2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Abu Sayyaf Coba Pecundangi Indonesia

Abu Sayyaf Coba Pecundangi Indonesia

Fiqhislam.com - Kelompok bersenjata Filipina lagi-lagi membuat prahara. Tujuh orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan anak buah kapal (ABK) Tugboat (TB) Charles 001 dan tongkang Robby 152, diculik saat melintas di perairan Sulu, Filipina Selatan.

Kelompok Abu Sayyaf, lagi-lagi menjadi biang kerok, dan berada di balik aksi penculikan tersebut. Tercatat, dalam empat bulan terakhir, Abu Sayyaf telah membuat perkara dengan Indonesia sebanyak tiga kali dalam kasus serupa.

Terkait kasus ini, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, mengaku geram dengan aksi kelompok sempalan dari kubu MILF (Barisan Pembebasan Islam Moro) itu. Dalam sebuah keterangan pers, Retno menyatakan penyanderaan ketiga kalinya ini sudah tidak dapat ditoleransi.

Retno dengan tegas menyatakan, pemerintah Indonesia mengecam keras terulangnya penyanderaan terhadap WNI oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan. Jakarta, kata dia, meminta pada Manila untuk segera memastikan keamanan di wilayah perairan Filipina Selatan, sehingga tidak mengganggu kegiatan ekonomi kawasan sekitar.

Pemerintah Indonesia juga disebut bakal melakukan berbagai cara untuk segera membebaskan para sandera. Kata dia, keselamatan ketujuh WNI adalah hal yang sangat menjadi prioritas. "Kejadian ketiga kalinya ini sangat tidak dapat ditoleransi. Pemerintah akan melakukan semua cara yang memungkinkan untuk membebaskan para sandera," kata Retno.

Sementara itu, dari informasi yang diperoleh dari Kementerian Luar Negeri, penyanderaan ketiga yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf oleh WNI itu terjadi pada 20 Juni 2016. Aksi dilakukan dua kali, yakni pertama sekira pukul 11.30, dan kedua sekira 12.45.

Dari 13 ABK yang menjadi kru Charles 001 dan tongkang Robby 152, enam ABK dilepaskan dan dipersilakan membawa serta kapal untuk pulang menuju Samarinda. Sementara tujuh ABK lainnya, menjadi tawanan Abu Sayyaf.

Menurut keterangan yang disampaikan Jackried Kanselir Maluengseng, keluarga dari Edgar Lahiwu, satu dari enam ABK yang telah dibebaskan, kelompok Abu Sayyaf menuntut uang tebusan Rp20 juta ringgit atau sekira Rp59 miliar untuk pembebasan tujuh WNI ini. Mereka meminta uang tebusan dalam bentuk ringgit, lantaran Peso Filipina dianggap rendah nilainya.

Beraksi lagi, Abu Sayyaf ketagihan tebusan?

Sejauh ini memang berbagai pihak utamanya pemerintah RI menyebut jika pembebasan 14 WNI dalam penculikan pertama dan kedua murni diplomasi, dan tanpa uang tebusan. Namun, sebagian pihak lainnya juga menyampaikan, apabila pembebasan tersebut tak terlepas dari uang tebusan yang dibayarkan untuk membebaskan para sandera.

Setidaknya, hal itu pernah disampaikan Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia (RI). Di sebuah acara di Cikini, Jakarta, Mega sempat berseloroh, kalau para sandera dilepas karena uang tebusan. "Jelas saja sandera dilepas, wong dibayar kok," kata Megawati, 2 Mei 2016 lalu.

Pernyataan soal tebusan yang dibayarkan untuk membebaskan para sandera WNI dari Abu Sayyaf juga sempat disampaikan Kepala Polisi Provinsi Ulu, Inspektur Wilfredo Cayat. Seperti dikutip Philipphine Daily Inquirer, pembebasan sandera pertama, kru kapal Brahma dibebaskan berkat adanya uang tebusan yang dibayarkan pada 29 April 2016 lalu.

