2 Jumadil-Awal 1443  |  Senin 06 Desember 2021

basmalah.png

Sembilan Orang Meninggal akibat Flu Burung

Sembilan Orang Meninggal akibat Flu BurungFiqhislam.com - Kementerian Kesehatan mencatat sudah sembilan orang meninggal dunia akibat infeksi flu burung dalam tahun ini. Korban terakhir meninggal pada 6 Desember lalu.

Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menerangkan, korban yang meninggal karena berpindah dari satu dokter ke dokter yang lain. "Dokter tidak diberitahu kalo mereka "main" sama bangkai unggas," katanya, Rabu (9/12).

Nafsiah mengaku sudah mengeluarkan instruksi untuk mengantisipasi penyebaran flu burung ini. Dia meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan penyerbatan virus H5N1 ini.

Selain itu, dia meminta seluruh petugas kesehatan terutama pengawas siaga. Dengan demikian, dia berharap ada penanganan langsung bila ada indikasi virus flu burung.

Nafsiah juga meminta masyarakat tidak langsung panik bila melihat burung, ayam, bebek, mati pada saat bersamaan. Yang terpenting jangan ada kontak fisik secara langsung. "Anak-anak dan orang tua menjauhi menghindari infeksi," ujarnya.

Kalau sudah terlanjur ada yang pegang dan mengalami demam, batuk flu maka segera memberitahu ke petugas kesehatan dan itu dirujuk ke RS yang dilatih untuk melakukan pengobatan. Sejauh ini penyebaran infeksi virus flu burung terjadi di wilayah Jawa.

Kementerian Kesehatan juga menggandeng Kementerian Pertanian melakukan langkah-langkah pengawasan. Tujuannya untuk menangani unggas yang mati sesuai prosedur yang berlaku. [yy/kontan]

Flu Burung Sebabkan sudah 64.285 Ekor Itik Mati

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Provinsi Jawa Tengah memastikan hingga Rabu (19/12), flu burung pada itik telah menyerang 23 kabupaten kota di Provinsi Jawa Tengah.

Akibat serangan penyakit di 23 daerah ini, sedikitnya 64.285 ekor itik mati dalam tiga bulan terakhir. Serangan paling parah dialami wilayah Kabupaten Demak, Brebes, Pekalongan, Kendal, Sragen, Cilacap serta Kota Tegal.

Kepala Disnakewan Provinsi Jawa Tengah, Ir Whitono MSi, Rabu (19/12), mengatakan, serangan virus flu burung pada unggas itik kali ini lebih ganas dibandingkan dengan kasus flu burung sebelumnya. Ini dapat dilihat dari jumlah angka kesakitan dan angka kematian itik yang terinfeksi. 

“Ciri- ciri itik yang terserang virus ini mengalami gejala klinis syaraf  seperti sulit berdiri, mata unggas terdapat bercak putih, leher berputar, dan pada kondisi yang parah akhirnya mati,” jelas Whitono.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Ir Eko Sutarti menambahkan, pihaknya mengimbau agar peternakan rakyat sementara mengandangkan itik peliharaannya.

Jika ditemukan itik yang mati, maka kandang harus dikosongkan selama tiga bulan. Selama itu, proses disinfektan harus terus dilakukan untuk memastikan kandang itik steril dari virus flu burung yang mematikan ini.

Menurutnya, virus kali ini merupakan virus baru dan belum pernah ditemukan sebelumnya. Diperkirakan, munculnya virus ini akibat adanya introduksi baru dari luar negeri, mutasi atau migrasi dari burung. [yy/republika]