5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Jumlah Orang Miskin di Indonesia Capai 28,01 Juta

Jumlah Orang Miskin di Indonesia Capai 28,01 Juta

Fiqhislam.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia 28,01 juta atau 10,86 persen pada Maret 2016, berkurang dibanding September 2015 yang tercatat 28,51 juta orang atau 11,13 persen.

"Jumlah penduduk miskin menurun karena selama September 2015 inflasi rendah dan terkendali, yaitu 1,71 persen," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers tentang profil kemiskinan Indonesia Maret 2016 di Jakarta, Senin (18/7).

Faktor lain yang memengaruhi penurunan penduduk miskin adalah rata-rata harga kebutuhan pokok yang turun selama periode September 2015 sampai Maret 2016, seperti misalnya harga daging ayam ras sebesar 4,08 persen (dari Rp 37.742 menjadi Rp 36.203). 

Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga menurun di mana pada Agustus 2015 sebesar 6,18 persen menjadi 5,5 persen pada Februari 2016. "Penurunan tingkat pengangguran terbuka tersebut berperan meningkatkan pendapatan bagi sebagian masyarakat," kata Suryamin.

Faktor berikutnya yang memengaruhi penurunan penduduk miskin adalah nilai rata-rata upah buruh petani per hari Maret 2016 dibanding September 2015 naik 1,75 persen dari Rp 46.793 menjadi Rp 47.559. Nilai rata-rata upah buruh bangunan per hari Maret 2016 dibanding September 2015 naik 1,23 persen dari Rp 79.657 menjadi Rp 81.481.

Dari jumlah penduduk miskin nasional, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2015 tercatat 8,22 persen juga turun menjadi 7,79 persen pada Maret 2016. Sementara persentase penduduk miskin di daerah pedesaan naik dari 14,09 persen pada September 2015 menjadi 14,11 persen pada Maret 2016.

Selama periode September 2015 sampai Maret 2016, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun 0,28 juta orang (10,62 juta menjadi 10,34 juta), dan di pedesaan turun 0,22 juta orang (17,89 juta menjadi 17,67 juta). [yy/republika]

Jumlah Orang Miskin di Indonesia Capai 28,01 Juta

Fiqhislam.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia 28,01 juta atau 10,86 persen pada Maret 2016, berkurang dibanding September 2015 yang tercatat 28,51 juta orang atau 11,13 persen.

"Jumlah penduduk miskin menurun karena selama September 2015 inflasi rendah dan terkendali, yaitu 1,71 persen," kata Kepala BPS Suryamin dalam konferensi pers tentang profil kemiskinan Indonesia Maret 2016 di Jakarta, Senin (18/7).

Faktor lain yang memengaruhi penurunan penduduk miskin adalah rata-rata harga kebutuhan pokok yang turun selama periode September 2015 sampai Maret 2016, seperti misalnya harga daging ayam ras sebesar 4,08 persen (dari Rp 37.742 menjadi Rp 36.203). 

Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga menurun di mana pada Agustus 2015 sebesar 6,18 persen menjadi 5,5 persen pada Februari 2016. "Penurunan tingkat pengangguran terbuka tersebut berperan meningkatkan pendapatan bagi sebagian masyarakat," kata Suryamin.

Faktor berikutnya yang memengaruhi penurunan penduduk miskin adalah nilai rata-rata upah buruh petani per hari Maret 2016 dibanding September 2015 naik 1,75 persen dari Rp 46.793 menjadi Rp 47.559. Nilai rata-rata upah buruh bangunan per hari Maret 2016 dibanding September 2015 naik 1,23 persen dari Rp 79.657 menjadi Rp 81.481.

Dari jumlah penduduk miskin nasional, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada September 2015 tercatat 8,22 persen juga turun menjadi 7,79 persen pada Maret 2016. Sementara persentase penduduk miskin di daerah pedesaan naik dari 14,09 persen pada September 2015 menjadi 14,11 persen pada Maret 2016.

Selama periode September 2015 sampai Maret 2016, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun 0,28 juta orang (10,62 juta menjadi 10,34 juta), dan di pedesaan turun 0,22 juta orang (17,89 juta menjadi 17,67 juta). [yy/republika]

Ekonomi Tumbuh, Darmin: Kemiskinan Tak Otomatis Turun

Ekonomi Tumbuh, Darmin: Kemiskinan Tak Otomatis Turun

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution mengatakan pertumbuhan ekonomi yang meningkat tak serta-merta membuat angka kemiskinan menurun. Darmin mengatakan kedua hal itu tidak mesti memiliki hubungan sebab-akibat.

"Memang tidak otomatis begitu," kata Darmin saat ditemui wartawan di kantor Kementerian Koordinator Perekonomian di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, Senin, 18 Juli 2016.

Pernyataan tersebut merespons pengumuman Kepala Badan Pusat Statistik Suryamin soal jumlah penduduk miskin di Indonesia per Maret 2016 yang mencapai 28,01 juta orang. Angka ini sekitar 10,86 persen dari jumlah penduduk nasional. 