Uang tebusan, kata Cayat, dibayar pada Jumat 29 April 2016 oleh Patria Maritime Lines, perusahaan para pelaut tersebut bekerja. Tebusan yang dibayar sebesar US$1 juta atau setara Rp13,1 miliar (kurs Rp13.197). Namun, sumber lain menyatakan bahwa uang tebusan yang dibayar untuk membebaskan para sandera sejumlah Rp5,4 miliar.

Sementara itu, Wali Kota Jolo Filipina, Hussin Amin, mengatakan, meski menyambut pelepasan sandera Indonesia, namun dirinya tak sepakat dengan langkah pembayaran tebusan yang dilakukan untuk menebus para sandera.

Kata dia, dengan begitu, ke depan akan ada potensi besar kembali yang bisa saja dilakukan kelompok Abu Sayyaf serta kelompok bandit lainnya  di kemudian hari. "Jika pembebasan besar ini datang dengan imbalan uang, mereka yang membayar mendukung Abu Sayyaf," katanya. "Uang ini akan digunakan untuk membeli lebih banyak senjata api dan akan digunakan sebagai dana mobilisasi oleh para penjahat," kata dia seperti dilansir Wall Street Journal.

Hal senada juga disampaikan Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said kepada tvOne. Kata dia, apabila benar pemerintah mengambil langkah pembayaran tebusan, seperti yang sempat santer disuarakan, tentu tak akan menjadi pembelajaran besar buat Indonesia.

"Sebab, Abu Sayyaf pasti akan melakukan hal yang sama lagi ke depan. Ini kan jelas pemerasan. Tetapi, memang satu jalan yang risikonya paling kecil, ya membayar tebusan, meski menawar jumlah tebusannya," kata Salim sebelum aksi penculikan kembali lagi dilakukan Abu Sayyaf terhadap tujuh WNI. [yy/viva]

Abu Sayyaf Coba Pecundangi Indonesia

Fiqhislam.com - Kelompok bersenjata Filipina lagi-lagi membuat prahara. Tujuh orang Warga Negara Indonesia (WNI) yang merupakan anak buah kapal (ABK) Tugboat (TB) Charles 001 dan tongkang Robby 152, diculik saat melintas di perairan Sulu, Filipina Selatan.

Kelompok Abu Sayyaf, lagi-lagi menjadi biang kerok, dan berada di balik aksi penculikan tersebut. Tercatat, dalam empat bulan terakhir, Abu Sayyaf telah membuat perkara dengan Indonesia sebanyak tiga kali dalam kasus serupa.

Terkait kasus ini, Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, mengaku geram dengan aksi kelompok sempalan dari kubu MILF (Barisan Pembebasan Islam Moro) itu. Dalam sebuah keterangan pers, Retno menyatakan penyanderaan ketiga kalinya ini sudah tidak dapat ditoleransi.

Retno dengan tegas menyatakan, pemerintah Indonesia mengecam keras terulangnya penyanderaan terhadap WNI oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan. Jakarta, kata dia, meminta pada Manila untuk segera memastikan keamanan di wilayah perairan Filipina Selatan, sehingga tidak mengganggu kegiatan ekonomi kawasan sekitar.

Pemerintah Indonesia juga disebut bakal melakukan berbagai cara untuk segera membebaskan para sandera. Kata dia, keselamatan ketujuh WNI adalah hal yang sangat menjadi prioritas. "Kejadian ketiga kalinya ini sangat tidak dapat ditoleransi. Pemerintah akan melakukan semua cara yang memungkinkan untuk membebaskan para sandera," kata Retno.

Sementara itu, dari informasi yang diperoleh dari Kementerian Luar Negeri, penyanderaan ketiga yang dilakukan kelompok Abu Sayyaf oleh WNI itu terjadi pada 20 Juni 2016. Aksi dilakukan dua kali, yakni pertama sekira pukul 11.30, dan kedua sekira 12.45.

Dari 13 ABK yang menjadi kru Charles 001 dan tongkang Robby 152, enam ABK dilepaskan dan dipersilakan membawa serta kapal untuk pulang menuju Samarinda. Sementara tujuh ABK lainnya, menjadi tawanan Abu Sayyaf.

