mega sebaiknya minta maaf kepada Bapak Emil Salim atas perlakuan kasar anggotanya terhadap sesepuh kita bersama itu. Bahkan bila salah pun, orangtua tak boleh dikasari. Begitu adab kita mengajar. Permintaan maaf langsung dari yg bersangkutan, sudah tidak level lagi, Mbak,” tulis Sudjiwo Tedjo.

Kemarahan warganet tak hanya di Twitter. Halaman Wikipedia Arteria Dahlan bahkan mengalami penyuntingan oleh seorang pengguna. Halaman Wikipedia Arteria sempat bertuliskan:

Arteria Dahlan, S.T., S.H., M.H.B.A.C.O.T adalah seorang tukang bacot, pengacara dan politisi yang gila hormat di Indonesia dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.Yak pokoknya buat keluarga beliau.. SABAR aja ya.. Gua yang bukan siapa-siapa aja malu apalagi kalian.. Sabar ya. [yy/republika]

Download hanya digunakan pada browser eksternal