2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Netizen: Buku Ini Kontroversi, Menyesatkan dan Usut Tuntas!

Netizen: Buku Ini Kontroversi, Menyesatkan dan Usut Tuntas!


Fiqhislam.com - Belakangan ini di beberapa grup WhatApss dan media sosial diramaikan dengan postingan sebuah buku anak yang berjudul "Aku Berani Tidur Sendiri". Buku yang ditulis oleh  Fita Chakra dan diterbitkan Tiga Ananda, menuai keberatan dan kritik dari masyarakat dan Netizen. Pasalnya mereka menilai buku ini tidak dibenarkan untuk anak-anak lantaran isi dan ceritanya mengandung unsur seksual, pornografi yang tidak pas bagi dunia si kecil.

Para Netizen menyebutkan keberatan mereka pada salah satu cerita seperti: Aku menemukan permainan baru yang mengasyikkan. Sesekali, aku memasukkan tanganku ke dalam celana. Aku mengulang. Lagi dan lagi.

Di media sosial Facebook melalui akun @Semiotikaadiluhung45 ketika menulis di statusnya tentang buku ini langsung menjadi diskusi menarik.Memang buku tersebut merupakan pendidikan seks dini kepada anak-anak dan rencananya buku yang kini dalam proses penarikan akan ditempeli cap "Bimbingan Orangtua." Toh, sekarang di media sosial Instagram dan Twitter para Netizennya ramai menyoalkan buku ini.

Pada akun @sekarci menulis, "Oooohhhh, buku edukasi seks... Yayayayyaa.... Paham paham paham... Tapi memang karena bahasanya sangat sederhana jadi seakan buku ini hadir dengan harapan teknisnya anak tidak memerlukan pendamping ketika membaca.. Tapi.. Yah memang agak salah sih kalau sampai begitu... Semoga semakin banyak buku atau artikel sex education yg lebih tepat strateginya."

Sementara akun @familyhappy berkomentar, "Sedih dan prihatian, dalam situasi begini, anak-anak dijejeli buku seperti ini. Isinya mengajarkan anak untuk mengenal seks dalam tafsir sendiri.Prihatin mendalam."

Kemudian akun @novita_maharani_ mengatakan, "Ini JAHAT !!! klo anak yg ga pnh tau ttg hal tsb trs baca ini halaman per halaman apa bkn nya malah penasaran... #USUTTUNTAS."

Ada juga yang menulis, "Mengapa ketika publik diberikan buku edukasi seks, "malah heboh"? Hm..., ya gitu deh pendidikan seks di Indonesia "masih tabu."

Atau akun @annisaa97 berkomentar, " wkwkwk giliran dikasih buku sex ed buat anak kecil malah heboh, udah tau di indo sex ed buat bocah ampe remaja masih tabu ya begini akibatnya," [yy/tempo]

Netizen: Buku Ini Kontroversi, Menyesatkan dan Usut Tuntas!


Fiqhislam.com - Belakangan ini di beberapa grup WhatApss dan media sosial diramaikan dengan postingan sebuah buku anak yang berjudul "Aku Berani Tidur Sendiri". Buku yang ditulis oleh  Fita Chakra dan diterbitkan Tiga Ananda, menuai keberatan dan kritik dari masyarakat dan Netizen. Pasalnya mereka menilai buku ini tidak dibenarkan untuk anak-anak lantaran isi dan ceritanya mengandung unsur seksual, pornografi yang tidak pas bagi dunia si kecil.

Para Netizen menyebutkan keberatan mereka pada salah satu cerita seperti: Aku menemukan permainan baru yang mengasyikkan. Sesekali, aku memasukkan tanganku ke dalam celana. Aku mengulang. Lagi dan lagi.

Di media sosial Facebook melalui akun @Semiotikaadiluhung45 ketika menulis di statusnya tentang buku ini langsung menjadi diskusi menarik.Memang buku tersebut merupakan pendidikan seks dini kepada anak-anak dan rencananya buku yang kini dalam proses penarikan akan ditempeli cap "Bimbingan Orangtua." Toh, sekarang di media sosial Instagram dan Twitter para Netizennya ramai menyoalkan buku ini.