"Berkurang sebesar 500 ribu orang dibanding pada September 2015, yang berjumlah 28,51 juta orang," kata Suryamin. Jumlah penduduk miskin tersebut turun 0,58 juta orang dibanding pada periode Maret tahun sebelumnya.


Sebelumnya, BPS juga merilis tingkat pertumbuhan ekonomi per kuartal pertama tahun ini mencapai 4,92 persen atau turun dibanding kuartal sebelumnya, yakni kuartal keempat tahun lalu, sebesar 5,04 persen. Bila ada korelasi yang baik, tingkat kemiskinan per kuartal pertama tahun ini naik. Tapi, ternyata, BPS mengumumkan jumlah penduduk miskin malah turun. 

Lebih jauh Darmin menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan pertumbuhan kegiatan ekonomi dibandingkan dengan kegiatan ekonomi yang ada sebelumnya. Sedangkan kemiskinan melihat orang-orang yang penghasilannya paling rendah, apakah di bawah atau di atas garis kemiskinan.

Meningkatnya angka kemiskinan, menurut Darmin, bukan karena jumlah barang dan jasa bertambah, melainkan karena harga barang naik. Bahkan, kalau harga-harga tidak naik secara signifikan, angka kemiskinan tak akan banyak berubah. "Itu makanya tingkat kemiskinan turun."

Menteri Darmin menuturkan bahwa tingkat kemiskinan yang menurun salah satunya karena harga bahan kebutuhan pokok stabil. Namun ia mengakui belum melihat angka hasil survei BPS tersebut. [yy/tempo]

Tax Amnesty Kurang Ampuh Atasi Kemiskinan RI

Tax Amnesty Kurang Ampuh Atasi Kemiskinan RI

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai, program pengampunan pajak atau tax amnesty yang diusung pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) kurang ampuh mengatasi kemiskinan di Tanah Air. Saat ini, jumlah penduduk miskin di Indonesia telah mencapai 28,01 juta jiwa.

Deputi Bidang Statistik Sosial BPS M Sairi Hasbullah mengatakan, kebijakan makro seperti tax amnesty tidak akan secara langsung berpengaruh terhadap angka kemiskinan di Indonesia. Butuh waktu lama untuk kemudian memberikan dampak terhadap kemiskinan.

"Tidak secara langsung (tax amnesty) kalo berhubungan dengan kemiskinan. Orang miskin desil 1 dan 2 betul-betul mereka katakanlah buruh tani, petani gurem, petani serabutan, pekerja serabutan. Kebijakan ekonomi makro seperti tax amnesty tidak secara langsung berpengaruh seketika. Butuh waktu lama," kata dia di Gedung BPS, Jakarta, Senin (18/7/2016).

Menurutnya, dampak program tax amnesty terhadap angka kemiskinan baru akan terasa setelah tiga hingga empat tahun kebijakan tersebut digulirkan. Sebab, program tersebut lebih dulu menstimulus pertumbuhan ekonomi baru kemudian akan berdampak ke sektor lainnya.

"3 sampai 4 tahun baru terasa (tax amnesty terhadap kemiskinan Indonesia). Karena dia akan menstimulus dulu pertumbuhan ekonomi, baru akan berpengaruh ke pengurangan penduduk miskin. Jadi harus ada mata rantai yang harus dilalui," tandasnya. [yy/sindonews]

Separuh Orang Miskin Indonesia Bermukim di Jawa

Separuh Orang Miskin Indonesia Bermukim di Jawa

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan, Pulau Jawa menjadi wilayah yang memiliki jumlah penduduk miskin paling banyak se-Indonesia selama periode Maret 2016. Jumlah orang miskin di Jawa mencapai 14,97 juta jiwa atau lebih dari separuh penduduk miskin Indonesia yang mencapai 28,01 juta jiwa.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, jika dilihat secara persentase, penduduk miskin yang ada di Papua dan Maluku memang paling besar yaitu sekitar 22,09%. Namun, jika dilihat berdasarkan jumlah penduduknya, maka jumlahnya masih terbilang kecil.

"Yang paling besar kalau persentasenya ya di Papua lah, penduduknya total hanya 1,54 juta tapi persentasenya hanya 22,09%. Memang penduduknya enggak banyak," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Senin (18/7/2016).

Dia menuturkan, Bali dan Nusa Tenggara menempati posisi kedua jumlah penduduk miskin berdasarkan persentase yaitu sekitar 14,96% atau 2,14 juta jiwa. Posisi ketiga, Sumatera yang mencapai 11,22% dengan jumlahnya mencapai 6,28 juta oarang.

Sementara di Jawa, sambung Suryamin, secara persentase tidak terlalu besar yaitu hanya 10,23%. Namun, jika dilihat dari jumlah penduduknya maka orang miskin yang ada di Jawa adalah yang paling besar dengan jumlah sekitar 14,97 juta jiwa.

