25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Tes Urine Negatif Belum Tentu Tidak Pakai Napza (Narkotika dan Psikotropika)

Tes Urine Negatif Belum Tentu Tidak Pakai Napza (Narkotika dan Psikotropika)Fiqhislam.com - Ada banyak pemeriksaan untuk membuktikan penyalahgunaan napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya). Tes urine termasuk paling populer, namun bukan satu-satunya. Bahkan tes urine yang negatif belum tentu berarti tidak pakai.

Tes urine selalu dilakukan untuk membuktikan dugaan penyalahgunaan napza. Biasanya, tes ini dilakukan para orang-orang yang tertangkap dalam razia di tempat hiburan malam. Bisa juga dilakukan pada pengendara mobil yang mengalami kecelakaan dan diduga berada dalam pengaruh obat terlarang.

Hasil positif dalam tes urine menunjukkan bahwa orang tersebut adalah pemakai napza. Namun jika negatif, tidak bisa serta merta diartikan bebas napza. Bisa saja orang itu memang sedang tidak memakai napza, namun dalam kesehariannya sering mengonsumsinya.

"Tes urine negatif pun belum tentu tidak pakai," kata Prof Dr dr Dadang Hawari, SpKJ, psikiater yang banyak menangani korban napza saat dihubungi detikHealth, Senin (28/1/2013).

"Mungkin pada saat tes urine dia sedang tidak pakai, atau baru mau pakai tapi keburu ditangkap," lanjut Prof Dadang.

Kandungan napza dalam cairan tubuh seperti urine, darah dan saliva atau air ludah memang hanya bersifat sementara. Pada saatnya, kandungan napza yang sebenarnya merupakan sisa metabolisme tersebut akan dieliminasi atau dibuang sampai bersih oleh tubuh.

"Sekitar 2 atau 3 harilah," jawab Prof Dadang saat ditanya berapa lama biasanya kandungan napza akan bertahan di dalam urine.

Dalam praktiknya, jejak-jejak penyalahgunaan napza dalam urine maupun cairan tubuh lainnya akan bertahan dalam waktu yang bervariasi. Alkohol misalnya, relatif cepat dimetabolisme oleh tubuh sehingga jejaknya bisa hilang dari urine dalam beberapa jam setelah minum.

Namun ketika jejak-jejak napza dalam urine dan darah sudah tidak ada, kadang-kadang jejak lain masih bisa ditemukan di dalam tubuh. Di beberapa jaringan tubuh seperti rambut dan kulit, sisa atau hasil metabolisme napza masih bisa ditemukan hingga jangka waktu yang lebih lama.

Bagi Prof Dadang, adanya perubahan mental dan perilaku juga bisa digunakan untuk mengenali pemakai napza. Meski seseorang tidak mau mengaku kalau dirinya memakai napza, perubahan-perubahan mental dan perilaku tetap bisa dikenali oleh orang lain yang bergaul sangat akrab atau oleh orang yang ahli di bidang itu.

Perubahan-perubahan seperti yang dimaksud Prof Dadang antara lain sebagai berikut:

- Sering tidak masuk sekolah
- Sering bangun kesiangan
- Bagi yang muslim, jadi jarang salat
- Suka bohong, banyak akalnya
- Sering keluar malam, pulang pagi atau bahkan tidak pulang
- Sering melakukan kekerasan.

Seseorang dengan ciri-ciri di atas juga belum tentu bisa diartikan pakai napza sebab ada beberapa orang yang memang dalam kesehariannya berperilaku demikian. Namun jika semula tidak demikian, lalu mendadak perilakunya berubah maka bisa dicurigai terlibat dalam penyalahgunaan napza. [yy/detikhealth]