Pada akun @sekarci menulis, "Oooohhhh, buku edukasi seks... Yayayayyaa.... Paham paham paham... Tapi memang karena bahasanya sangat sederhana jadi seakan buku ini hadir dengan harapan teknisnya anak tidak memerlukan pendamping ketika membaca.. Tapi.. Yah memang agak salah sih kalau sampai begitu... Semoga semakin banyak buku atau artikel sex education yg lebih tepat strateginya."

Sementara akun @familyhappy berkomentar, "Sedih dan prihatian, dalam situasi begini, anak-anak dijejeli buku seperti ini. Isinya mengajarkan anak untuk mengenal seks dalam tafsir sendiri.Prihatin mendalam."

Kemudian akun @novita_maharani_ mengatakan, "Ini JAHAT !!! klo anak yg ga pnh tau ttg hal tsb trs baca ini halaman per halaman apa bkn nya malah penasaran... #USUTTUNTAS."

Ada juga yang menulis, "Mengapa ketika publik diberikan buku edukasi seks, "malah heboh"? Hm..., ya gitu deh pendidikan seks di Indonesia "masih tabu."

Atau akun @annisaa97 berkomentar, " wkwkwk giliran dikasih buku sex ed buat anak kecil malah heboh, udah tau di indo sex ed buat bocah ampe remaja masih tabu ya begini akibatnya," [yy/tempo]

3 Masukan dari Depdikbud untuk Buku Anak Kontroversi Ini!

3 Masukan dari Depdikbud untuk Buku Anak Kontroversi Ini!


3 Masukan dari Depdikbud untuk Buku Anak Kontroversi Ini!


Fiqhislam.com - Beredarnya buku cerita anak “Aku Berani Tidur Sendiri,” sebuah judul dari seri “Aku Belajar Mengendalikan Diri”, yang diterbitkan Penerbit Tiga Ananda, lini Penerbit Tiga Serangkai, memancing reaksi masyarakat luas.

Masyarakat merespon narasi teks dan ilustrasi pada buku yang membahas secara detil tentang kegiatan ‘masturbasi’ pada anak usia dini. Kendati Penerbit sudah menarik buku tersebut dari pasaran, namun publikasi media dan reaksi masyarakat masih menguat.  

Mengomentari masalah ini, Satuan Tugas Gerakan Literasi Sekolah (Satgas GLS) Kemendikbud mengirimkan surat (elektronik) kepada Penerbit Tiga Ananda, pada Selasa, 21 Februari 2017. Melalui surat elektronik atau imel yang juga ditembuskan kepada Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan sejumlah pihak di lingkungan Kemendikbud.Adapun tiga masukan dari Satgas GLS dalam surat tersebut sebagai berikut:

Pertama, pendidikan seks untuk anak adalah materi yang sangat kompleks dan membutuhkan pendekatan multidisipliner dengan mempertimbangkan aspek kesehatan, pendidikan, dan psikologi anak. Dalam penyampaiannya di ruang publik, materi ini perlu dikemas dengan mempertimbangkan norma kepatutan dan agama yang dianut oleh masyarakat.

Kedua, buku anak bergambar adalah media multimoda yang melibatkan teks bahasa, teks visual atau ilustrasi, didukung dengan warna, penataan atau layout, juga gestur, ekspresi wajah tokoh yang keseluruhannya mempengaruhi pemahaman anak terhadap konten cerita.

Apabila buku ini dibacakan kepada pembaca anak, maka teks auditori narasi orang dewasa ketika membacakan cerita juga diskusi dialogis yang terjadi ketika sesudah cerita dibacakan akan mempengaruhi persepsi pembaca anak tentang materi cerita.

Ketiga, buku anak bergambar bukan hanya berfungsi sebagai media didaktik, yaitu media bagi orang dewasa untuk menyampaikan nilai-nilai kepada anak, namun juga berperan sebagai sarana yang menghibur anak dan memuaskan rasa ingin tahu mereka.

Dengan kekhasan ini, bacaan anak harus memuat materi yang mudah dipahami, sesuai dengan daya nalar, dan disampaikan dengan elemen atau kebahasaan dan visual yang baik dan menarik. [yy/tempo]