25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Kelakar Dayak di Perbatasan: Garuda di Dada tapi Ringgit di Perut

Kelakar Dayak di Perbatasan: Garuda di Dada tapi Ringgit di Perut


Fiqhislam.com - Tapal batas Indonesia-Malaysia di Kalimantan Barat dihuni oleh masyarakat Dayak. Mereka sudah hidup di tempat itu jauh sebelum batas-batas negara terbentuk.

Pola kekerabatan Dayak di Indonesia dengan Dayak di Malaysia juga masih bertalian. Imaji komunitas berdasarkan persamaan budaya juga nyata ada. Lalu bagaimana kabar nasionalisme sebagai bangsa Indonesia? Adakah di hati mereka muncul rasa keterikatan persaudaraan dengan orang-orang dari Sabang sampai Merauke?

Di Kalimantan Barat, detikcom menyambangi Sanggau dan Sintang, dua kabupaten Indonesia yang punya wilayah berbatasan dengan Sarawak, Malaysia. Ada wilayah-wilayah perbatasan tertentu yang masih cukup sulit dijangkau dari pusat kota.

Soal Cinta NKRI dan Akses Jalan

Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Sintang, Jeffray Edward, menjelaskan memang pembangunan infrastruktur jalan di perbatasan di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah dijalankan. Ini sangat membantu masyarakat perbatasan berhubungan dengan kawasan lainnya di dalam negeri. sebut saja pembangunan Jalan Paralel Perbatasan.

Namun akses dari Jalan Paralel menuju daerah di Ibu Kota Kabupaten masih perlu menjadi perhatian. Ada akses jalan menuju lima kecamatan yang perlu diperhatikan, yakni Sintang, Binjai Hulu, Ketungau Hilir, Ketungau Tengah, dan Ketungau Hulu.

"Dan terus terang, kami tidak mampu dengan pembiayaan dari Kabupaten. Kami memohon dengan sangat dukungan dari pemerintah pusat untuk membantu masyarakat di sini. Karena bagaimanapun ini menjadi sarana dan prasarana masyarakat Kabupaten Sintang, terutama wilayah perbatasan," kata Jeffray kepada detikcom di sela Gawai Dayak, Jumat (14/7/2017).

Tak hanya soal pembangunan fisik, tapi pembangunan pendidikan juga perlu digenjot lagi. Tenaga kesehatanpun dirasanya masih sangat perlu ditingkatkan. Terlebih, tak semua tenaga pendidikan dan kesehatan bisa mengakses kawasan pelosok perbatasan. Dia berharap putra daerah Sintang sendiri bisa ditugaskan untuk mengabdi di daerahnya, tak sedikit dari putra daerah sudah berpendidikan sarjana dan pascasarjana.

"Karena kalau tenaga dari luar dan ditempatkan di sana, terus terang mereka agak kurang betah karena kondisinya sangat jauh. Harapan kita, pemerintah pusat bisa memprioritaskan masyarakat setempat yang punya kemampuan," ujar Ketua DPRD Kabupaten Sintang ini menyampaikan aspirasi.

Kondisi pembangunan yang menyentuh bibir perbatasan tentu saja berpengaruh terhadap rasa nasionalisme masyarakat Dayak di lokasi. Apapun kekurangan yang masih ada hingga kini, menurutnya kondisi sekarang sudah mendingan ketimbang tahun-tahun yang telah lampau.

Dulu, aktivitas ekonomi masyarakat Dayak perbatasan sangat erat bergantung ke Malaysia, bukan ke Indonesia. Ini karena akses ke Malaysia jauh lebih gampang. Misalnya saja saat mereka harus menjual hasil bumi, mereka tak mungkin menempuh jarak yang jauh dengan kondisi medan yang berat hanya demi menjauhkan diri dari hubungan dengan Malaysia.

Pilihan menjual hasil bumi dan barang dagangan ke Malaysia adalah pilihan praktis yang dipengaruhi kondisi riil, bukan masalah suka atau tidak suka. Berhubungan dengan Malaysia bukan berarti itu menunjukkan masyarakat tidak cinta Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Memang dulu sebelum infrastruktur kita ditangani, kita melihat bahwa mereka juga menjalin ekonomi dengan daerah tetangga (Malaysia), karena tidak mungkin mereka menjual ke daerah kita karena daerah perbatasan jauh sekali. Bukan berarti mereka tidak cinta NKRI kalau dulu," tutur Jeffray.

Dulu pada 2011, menjelang perayaan kemerdekaan 17 Agustus, pernah ada kabar sensasional tentang seorang Kepala Desa Mungguk Gelombang di Sintang yang mengancam akan mengibarkan Bendera Malaysia. Jeffray ingat betul ramainya pembicaraan soal itu. Namun kini kondisinya sudah berubah, katanya.

Tak perlu meragukan nasionalisme masyarakat Dayak di perbatasan. Kini dengan adanya pembangunan Jalan Paralel Perbatasan, mereka sudah bisa lebih intens berhubungan dengan kawasan dalam teritorial Indonesia. Beberapa bulan lalu ada Gawai Dayak di kawasan perbatasan yang digelar masyarakat. Jeffray datang langsung dan dia melaporkan suasana yang terbentuk sangatlah nasionalis.

"Sekarang kondisinya, mereka sangat senang. Saya sudah ke sana. Mereka dengan semangat mengibarkan bendera merah putih. Bahkan kemarin saya pergi Gawai bersama Pak Bupati Sintang, bahkan ada Pak Komandan Kodim. Masyarakat perbatasan sudah mengibarkan Bendera Merah Putih di sepanjang jalan, ini wujud kecintaan mereka kepada NKRI. Ini tugas kita selaku bangsa dan pemerintah untuk memperhatikan masyarakat kita di wilayah perbatasan ini," kata Jeffray.

Soal Ringgit Malaysia

Tak dapat dipungkiri, mata uang Ringgit Malaysia memang masih menjadi alat tukar di beranda negara ini, terlebih di pelosok-pelosok yang sangat susah dijangkau transportasi dari Indonesia. Bagi masyarakat yang lebih mudah menjalin hubungan dagang dengan Malaysia sekadar untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, mata uang Rupiah memang menjadi pilihan nomor dua.

Bahkan di era penggalakan pembangunan infrastruktur perbatasan sekarang, masih ada juga masyarakat yang menggunakan Ringgit atau menjual dagangannya ke Malaysia dan mendapat duit Ringgit. Tak terkecuali masyarakat Kabupaten Sanggau.

Di sini ada Desa Suruh Tembawang yang memuat dusun-dusun perbatasan seperti Gun Tembawang dan Gun Jemak yang masih sulit dicapai bila orang berangkat dari teritorial Indonesia. Bagi warga di situ, akses menuju wilayah Malaysia yakni dari Gun Sapit justru jauh lebih mudah ketimbang harus ke Entikong. Dengan adanya Jalan Inspeksi Patroli Perbatasan yang sudah mulai dibangun, mereka mulai sedikit demi sedikit berusaha berkontak dagang dengan Entikong.

"Akses ekonomi sekarang pelan-pelan mereka sudah menjual hasil ekonomi ke Entikong. Walaupun masih ada kecenderungan menjual ke Malaysia, karena harga di sana lebih baik," kata Bupati Sanggau, Paolus Hadi, saat berbincang dengan detikcom di Rumah Dinasnya yang tak jauh dari Sungai Kapuas, Kamis (13/7/2017). [yy/news.detik]

 

Tags: Dayak | Perbatasan