26 Rabiul-Akhir 1443  |  Rabu 01 Desember 2021

basmalah.png

Terapi Nuklir Solusi Penyakit Ginjal

Terapi Nuklir Solusi Penyakit GinjalFiqhislam.com - Ilmu pengetahuan dan teknologi nuklir semakin berkembang dalam berbagai bidang kehidupan. Kemajuan negara-negara  seperti Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Jepang, Rusia, dan Cina ditopang oleh keberadaan teknologi nuklir. Di negara-negara tersebut nuklir dimanfaatkan untuk kelistrikan, pertanian, peternakan, pertambangan, kedokteran dan bidang lainnya.

Di Indonesia pemanfaatan teknologi nuklir belum maksimal khususnya bidang energi. Kebutuhan listrik yang kian meningkat, namun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) hingga kini masih wacana.

Meski teknologi nuklir belum menyentuh bidang energi khususnya kelistrikan, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) secara berkelanjutan memanfaatkan iptek nuklir dalam bidang non energi khususnya untuk meningkatkan hasil pertanian, peternakan, menemukan sumber air dan juga di bidang kedokteran.

Kini, kedokteran nuklir berkembang pesat dan sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Hampir semua rumah sakit di kota-kota besar sedikitnya mempunyai satu rumah sakit yang dilengkapi dengan unit kedokteran nuklir. Ilmu kedokteran nuklir adalah cabang ilmu kedokteran yang menggunakan sumber radiasi terbuka yang berasal dari desintegrasi inti radionuklida buatan untuk mempelajari perubahan fisiologis, anatomi dan biokimia. Semua itu bertujuan untuk penelitian kedokteran, diagnostik, dan terapi.

BATAN sejak akhir tahun 80-an mengembangkan teknologi nuklir pada bidang kedokteran. Salah satunya mengembangkan detektor untuk uji fungsi ginjal yang dinamakan renogram. Alat ini memiliki keunggulan dapat dioperasionalkan untuk menunjukkan hasil analisis secara cepat dan akurat. Dengan penggunaan dan cara kerja renogram serta radioisotop yang digunakan dalam mempresentasikan kondisi ginjal pasien secara cermat sehingga kerusakan fungsi ginjal dapat diatasi sejak dini.

Seperti diketahui ginjal adalah organ tubuh penting dalam tubuh manusia, khususnya dalam membuang sampah metabolisme dan racun dalam darah melalui urine. Apabila ginjal tidak berfungsi dengan baik dapat berakibat serius terhadap kondisi tubuh, bahkan bisa berakhir pada kematian.

Dewasa ini, jumlah penderita kerusakan fungsi ginjal meningkat terutama di kota-kota besar, dikarenakan pola hidup yang tidak sehat, stress, kurang berolahraga, makanan yang banyak mengandung lemak jenuh dan lainnya. Selain itu, kerusakan fungsi ginjal juga dapat disebabkan faktor keturunan.

Banyak  penderita yang tidak menyadari kelainan fungsi ginjalnya sampai ketika ginjalnya benar-benar rusak, hal ini karena ginjal termasuk organ dalam yang prosesnya tidak kasat mata sehingga membutuhkan alat tertentu untuk mendeteksi fungsinya.

Renogram rancangan BATAN ini tidak hanya digunakan di Indonesia, setelah mengetahui pemanfaatannya  kemudian Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) membeli alat tersebut pada 2009 untuk dipergunakan di sejumlah negara berkembang di Afrika, Myanmar, serta Bangladesh.

"Alat ini menjadi bukti salah satu manfaat teknologi nuklir di bidang kesehatan. Dalam aplikasinya telah ada ukuran serta standar yang dilegalkan IAEA untuk keamanan penggunaannya," jelas dr. Gogot Suyitno, Sp.Rad, Sp.KN, dokter Spesialis Kedokteran Nuklir Rumah Sakit An-Nur, Yogyakarta.

Menurut  Gogot Suyitno alat renogram menjadi pilihan yang aman dan terjangkau untuk mendeteksi gangguan yang terjadi pada ginjal manusia. Pemeriksaan renogram dilakukan dengan menyuntikkan radio farmaka yang didistribusikan melalui darah menuju target yaitu ginjal, setelah dilakukan penyusuran nuklir, baru akan terlihat gangguan pada organ tubuh tersebut.

Gogot menambahkan, pemeriksaan renogram dibutuhkan jika seseorang merasa ginjalnya mengalami gangguan, hipertensi atau tekanan darah tinggi berkelanjutan  dan  mendiagnosa ketika akan transplantasi ginjal untuk menentukan mana ginjal berfungsi lebih baik. Dari pemeriksaan yang memakan waktu sekitar 25 menit, operator renogram akan mendapat hasil kondisi ginjal melalui diagram ukur.

Setelah hasil pemeriksaan diketahui, dokter baru akan melakukan tindakan terhadap pasien yang mengalami gangguan ginjal pada 3-4 hari setelah menjalani pemeriksaan renogram. Untuk menjaga kualitas dan keamanan pemeriksaan renogram, rumah sakit yang bersangkutan harus memenuhi beberapa persyaratan seperti izin dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). Sedangkan operator renogram, haruslah mereka yang sudah berlisensi atau dokter spesialis kedokteran nuklir.

Efek Samping

Bagaimana efek yang ditimbulkan setelah tubuh menerima suntikkan cairan nuklir itu? “Memang ada risiko efek samping yang mungkin terjadi setelah disuntikkan isotop farmaka yakni rasa gatal, mual dan demam. Namun kemungkinan efek itu, alhamdulilah selama ini belum terjadi pada pasien kami,” papar Gogot.

Pada 25 menit pertama setelah pemeriksaan renogram, sekitar 75 persen bahan radioaktif dikeluarkan melalui urin. Oleh karena itu pasien tidak  boleh buang air kecil di sembarang tempat. ”Sedangkan sebanyak 25 persen bahan radioaktif yang masih ada di dalam tubuh akan dikeluarkan pada urin yang ke dua atau tiga kali,” jelas Gogot.

Dibandingkan dengan harga pemeriksaan gangguan ginjal menggunakan gamma camera sekitar Rp 800 ribu atau dengan yang lebih canggih lagi, sekali pemeriksaan tak kurang harus mengeluarkan rupiah Rp8 juta. Pemeriksaan dengan renogram lebih terjangkau, sekitar Rp600 ribu.

yy/viva.co.id