24 Rabiul-Akhir 1443  |  Senin 29 Nopember 2021

basmalah.png

Tujuan Akhir Pengobatan Gangguan Kecemasan dan Panik

Tujuan Akhir Pengobatan Gangguan Kecemasan dan PanikFiqhislam.com - Saya ingin sedikit berbagi cerita. Setiap hari di tempat praktik, saya menangani kasus-kasus gangguan panik dan gangguan cemas lainnya.
 
Jumlah pasien yang saya tangani sehari-hari berkisar antara 5-10 kasus dan hampir 90 persennya gangguan cemas. Kasus gangguan cemas memang mendominasi pasien-pasien saya dan bila melihat dari statistik pasiennya, kebanyakan pasien datang dengan gangguan cemas panik dan gangguan cemas menyeluruh.

Pasien sering bertanya kepada saya bisakah mereka sembuh. Dalam tulisan ini akan saya tuliskan sedikit informasi berkaitan dengan kesembuhan dan apa yang harus dicapai dalam pengobatan ini.

Tahap Awal Pengobatan

Pada tahap awal pengobatan pasien diharapkan dapat mencapai suatu remisi atau berkurangnya gejala atau bahkan menghilangnya gejala sama sekali. Hal ini menjadi tujuan awal pengobatan. Namun sebelum mencapai remisi pasien biasanya harus melewati tahap-tahap yang perlu dipahami. Dua minggu pertama pemakaian obat antidepresan biasanya adalah tahap yang krusial dan penting. Pasien akan mengalami perubahan di awal terapi ini baik berkurangnya gejala atau malah mengalami efek samping.

Berbicara tentang efek samping obat antidepresan biasanya yang dialami pasien adalah keluhan tegang kepala, mengantuk, rasa mual, keringat dingin atau perasaan tidak nyaman. Pasti pembaca bertanya, kok makan obat untuk menghilangkan cemas malah dapat gejala-gejalanya lebih lagi. Perlu diketahui bahwa efek samping ini sebenarnya berkaitan dengan efek obat yang meningkatkan serotonin dan atau noradrenalin di otak pasien.

Meningkatnya secara signifikan serotonin di otak ini memerlukan penyesuaian. Satu dua minggu adalah masa-masa awal yang biasanya sangat bersifat individual. Biasanya ada juga pasien yang tidak mengalami. Teruskan pengobatan walaupun rasanya tidak nyaman, jangan berhenti di tengah-tengah.

Tahap Lanjutan Pengobatan

Masa dua minggu yang telah terlewati biasanya akan memberikan suatu informasi tentang pasien dan gejalanya kepada saya. Jika pasien mengalami perubahan dalam masa-masa dua minggu ini ke arah yang baik, saya bisa sedikit berasumsi bahwa pengobatan yang diberikan sudah tepat.

Mengapa saya tidak bisa yakin bahwa itu sudah tepat, karena adanya suatu respons pengobatan bukan berarti pasti akan menjadi remisi dalam pengobatan itu. Untuk itu kita memerlukan waktu sampai 8 minggu untuk menilai obat yang kita berikan adalah yang tepat untuk pasien. Waktu 8 minggu biasanya menjadi penting untuk menentukan apakah kita akan terus dengan obat yang diresepkan di awal atau menggantinya dengan obat antidepresan lain.

Psikiater biasanya sejak awal mengetahui bahwa setiap pasien mempunyai tingkat kecocokan yang berbeda untuk obat yang diresepkan sehingga memerlukan suatu pengawasan untuk melihat adanya efek dan tanda yang pasien rasakan.

Tahap Rumatan (Pemeliharaan) Pengobatan

Pasien yang telah melewati masa 8 minggu penggunaan obat antidepresan biasanya akan mulai stabil. Gejala-gejala biasanya sudah menghilang atau jauh berkurang. Tujuan terapi seperti yang telah disebutkan di atas adalah remisi atau hilangnya gejala sama sekali akan dilanjutkan pada tahapan selanjutnya yaitu berusaha untuk membuat gejala-gejala pasien hilang dan tidak kambuh kembali setelah lepas pengobatan.

Untuk ini maka pengobatan antidepresan haruslah lengkap. Beberapa rujukan yang berhubungan dengan pengobatan antidepresan menyarankan pengobatan diteruskan sejak hilangnya gejala sampai minimal 6 bulan ke depan. Hal ini untuk mencegah keberulangan. Pasiennya biasanya menakutkan adanya suatu efek 'ketergantungan' dari obat yang dipakai.

Perlu ditekankan bahwa ketergantungan obat antidepresan tidak tercatat dalam literatur yang banyak menjadi rujukan psikiater. Obat antidepresan golongan serotonin, serotonin-noradrenalin ataupun yang golongan lama seperti trisiklik hampir tidak pernah dilaporkan menimbulkan ketergantungan layaknya golongan anticemas (penenang) seperti benzodiazepine. Untuk itu kekhawatiran pasien sebenarnya tidak beralasan.

Pengobatan yang tepat dan adekuat adalah jalan menuju kesembuhan dan kualitas hidup yang lebih baik untuk pasien gangguan panik. Semoga tulisan ini bermanfaat. [yy/health.
detik.com]

Dr.Andri,SpKJ
Psikiater dengan keminatan psikosomatik medis,anggota dari The Academy of Psychosomatic Medicine dan The American Psychosomatic Society. Aktif mengajar dan menjadi pembicara nasional dan internasional sejak 2008. Fokus pada penanganan kasus-kasus gangguan kecemasan dan depresi. Berpraktik di Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera