5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Jadi Petarung ISIS, Bocah Asal Indonesia Tewas

Jadi Petarung ISIS, Bocah Asal Indonesia Tewas


Fiqhislam.com - Bocah 11 tahun asal Indonesia bernama Hatf Saiful Rasul dilaporkan meninggalkan bangku sekolah dan terbang ke Suriah untuk menjadi petarung ISIS. Kini, bocah itu diberitakan telah tewas.

Dilansir Reuters, Minggu (10/9/2017), awalnya Hatf mengunjungi ayahnya bernama Syaiful Anam di penjara berpengamanan tingggi. Hatf menjenguk ayahnya saat Pondok Pesantren tempatnya menimba ilmu sedang libur, Pondok Pesantren itu berada di kawasan Bogor. Syaiful Anam menceritakan soal ini dalam esai 12 ribu kata, diunggah secara daring.

"Pertama, saya tidak menanggapi dan mempertimbangkan itu sebagai guyonan anak kecil," tulisnya. "Namun ini menjadi berbeda ketika Hatf menyatakan keinginannya terus-menerus," kata dia.

Hatf memberi tahu ayahnya bahwa teman-teman dan guru-guru dari Ponpes telah pergi berperang untuk ISIS dan "menjadi martir di sana". Anam setuju melepasnya pergi ke medan perang. Dia mengatakan sekolah tempat Hatf belajar dikelola oleh "kawan-kawan seperjuangan yang menyebarkan ideologi kami".

Hatf kemudian pergi ke Suriah dengan kelompoknya pada 2015. Dia bergabung dengan kelompok petarung dari Prancis. Reuters berbicara kepada tiga pejabat antiterorisme Indonesia yang mengkonfirmasi kebenaran kabar ini.

Hatf adalah satu dari 12 orang dari Ponpes di Bogor itu yang pergi ke Timur Tengah untuk menjadi petarung ISIS. Terdiri dari delapan orang guru dan empat orang adalah pelajar. 18 Orang terkait Ponpes itu telah didakwa bersalah atau dalam penahanan terkait kasus penyerangan di Indonesia.

Ponpes yang disebutkan mengirim militas ISIS itu adalah Ponpes Ibnu Mas'ud. Juru bicara Ibnu Mas'ud, Jumadi, membantah sekolahnya mendukung ISIS atau mendukung kelompok militan lainnya, atau mengajarkan pemahaman ekstrem penuh kekerasan tentang Islam.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan Ibnu Mas'ud bukanlah pesantren yang teregistrasi. Pemerintahan daerah, Amin menambahkan, telah meminta penjelasan soal status ini.

Jomadi menyagakan bahwa pengacaran di sekilah "Tanpa kukirkulum tertentu". "Kami fokus kepada tahfiz, menghafal Alquran, dan hadits," imbuhnya. "Kami mengajarkan Bahasa Arab, tentang keyakinan, dan sejarah Islam," tuturnya.

Jumadi tak tahu menahu soal latar belakang kepergian Hatf ke Suriah. Mustanah, alumnus yang pernah dideportasi dari Irak pada Agustus lalu, mengatakan kepada polisi bahwa sejumlah mantan murid telah pergi ke Suriah.

Pada 1 September 2016, dua bulan setelah ulang tahun ke-13, Hatf dihunjam serangan udara. Tiga petempur ISIS asal Indonesia di kota Jarabulus Suriah ikut mati. [yy/news.detik]

Jadi Petarung ISIS, Bocah Asal Indonesia Tewas


Fiqhislam.com - Bocah 11 tahun asal Indonesia bernama Hatf Saiful Rasul dilaporkan meninggalkan bangku sekolah dan terbang ke Suriah untuk menjadi petarung ISIS. Kini, bocah itu diberitakan telah tewas.

Dilansir Reuters, Minggu (10/9/2017), awalnya Hatf mengunjungi ayahnya bernama Syaiful Anam di penjara berpengamanan tingggi. Hatf menjenguk ayahnya saat Pondok Pesantren tempatnya menimba ilmu sedang libur, Pondok Pesantren itu berada di kawasan Bogor. Syaiful Anam menceritakan soal ini dalam esai 12 ribu kata, diunggah secara daring.

"Pertama, saya tidak menanggapi dan mempertimbangkan itu sebagai guyonan anak kecil," tulisnya. "Namun ini menjadi berbeda ketika Hatf menyatakan keinginannya terus-menerus," kata dia.

Hatf memberi tahu ayahnya bahwa teman-teman dan guru-guru dari Ponpes telah pergi berperang untuk ISIS dan "menjadi martir di sana". Anam setuju melepasnya pergi ke medan perang. Dia mengatakan sekolah tempat Hatf belajar dikelola oleh "kawan-kawan seperjuangan yang menyebarkan ideologi kami".

Hatf kemudian pergi ke Suriah dengan kelompoknya pada 2015. Dia bergabung dengan kelompok petarung dari Prancis. Reuters berbicara kepada tiga pejabat antiterorisme Indonesia yang mengkonfirmasi kebenaran kabar ini.

Hatf adalah satu dari 12 orang dari Ponpes di Bogor itu yang pergi ke Timur Tengah untuk menjadi petarung ISIS. Terdiri dari delapan orang guru dan empat orang adalah pelajar. 18 Orang terkait Ponpes itu telah didakwa bersalah atau dalam penahanan terkait kasus penyerangan di Indonesia.

