25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

Sering Kurang Tidur? Hati-Hati Terkena Skizofrenia

Sering Kurang Tidur? Hati-Hati Terkena SkizofreniaFiqhislam.com - Berdasarkan pada sebuah penelitian terbaru menyebutkan korelasi antara gangguan pola tidur tidak teratur serta aktivitas yang menggangu otak selama tidur bisa memicu beberapa gejala skizofrenia.

Penelitian ini dipimpin oleh seorang ilmuwan dari Lilly Centre for Cognitive Neuroscience di University of Bristol dan didanai oleh Medical Research Council (MRC). Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dampak dari pola tidur yang tidak teratur pada otak dengan cara merekam aktivitas listrik otak di beberapa daerah otak selama tidur.
 
Untuk beberapa orang, kurang tidur bisa pengaruhi tingkat mood, konsentrasi bahkan sampai alami stres. Pada kasus sangat berat, kurang tidur berkepanjangan dapat menyebabkan halusinasi, kehilangan memori dan kebingungan, dimana semua gejalanya juga berhubungan dengan skizofrenia.
 
“Gangguan tidur secara baik didokumentasikan dalam penyakit ini, meski sering dianggap sebagai efek samping dan kurang dipahami dalam hal potensinya yang benar-benar memicu gejala,” ujar Dr. Ullrich Bartsch, seperti yang dikutip Aktual.co dari laman berita kesehatan, Selasa (20/8).
 
Penelitian ini menggunakan tikus sebagai modelnya, rekaman tim ilmuwan menunjukkan bahwa adanya gangguan dalam aktivitas gelombang, yang normalnya melakukan perjalanan dari depan ke belakang otak selama tidur nyenyak. Khususnya pada aliran informasi antara hippocampus, yang terlibat dalam pembentukan memori, dan korteks frontal yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
 
Temuan tim melaporkan bahwa pola tidur yang berbeda dan tidak teratur sangat mirip dengan yang diamati pada pasien skizofrenia. Temuan dari penelitian ini juga memberikan sudut pandang baru untuk terapi neurokognitif dalam skizofrenia dan penyakit kejiwaan terkait. Penemuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Neuron.
 
Skizofrenia sendiri merupakan sebuah diagnosis psikiatri menggambarkan gangguan mental yang ditandai oleh kelainan dalam persepsi atau ungkapan realitas. 
 
Distorsi persepsi ini bisa berpengaruh pada semua lima indera, termasuk penglihatan, pendengaran, rasa, bau dan sentuhan, tapi paling sering bermanifestasi sebagai halusinasi pendengaran, delusi paranoid atau aneh, atau pidato teratur dan berpikir dengan disfungsi sosial atau pekerjaan yang signifikan. [yy/aktual.co]