Menurut keterangan yang disampaikan Jackried Kanselir Maluengseng, keluarga dari Edgar Lahiwu, satu dari enam ABK yang telah dibebaskan, kelompok Abu Sayyaf menuntut uang tebusan Rp20 juta ringgit atau sekira Rp59 miliar untuk pembebasan tujuh WNI ini. Mereka meminta uang tebusan dalam bentuk ringgit, lantaran Peso Filipina dianggap rendah nilainya.

Beraksi lagi, Abu Sayyaf ketagihan tebusan?

Sejauh ini memang berbagai pihak utamanya pemerintah RI menyebut jika pembebasan 14 WNI dalam penculikan pertama dan kedua murni diplomasi, dan tanpa uang tebusan. Namun, sebagian pihak lainnya juga menyampaikan, apabila pembebasan tersebut tak terlepas dari uang tebusan yang dibayarkan untuk membebaskan para sandera.

Setidaknya, hal itu pernah disampaikan Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia (RI). Di sebuah acara di Cikini, Jakarta, Mega sempat berseloroh, kalau para sandera dilepas karena uang tebusan. "Jelas saja sandera dilepas, wong dibayar kok," kata Megawati, 2 Mei 2016 lalu.

Pernyataan soal tebusan yang dibayarkan untuk membebaskan para sandera WNI dari Abu Sayyaf juga sempat disampaikan Kepala Polisi Provinsi Ulu, Inspektur Wilfredo Cayat. Seperti dikutip Philipphine Daily Inquirer, pembebasan sandera pertama, kru kapal Brahma dibebaskan berkat adanya uang tebusan yang dibayarkan pada 29 April 2016 lalu.

Uang tebusan, kata Cayat, dibayar pada Jumat 29 April 2016 oleh Patria Maritime Lines, perusahaan para pelaut tersebut bekerja. Tebusan yang dibayar sebesar US$1 juta atau setara Rp13,1 miliar (kurs Rp13.197). Namun, sumber lain menyatakan bahwa uang tebusan yang dibayar untuk membebaskan para sandera sejumlah Rp5,4 miliar.

Sementara itu, Wali Kota Jolo Filipina, Hussin Amin, mengatakan, meski menyambut pelepasan sandera Indonesia, namun dirinya tak sepakat dengan langkah pembayaran tebusan yang dilakukan untuk menebus para sandera.

Kata dia, dengan begitu, ke depan akan ada potensi besar kembali yang bisa saja dilakukan kelompok Abu Sayyaf serta kelompok bandit lainnya  di kemudian hari. "Jika pembebasan besar ini datang dengan imbalan uang, mereka yang membayar mendukung Abu Sayyaf," katanya. "Uang ini akan digunakan untuk membeli lebih banyak senjata api dan akan digunakan sebagai dana mobilisasi oleh para penjahat," kata dia seperti dilansir Wall Street Journal.

Hal senada juga disampaikan Guru Besar Universitas Pertahanan Salim Said kepada tvOne. Kata dia, apabila benar pemerintah mengambil langkah pembayaran tebusan, seperti yang sempat santer disuarakan, tentu tak akan menjadi pembelajaran besar buat Indonesia.

"Sebab, Abu Sayyaf pasti akan melakukan hal yang sama lagi ke depan. Ini kan jelas pemerasan. Tetapi, memang satu jalan yang risikonya paling kecil, ya membayar tebusan, meski menawar jumlah tebusannya," kata Salim sebelum aksi penculikan kembali lagi dilakukan Abu Sayyaf terhadap tujuh WNI. [yy/viva]

Ada Makelar Pembebasan Sandera di Filipina

Ada Makelar Pembebasan Sandera di Filipina

Pemerintah diminta berhati-hati dalam memilih negosiator untuk membebaskan tujuh ‎warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok bersenjata di Filipina. Sebab, banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) di Filipina yang menjadi makelar pembebasan sandera.

"Karena di sana itu tim yang membebaskan itu rata-rata LSM dan pemerintah hati-hati karena di sana banyak juga makelar pembebasan," ujar Anggota Komisi I DPR Supiadin Aries Saputra‎ di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (27/6/2016).

