30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Tiga Penghinaan Australia yang Buat TNI Marah

Tiga Penghinaan Australia yang Buat TNI Marah


Fiqhislam.com - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana mengatakan, tindakan Panglima TNI untuk menangguhkan sementara kerja sama militer dengan Australian Defence Force (ADF) adalah langkah yang tepat. "Ini menanggapi insiden di pusat pendidikan pasukan khusus Australia atas tiga hal," ujar Hikmahanto Juwana di Jakarta, Rabu (4/1).

Pertama, pendiskreditan peran Sarwo Edhie dalam Gerakan 30 September PKI. Kedua, esai yang ditulis peserta didik terkait masalah Papua. Terakhir, tulisan Pancasila di ruang Kepala Sekolah yang seolah melecehkan ideologi Pancasila.

Ia menegaskan, penangguhan kerja sama merupakan tindakan yang tepat karena Panglima ADF menjanjikan untuk melakukan investigasi atas hal ini. Penangguhan dilakukan selama investigasi berlangsung hingga hasil nantinya diumumkan.

"Kemungkinan hasil investigasi adalah kesalahan dilakukan oleh oknum personel militer ADF dan bukan merupakan sikap resmi dari ADF, bahkan sikap resmi pemerintah Australia," ujar dia.

Atas tindakan oknum personil tersebut, ADF akan menyatakan akan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Ia mengatakan, hasil investigasi akan menyelamatkan kerja sama militer TNI dan ADF. ADF dan Pemerintah Australia lebih mengutamakan hubungan baik dengan Indonesia ketimbang melindungi personel milternya.

"Peristiwa ini bagi Indonesia menjadi preseden yang baik agar Australia melalui pejabat-pejabatnya tidak mudah melakukan tindakan pelecehan terhadap tokoh Indonesia ataupun merendahkan isu yang sensitif bagi Indonesia," kata dia. [yy/republika]

Tiga Penghinaan Australia yang Buat TNI Marah


Fiqhislam.com - Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia (UI), Hikmahanto Juwana mengatakan, tindakan Panglima TNI untuk menangguhkan sementara kerja sama militer dengan Australian Defence Force (ADF) adalah langkah yang tepat. "Ini menanggapi insiden di pusat pendidikan pasukan khusus Australia atas tiga hal," ujar Hikmahanto Juwana di Jakarta, Rabu (4/1).

Pertama, pendiskreditan peran Sarwo Edhie dalam Gerakan 30 September PKI. Kedua, esai yang ditulis peserta didik terkait masalah Papua. Terakhir, tulisan Pancasila di ruang Kepala Sekolah yang seolah melecehkan ideologi Pancasila.

Ia menegaskan, penangguhan kerja sama merupakan tindakan yang tepat karena Panglima ADF menjanjikan untuk melakukan investigasi atas hal ini. Penangguhan dilakukan selama investigasi berlangsung hingga hasil nantinya diumumkan.

"Kemungkinan hasil investigasi adalah kesalahan dilakukan oleh oknum personel militer ADF dan bukan merupakan sikap resmi dari ADF, bahkan sikap resmi pemerintah Australia," ujar dia.

Atas tindakan oknum personil tersebut, ADF akan menyatakan akan mengambil tindakan terhadap mereka yang bertanggung jawab.
Ia mengatakan, hasil investigasi akan menyelamatkan kerja sama militer TNI dan ADF. ADF dan Pemerintah Australia lebih mengutamakan hubungan baik dengan Indonesia ketimbang melindungi personel milternya.

"Peristiwa ini bagi Indonesia menjadi preseden yang baik agar Australia melalui pejabat-pejabatnya tidak mudah melakukan tindakan pelecehan terhadap tokoh Indonesia ataupun merendahkan isu yang sensitif bagi Indonesia," kata dia. [yy/republika]

Australia Minta Maaf Atas Kasus Pelecehan Pancasila

Australia Minta Maaf Atas Kasus Pelecehan Pancasila


Tiga Penghinaan Australia yang Buat TNI Marah


Fiqhislam.com - Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengatakan Menhan Australia Marise Payne meminta maaf kepada Indonesia terkait adanya kasus pelecehan Pancasila yang dilakukan salah satu anggota Australian Defence Force (ADF).

