23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

KBRI Khartoum Bantah Kabar Penangkapan Pasukan Indonesia di Sudan

KBRI Khartoum Bantah Kabar Penangkapan Pasukan Indonesia di Sudan


Fiqhislam.com - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Khartoum, Republik Sudan membantah kabar ditangkapnya pasukan Indonesia yang tergabung dalam misi menjaga perdamaian campuran di Darfur (UNAMID). Kabar menyebut mereka ditangkap di Bandara Al Fashir, Sudan, karena mencoba menyelundupkan senjata dan amnunisi yang disamarkan, seperti mineral berharga, pada Jumat (20/1) waktu setempat.

"Tidak benar (kabar penangkapan)," kata Pelaksana Fungsi Politik dan Konsuler KBRI Khartoum, Asrarudin Salam kepada Republika.co.id, Senin (23/1).

Asra, panggilan akrabnya, mengatakan tidak ada satu pun pasukan Indonesia yang ditangkap di Bandara Al Fashir. "(Mereka) hanya kembali ke camp dan ditunda penerbangannya," ujar dia.

Ia mengaku belum bisa memberikan penjelasan lebih jauh karena masih mengumpulkan informasi lengkap.
Sebelumnya beredar kabar pasukan Indonesia yang tergabung dalam misi menjaga perdamaian campuran di Darfur (UNAMID) ditangkap pada Jumat (20/1) waktu setempat di bandara Al Fashir, Sudan. Mereka mencoba menyelundupkan senjata dan amunisi yang disamarkan, seperti mineral berharga.

Informasi dari the Sudanese Media Centre menyebutkan berbagai senjata dan amunisi yang diselundupkan meliputi 29 senapan Kalashnikov, empat senapan, enam senapan GM3 dan 61 berbagai jenis pistol, dan juga berbagai amunisi dalam jumlah besar. UNAMID dikabarkan meluncurkan penyelidikan setelah mengetahui insiden itu.

Kekuatan UNAMID Indonesia itu berangkat setelah menyelesaikan layanan dalam kerangka perubahan rutinitas. Menurut pers Indonesia pada pekan lalu, Polri mengerahkan gugus tugas yang terdiri dari 140 personel untuk Darfur, sebagai bagian dari misi menjaga perdamaian untuk menggantikan tim sebelumnya dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Misi campuran telah dikerahkan di Darfur sejak Desember 2007 dengan mandat menghentikan kekerasan terhadap warga sipil di wilayah Sudan barat itu. Ini adalah pasukan penjaga perdamaian internasional terbesar kedua dunia dengan anggaran tahunan 1,35 miliar dolar AS dengan hampir 20 ribu tentara. [yy/republika]