25 Dzulhijjah 1442  |  Rabu 04 Agustus 2021

basmalah.png

Ramai-ramai Melancong ke Swiss, Turis-turis Ini Cuma Numpang Bunuh Diri

Ramai-ramai Melancong ke Swiss, Turis-turis Ini Cuma Numpang Bunuh Diri

Fiqhislam.com - Tidak jelasnya aturan tentang bunuh diri berbantu (Assisted suicide) di Swiss membuat banyak warga Eropa datang berkunjung semata-mata numpang bunuh diri. Tren yang belakangan terus meningkat ini disebut suicide tourism.

Dari tahun 2008 hingga 2012, tercatat 611 'turis' datang ke Swiss hanya untuk bunuh diri. Sebuah laporan yang dipublikasikan di jurnal 'Law, Ethics and Medicine' pekan ini mengungkap, para 'turis' datang dari 31 negara, mayoritas dari Jerman dan Inggris.

"Di Inggris setidaknya, 'pergi ke Swiss' sudah menjadi eufimisme (istilah perumpamaan) untuk bunuh diri. 6 Organisasi pembela hak untuk mati telah membantu 600 kasus bunuh diri tiap tahun, 150-200 di antaranya adalah suicide tourist," tulis para ilmuwan dalam laporan ilmiahnya, seperti dikutip dari CNN, Senin (25/8/2014).

Dari 611 kasus bunuh diri berbantu yang teridentifikasi dalam periode 4 tahun tersebut, 58 persen di antaranya perempuan. Rentang usia dari 23 tahun hingga 97 tahun, dengan rata-rata 69 tahun. Hampir setengahnya memiliki penyakit nwurologis atau saraf, sedangkan sisanya ada yang sakit jantung maupun kanker.

Hampir seluruh kasus bunuh diri berbantu dalam laporan tersebut menggunakan natrium pentobarbital. Dalam dosis tertentu, obat ini membuat orang jatuh dalam kondisi koma, melumpuhkan sistem pernapasan, sehingga yang bersangkutan meninggal karena tidak bisa bernapas.

Di banyak negara, bunuh diri berbantu melalui euthanasia atau suntik mati pada pasien yang tersiksa oleh penyakitnya, banyak menuai perdebatan. Di Swiss, aturannya masih tidak jelas dan dokter profesional diizinkan untuk melakukannya pada kondisi tertentu. [yy/health.detik.com]