18 Rabiul-Awal 1443  |  Minggu 24 Oktober 2021

basmalah.png

Jangan Tergantung Obat Sakit Kepala

Jangan Tergantung Obat Sakit KepalaFiqhislam.com - Jika sakit kepala menyerang, ada baiknya Anda tak buru-buru menenggak obat sakit kepala.  Professor Gillian Leng, Deputy Chief Executive of the National Institute for Health and Care Excellence (Nice) di Inggris, mengatakan bahwa orang yang menggunakan terlalu banyak obat pereda sakit untuk mengurangi rasa sakit kepala justru akan merasakan sakit kepala yang lebih sering.

"Penting bagi orang untuk memahami bahwa beda sakit kepala beda pengobatan, jadi diagnosis yang benar menjadi penting," kata Leng, kepada Daily Express.

"Orang mungkin tidak menyadari bahwa kelebihan penggunaan beberapa jenis obat untuk mengatasi beragam jenis sakit kepala atau migren bisa membuat kondisinya semakin buruk, dan membuat rasanya lebih sakit," ujar dia.

Karena itu Nice mengeluarkan panduan baru untuk membantu para dokter mengobati orang-orang yang mengalami sakit kepala.

Diharapkan panduan ini bisa memastikan bahwa pasien menerima pengobatan yang benar. "Manajemen efektif atas sakit kepala tergantung dari diagnosis yang benar dan menyesuaikan rencana pengobatan yang memadai. Penggunaan obat sakit kepala yang berlebihan menjadi masalah umum," kata Sam Chong, neurologist yang bekerja sama dengan Nice untuk membuat panduan pengobatan sakit kepala, seperti dikutip situs Daily Mail edisi 28 Agustus 2013,

Joanna Hamilton-Colclough, direktur dari Migraine Action, mengatakan bahwa panduan baru ini penting untuk memastikan kelanjutan dan perkembangan dalam mengenali dampak sakit kepala yang terjadi pada seseorang, maupun di masyarakat secara keseluruhan.

Diyakini bahwa 10 juta orang di Inggris sering mengalami sakit kepala dan hal ini menyebabkan 25 juta hari kerja hilang setiap tahunnya. Diperkirakan 500 ribu wanita dan 100 ribu pria di Inggris mengalami sakit kepala akibat penggunaan obat pereda sakit yang berlebihan.

Penelitian menunjukkan bahwa seringnya mengkonsumsi codeine, parasetamol, ibuprofen dan aspirin justru bisa menjadi penyebab utama terjadinya sakit kepala yang berulang. Hal ini juga menunjukkan bahwa antara seperempat hingga dua pertiga penderita sakit kepala ternyata menggunakan obat pereda sakit secara berlebihan. Mereka tidak overdosis dengan obat yang mereka konsumsi tetapi mengkonsumsi pil-pil tersebut dalam periode yang panjang.

Kenyataannya, semakin banyak obat pereda sakit itu dikonsumsi, semakin resisten tubuh. Karena itu, para penderita sakit kepala perlu obat lain yang lebih kuat daya redanya. Ketika pengobatannya dihentikan, penderita akan merasakan reaksi balik disebut 'rebound headache' yang menyebabkan mereka membutuhkan pengobatan lebih banyak. Kondisi ini lebih banyak terjadi pada wanita. Pasalnya wanita lima kali lebih cenderung terkena migren dibandingkan pria.

Dr Anne MacGregor, director of clinical research di the City of London Migraine Clinic, menjelaskan, "Penggunaan obat yang terus-menerus akan membuat Anda terus terjaga dengan sakit kepala karena batas sakit Anda berada di posisi terendah, obat pereda sakit akan berhenti bereaksi pada malam hari."

Ia menambahkan bahwa, penggunaan obat pereda sakit tidak lebih dari dua atau tiga kali seminggu, tidak masalah. Namun jika lebih dari itu, maka akan muncul masalah. Cara untuk menghentikannya, kata dia, berhenti mengonsumsi obat yang menyebabkannya. [yy/tempo.co]