Ponpes yang disebutkan mengirim militas ISIS itu adalah Ponpes Ibnu Mas'ud. Juru bicara Ibnu Mas'ud, Jumadi, membantah sekolahnya mendukung ISIS atau mendukung kelompok militan lainnya, atau mengajarkan pemahaman ekstrem penuh kekerasan tentang Islam.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin, mengatakan Ibnu Mas'ud bukanlah pesantren yang teregistrasi. Pemerintahan daerah, Amin menambahkan, telah meminta penjelasan soal status ini.

Jomadi menyagakan bahwa pengacaran di sekilah "Tanpa kukirkulum tertentu". "Kami fokus kepada tahfiz, menghafal Alquran, dan hadits," imbuhnya. "Kami mengajarkan Bahasa Arab, tentang keyakinan, dan sejarah Islam," tuturnya.

Jumadi tak tahu menahu soal latar belakang kepergian Hatf ke Suriah. Mustanah, alumnus yang pernah dideportasi dari Irak pada Agustus lalu, mengatakan kepada polisi bahwa sejumlah mantan murid telah pergi ke Suriah.

Pada 1 September 2016, dua bulan setelah ulang tahun ke-13, Hatf dihunjam serangan udara. Tiga petempur ISIS asal Indonesia di kota Jarabulus Suriah ikut mati. [yy/news.detik]

Misteri Santri Berusia 11 Tahun di Bogor Bergabung ke ISIS dan Disorot Dunia

Misteri Santri Berusia 11 Tahun di Bogor Bergabung ke ISIS dan Disorot Dunia


Misteri Santri Berusia 11 Tahun di Bogor Bergabung ke ISIS dan Disorot Dunia


Fiqhislam.com - Hatf Saiful Rasul berusia 11 tahun saat dia mengatakan kepada ayahnya, Syaiful Anam, seorang terpidana kasus terorisme, bahwa dia ingin pergi ke Suriah untuk memperjuangkan ISIS. Bocah itu sebelum pergi ke Suriah merupakan santri di pondok pesantren Ibnu Mas’ud, di Sukajaya, Bogor, yang kini jadi sorotan media asing.

Hatf mengunjungi ayahnya di sebuah penjara dengan keamanan maksimum saat libur dari aktivitas di pesantren. Syaiful menuliskan kisah anak dan agamanya dalam esai 12.000 kata yang dipublikasikan secara online.

”Awalnya, saya tidak merespons dan menganggapnya hanya lelucon seorang anak,” tulis Syaiful. ”Tapi itu menjadi berbeda ketika Hatf menyatakan kesediaannya berulang kali.”

Hatf mengatakan kepada ayahnya bahwa beberapa teman dan guru dari pesantren Ibnu Mas'ud telah pergi untuk memperjuangkan kelompok Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). “Dan menjadi martir di sana,” lanjut tulisan Syaiful.

Syaiful akhirnya setuju untuk membiarkan anaknya pergi ke Suriah. Dalam esainya, pesantren tersebut dikelola oleh ”kawan yang berbagi ideologi” dengannya. Hatf pergi ke Suriah bersama sekelompok kerabat pada Tahun 2015, bergabung dengan sekelompok militan Prancis.

Reuters berbicara dengan tiga pejabat kontra-terorisme di Indonesia yang mengonfirmasi bahwa anak laki-laki tersebut memang pergi ke Suriah.

Dari dokumen pengadilan, data pendaftaran,  dan wawancara dengan petugas polisi anti-terorisme dan para mantan militan, Reuters melaporkan bahwa Hatf adalah satu dari sekitar 12 orang dari pesantren Ibnu Mas'ud yang pergi ke Timur Tengah untuk memperjuangkan ISIS atau setidaknya berusaha untuk pergi ke sana antara tahun 2013 hingga 2016.

Pesantren Membantah

Sedikitnya 18 orang lainnya yang terkait dengan lembaga pendidikan tersebut telah dipidana atau telah ditangkap karena berencana dan terlibat serangan militan di Indonesia. Menurut dokumen polisi dan sidang kontra-terorisme, data itu termasuk tiga serangan paling mematikan di Indonesia dalam 20 bulan terakhir.

Namun, Jumadi, juru bicara pondok pesantren Ibnu Mas'ud, seperti dilaporkan Reuters, membantah lembaga tersebut mendukung ISIS atau kelompok militan lainnya. Dia juga menyangkal bahwa pesantren mengajarkan interpretasi ekstrem.

Pondok pesantren Ibnu Masud yang telah berdiri selama satu dekade telah diawasi pihak berwenang Indonesia.

Irfan Idris, Kepala Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menyalahkan lemahnya undang-undang dan birokrasi karena tidak ada tindakan terhadap lembaga pendidikan semacam itu.

Kamaruddin Amin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam di Kementerian Agama RI, memberikan alasan mengapa pesantren di kaki Gunung Salak ini tidak ditutup.”Ibnu Mas'ud tidak pernah terdaftar sebagai pesantren,” katanya.

Pemerintah daerah setempat, ujar Kamaruddin, telah meminta penjelasan mengenai status pesantren itu, tapi tidak pernah mendapat tanggapan.

Jumadi menambahkan, Hatf belajar di pesantren Ibnu Mas'ud, tapi dia tidak tahu tentang riwayat kepergiannya ke Suriah. Dia juga mengaku tidak mengetahui adanya staf atau pun santri yang bepergian ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS, selain tiga guru dan satu santri yang ditahan di Singapura pada tahun lalu. [yy/okezone]

 

Tags: ISIS | Teror