Makelar pembebasan penyanderaan itu sudah biasa mencari uang dari negara-negara yang warganya disandera kelompok bersenjata di Filipina. "Dia bilang saya bisa, saya bisa. Jadi kalau kita salah pilih negosiator akan habis," tuturnya.

Dia mengaku prihatin atas disanderanya tujuh WNI oleh kelompok bersenjata di Filipina. Sebab, kejadian itu bukan yang pertama kali, melainkan sudah keempat kalinya selama ini.

‎"Pertanyaan kenapa ini terjadi lagi?"‎ tuturnya. Maka itu, menurut dia, konsep pemerintah yang telah membuat Crisis Center dan diplomasi total harus segera dilaksanakan. [yy/sindonews]

Kisah Pelaut RI yang Dicegat Dua Kelompok Abu Sayyaf

Kisah Pelaut RI yang Dicegat Dua Kelompok Abu Sayyaf

Andi Wahyu, anak buah kapal dari Tugboat Charles 00, mengaku trauma dengan apa yang dialaminya saat dibajak oleh kelompok bersenjata Abu Sayyaf. Dengan suara bergetar ia pun merinci bagaimana detik menegangkan kelompok bersenjata Abu Sayyaf menculik rekan mereka di TB Charles dengan paksa.

Andi memaparkan kesaksiannya di Pangkalan TNI AL di Balikpapan, Senin 27 Juni 2016. Kejadian bermula pada Selasa 22 Juni 2016, sekira pukul 12.15 waktu setempat.

Saat itu, kapal TB Charles bersama sebuah tongkang sedang menuju ke perairan Indonesia ketika melintas Kepulauan Jolo Filipina. Dalam perjalanan itu, awak kapal sempat melihat ada dua perahu keluar dari kawasan permukiman Kepulauan Jolo.

"Awalnya kami berpikir itu kapal ikan. Namun rupanya mereka berputar ke belakang kapal dan membagi dua di lambung kanan dan kiri," kata Andi.

Dalam waktu singkat sejumlah orang yang ada di dalam dua perahu itu langsung menaiki kapal dan menodongkan senjata ke seluruh awak kapal. Beberapa lainnya pun masuk ke dalam ruangan kapal dan menjarah sejumlah barang dan alat komunikasi.

"Setelah itu ada yang bertanya pakai bahasa Melayu. Masinis mana, masinis mana? Lalu angkat tangan lah si Edi. Diambillah Edi, diikat tangannya pakai tali," kata Andi.

Menurut Andi, di Filipina masinis diartikan sebagai kepala kamar mesin. Sementara di Indonesia, justru dikenal sebagai teknisi mesin. Sebab itu, Edi yang menjadi masinis angkat tangan.

"Mereka lalu bertanya ke Edi, Kamu Masinis? Edi lalu menjawab, saya Second Officer. Mereka pun berteriak lagi mana masinis, hingga Edi menunjuk ke Mabrur. Dan akhirnya ketiganya pun diikat, Kapten, KKM dan Edy," kata Andi.

Dikejar Speedboat

Setelah ketiga awak dilarikan dengan dua kapal, Andi mengingat, saat itu mereka yang tersisa berjumlah 10 orang lagi. Mereka pun memutuskan untuk segera menjauh dari kepulauan itu.

"Kendali kapal dipegang oleh Chief Officer, dan kami putuskan untuk melepaskan tali tongkang agar bisa melarikan diri," kata Andi.

Namun nahas, dalam pelarian yang baru berlangsung selama 15 menit perjalanan laut. Rupanya ada kapal lain menggunakan speedboat dengan kecepatan tinggi. TB Charles kalah tenaga dan akhirnya diberhentikan lagi.

"Kelompok kedua ini saya lihat bersenjata lebih lengkap, ada rompi anti peluru dan beberapa menutup wajahnya serta bercelana loreng," kata Andi.

Di atas kapal, menurut Andi, kelompok bersenjata ini kembali menanyakan hal serupa seperti yang dilakukan oleh kelompok pertama. "Dari situ kami lihat kalau kelompok ini berbeda. Bahasanya juga beda, karena berbahasa Inggris. Kelompok ini kembali mengambil empat orang di antara kami," kata Andi yang bertugas sebagai Mualim dua di TB Charles.