"Jawa (persentase penduduk miskin) sebesar 10,23%. Tetapi jumlahnya di Jawa adalah 14,97 juta orang. Lebih dari separuh dari 28,01 juta (total penduduk miskin di Indonesia). Jadi yang miskin itu paling banyak di Jawa. Tapi persentasenya paling rendah karena penduduknya banyak," imbuh dia.

Suryamin menambahkan, untuk jumlah penduduk miskin terendah pada periode tersebut terdapat di wilayah Kalimantan dengan persentase sekitar 6,26% atau dengan jumlah 0,97 juta jiwa. Menurutnya, penduduk di wilayah tersebut tidak terlalu banyak namun cukup diuntungkan dengan kekayaan tambang dan perkebunan yang ada.

"Penduduknya enggak terlalu banyak tetapi cukup menghasilkan barang tambang dan perkebunan yang cukup banyak. Jadi yang cukup banyak itu jumlah dari sisi absolutnya adalah di Jawa 14,97 juta orang, lebih dari separuh dari total penduduk miskin Maret 2016," tandasnya.

Sebelumnya, BPS mencatat jumlah penduduk miskin di Indonesia pada periode Maret 2016 mencapai 28,01 juta jiwa atau sekitar 10,86% dari jumlah penduduk yang ada di Tanah Air. Angka ini menurun baik dibanding September 2015 atau periode sama tahun sebelumnya. [yy/sindonews]

Harga Kebutuhan Pokok Meroket Seret Garis Kemiskinan Naik

Harga Kebutuhan Pokok Meroket Seret Garis Kemiskinan Naik

Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, naiknya garis kemiskinan periode September 2015 hingga Maret 2016 sebesar 2,78% menjadi Rp354.386 per kapita per bulan, dikarenakan harga bahan kebutuhan pokok naik.

Kepala BPS Suryamin mengatakan, sebelumnya ambang batas seseorang dikatakan miskin secara rata-rata nasional adalah Rp344.809 per kapita per bulan. Namun, saat ini batasannya naik menjadi Rp354.386 per kapita per bulan.

"Ini angka nasional ya. Tetapi dalam penghitungannya, setiap provinsi kita menggunakan garis kemiskinan provinsi masing-masing yang besarnya garis kemiskinan itu bervariasi," kata dia di Gedung BPS, Jakarta, Senin (18/7/2016).

Menurutnya, garis kemiskinan antar provinsi sejatinya memiliki variasi berbeda sesuai harga komoditi makanan dan nonmakanan di setiap provinsi. Kendati demikian, komoditi makanan lebih besar dibanding komoditi nonmakanan terhadap garis kemiskinan.

Pada Maret 2016, sambung Suryamin, persentase garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan total porsinya sebesar 73,50%. Artinya, terjadi kenaikan perubahan garis kemiskinan pada Maret 2015 terhadap Maret 2016 atau naik 7,14% year on year (yoy).

"Kenapa naik? Karena kebutuhan pokok naik. Kalau itu dikendalikan, maka garis kemiskinan juga akan terkendali," tandasnya.

Adapun komoditi yang memberikan sumbangan besar terhadap garis kemiskinan Maret 2014-Maret 2016 adalah:

Komoditi Makanan:

1. Beras
Perkotaan ‎21,55%
Perdesaan 29,54%

2. Rokok Kretek Filter
Perkotaan 9,08%
Perdesaan 7,96%

3. Telur ayam ras
Perkotaan 3,66%
Perdesaan 3,02%

4. Daging ayam ras
Perkotaan 3,01%
Perdesaan 1,68%

5. Mie instan
Perkotaan 2,80%
Perdesaan 2,43%

6. Gula pasir
Perkotaan 2,14%
Perdesaan 2,99%

7. Roti
Perkotaan 2,01%
Perdesaan 1,69%

8. Bawang merah
Perkotaan 1,82%
Perdesaan 2,26%

9. Tempe
Perkotaan 1,80%
Perdesaan 1,67%

10. Tahu
Perkotaan 1,75%
Perdesaan 1,51%

11. Komoditi Lainnya
Perkotaan 20,38%
Perdesaan 22,69%

Komoditi Non-Makanan:

1. Perumahan
Perkotaan 9,76%
Perdesaan 7,56%

2. Listrik
Perkotaan 2,96%
Perdesaan 1,54%

3. Bensin
Perkotaan 2,95%
Perdesaan 2,33%

4. Pendidikan
Perkotaan 2,37%
Perdesaan 1,36%

5. Perlengkapan mandi
Perkotaan 1,49%
Perdesaan 1,11%

6. Angkutan
Perkotaan 1,18%
Perdesaan 0,56%

7. Komoditi lainnya
Perkotaan 9,29%
Perdesaan 8,10%

yy/sindonews

 

Tags: miskin | fakir | zakat