"Menhan Australia sudah mengirimkan surat kepada saya pagi ini yang mengungkapkan permohonan maaf karena terjadinya insiden itu," ujar Ryamizard di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Kamis (5/1).

Selain mengirimkan surat permohonan maaf, menurut dia, Marise Payne juga telah menelepon dirinya secara langsung pada Kamis siang, dan kembali mengungkapkan penyesalannya atas kasus pelecehan Pancasila yang melibatkan anggota Angkatan Pertahanan Australia tersebut.

"Menhan Australia juga menyampaikan akan mengusut kasus ini sampai tuntas dan tegas dalam menindaklanjuti kejadian ini," katanya.

Ryamizard mengatakan pihaknya telah menerima permintaan maaf itu dan menghormati sikap Australia tersebut. "Nanti suratnya akan saya laporkan (ke Presiden)," ujarnya kemudian.

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo telah menangguhkan sementara kerja sama militer dengan Australian Defence Force (ADF) sejak pertengahan Desember 2016. Kapuspen TNI, Mayjen TNI Wuryanto, menuturkan kerja sama ditangguhkan karena ada beberapa masalah teknis yang perlu dibahas terkait hal tersebut.

Namun, dia tidak merinci pembahasan teknis yang dimaksud. Menurutnya, dengan adanya penangguhan ini latihan militer bersama dan pertukaran perwira antara Indonesia dengan Australia saat ini dihentikan. [yy/republika]

Menhan Australia Pastikan Usut Tuntas Dugaan Penghinaan Pancasila

Menhan Australia Pastikan Usut Tuntas Dugaan Penghinaan Pancasila


Menhan Australia Pastikan Usut Tuntas Dugaan Penghinaan Pancasila


Fiqhislam.com - Pemerintah Australia menyampaikan penyesalan terkait adanya dugaan penghinaan terhadap Pancasila dan pasukan militer Indonesia. Menteri Pertahanan Australia Marise Payne mengatakan penyelidikan atas kasus tersebut akan dilakukan secara menyeluruh.

Dugaan penghinaan itu juga disebut menjadi alasan utama penundaan kerjasama militer Indonesia dan Australia. Kejadian bermula dari penemuan materi pengajaran di pangkalan tentara yang melecehkan Tanah Air.

Diantaranya adalah sebuah poster yang memuat Pancasila, namun disebut dengan nada plesetan yaitu Pancagila. Kemudian, ada materi yang mengatakan okupasi militer di Papua Barat dan pasukan keamanan Indonesia termasuk Kopassus membunuh banyak orang di wilayah itu sejak 1969.

Menteri Pertahanan Australia Marise Payne mengatakan penyelidikan di pangkalan militer Campbell Barracks dilakukan waktu dekat. Bahan-bahan yang diduga mengandung unsur penghinaan akan diperiksa secara jelas.

"Kami mengungkapkan penyeselan terhadap hal yang merupakan pelanggaran ini. Australia tidak ingin membuat kekhawatiran lebih lanjut dari Indonesia terhadap hal ini," ujarnya.

Atas adanya penemuan penghinaan itu, militer Indonesia secara independen memutusk kerjasama dengan Australia. Namun, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan penyelidikan terhadap dugaan itu akan terlebih dahulu dilakukan oleh Menteri Pertahanan dan Kepala Militer.

Kerjasama militer yang dijalin Indonesia dan Australia dalam beberapa tahun terakhir mengalami jalan berbatu. Pada 2013 lalu, Indonesia menangguhkan latihan bersama pasukan negara setelah dugaan Australia melakukan pengintaian dan penyadapan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono serta orang-orang terdekatnya.

Jauh sebelum itu, Australia juga pernah menghentikan latihan dengan unit Kopassus Indonesia karena dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang terjadi di Timor Timur pada 1999. Namun, hubungan kedua negara beberapa tahun kemudian mulai membaik dan berjalan normal.

Meski demikian, insiden kali ini disebut tidak akan menghentikan hubungan bilateral dua negara. Jokowi juga mengatakan kasus dugaan penghinaan Australia harus diklarifikasi lebih dahulu di tingkat operasional.

"Saya pikir hubungan kami dan Australia tetap dalam kondisi baik dan masalah ini arus diklarifikasi terlebih dahulu sehingga situasi tidak memanas," jelasnya. [yy/republika]