Kini, Andi dan lima rekannya masih beristirahat di Mess Macan Tutul milik TNI AL di Balikpapan. Upaya negosiasi dan pelacakan tujuh ABK yang disandera hingga kini masih dalam proses yang dilakukan pemerintah. [yy/viva]

Gubernur Sulu: Pemerintah Filipina Gagal Tumpas Abu Sayyaf

Gubernur Sulu: Pemerintah Filipina Gagal Tumpas Abu Sayyaf

Gubernur Provinsi Sulu, Abdusakur Tan II, menegaskan bahwa strategi perang total yang dijalankan pemerintah Filipina telah gagal "memusnahkan" kelompok militan Abu Sayyaf. Menurut dia, pengentasan kemiskinan adalah strategi yang tepat untuk menghilangkan gerakan separatis maupun militan di Filipina Selatan.

"Terjadi ketimpangan ekonomi antara Utara (Luzon) dengan Selatan (Mindanao). Mereka (pemerintah) gagal membasmi Abu Sayyaf dengan kebijakan 'perang habis-habisan'. Intinya, bukan itu tapi perangi kemiskinan," kata Tan, seperti dikutip dari situs Philstar, Senin, 27 Juni 2016.

Ia yakin Abu Sayyaf tidak akan pernah berhenti untuk menculik sandera, baik asing maupun lokal, lalu meminta tebusan.

Tan juga tak menampik adanya laporan bahwa terdapat sekelompok masyarakat yang menjadi "kaki tangan" kelompok bersenjata tersebut.

"Pemerintah harus tahu dan melihat langsung apa yang diinginkan masyarakat. Sekali lagi, kita perlu mengatasi kemiskinan yang menjadi pemicu pemberontakan. Soal ada simpatisan untuk Abu Sayyaf, saya melihatnya sebagai tanda kecewa atas layanan pemerintah," ungkapnya.

Sulu merupakan provinsi yang beribukotakan Jolo. Provinsi ini merupakan bagian dari Otonomi Muslim Mindanao di Filipina Selatan. Sebelumnya, rumah Tan telah dua kali "dititipkan" sandera asal Indonesia oleh Abu Sayyaf pada Maret dan Mei lalu. [yy/viva]

Militer Filipina Akui 7 ABK Indonesia Disandera di Sulu

Militer Filipina Akui 7 ABK Indonesia Disandera di Sulu

Militer Filipina pada Senin (27/6/2016) mengakui bahwa tujuh anak buah kapal (ABK) Indonesia disandera kelompok bersenjata di Sulu, Filipina selatan.
 
Konfirmasi dari militer Filipina muncul dua hari setelah Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Lestari Priansari Marsudi melaporkan adanya penyanderaan tujuh ABK Indonesia itu.
 
Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Brigadir Jenderal Restituto Padilla mengatakan bahwa Komando Mindanao Barat, yang memiliki yurisdiksi atas wilayah tersebut, melaporkan bahwa tujuh dari 13 warga Indonesia, termasuk kapten kapal, diculik dari kapal tunda pada 22 Juni di Laut Sulu.
 
”Informasi dari unit lapangan menyatakan bahwa korban penculikan kemungkinan ditahan di suatu tempat tawanan di Sulu,” kata Padila, seperti dikutip Inquirer.

Pemerintah Indonesia dan Filipina belum memastikan apakah penyandera tujuh ABK Indonesia itu merupakan kelompok Abu Sayyaf atau bukan.
 
Penyanderaan terhadap warga Indonesia di Filipina selatan ini sudah yang ketiga kalinya. Terulangnya penyanderaan ini membuat Pemerintah Indonesia marah. Menlu Retno menyebut penyanderaan terhadap warga Indonesia kali ini sudah tidak bisa ditoleransi.
 
Sebelumnya, kelompok Abu Sayyaf dua kali menyandera warga Indonesia. Total jumlah sandera dari dua penculikan pada Maret dan April itu mencapai 17 orang. Semuanya telah dibebaskan beberapa waktu lalu. [yy/sindonews]

 

Tags: sayyaf | sandera | filipina