14 Dzulhijjah 1442  |  Sabtu 24 Juli 2021

basmalah.png

Psikologi: Gangguan Kepribadian Paranoid dan Upaya Terapinya

Psikologi: Gangguan Kepribadian Paranoid dan Upaya Terapinya

Fiqhislam.com - Dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan berbagai perilaku dan emosi seseorang. Ada yang perilakunya sopan, ramah, mudah bergaul, disukai orang, dan mampu mengendalikan emosi dengan baik. Ada juga yang perilakunya cuek, tidak memperhatikan sopan santun, penuh curiga, mudah marah hanya karena masalah kecil, menarik diri, dan emosinya tidak stabil alias tidak menentu dan sulit dikendalikan.

Kalau suatu perilaku dan emosi menetap pada diri seseorang sejak menjelang dewasa sampai saat ini dan merupakan sifat yang khas pada individu tersebut maka dapat dikatakan itulah ciri-ciri kepribadian orang tersebut.

Perilaku penuh prasangka dan cenderung sering curiga secara berlebihan dan tidak pada tempatnya merupakan indikasi tidak sehatnya kondisi psikologis/mental seseorang. Kondisi psikologis seseorang yang sedang terganggu (sakit) terlihat dari fungsi adaptasinya yang terganggu, sering menimbulkan masalah dan penderitaan yang dirasakan baik oleh dirinya sendiri maupun orang lain. Selain itu perilakunya juga sulit ditolerir dan sukar diterima bagi kebanyakan orang. Hal ini karena ia mengalami kerusakan dalam hubungan sosialnya atau dalam bidang pekerjaannya. Para psikolog maupun psikiater biasanya menggolongkan prilaku orang yang pencuriga sebagai orang yang mengalami gangguan kepribadian jenis paranoid (paranoid personality).

Gangguan kepribadian ini merupakan suatu proses perkembangan yang timbul sejak masa kanak-kanak atau remaja dan berlanjut hingga masa dewasa. Ciri utama Kepribadian Paranoid adalah kecurigaan dan ketidakpercayaan pada orang lain yang berlangsung lama. Mereka sangat peka terhadap kegagalan dan penolakan. Mereka lebih mudah dan cenderung menyimpan dendam. Mereka seringkali bersikap bermusuhan, mudah tersinggung, dan mudah marah. Pada umumnya mereka memiliki permasalahan di bidang pekerjaan dan perkawinan seumur hidupnya.

Orang yang mengalami gangguan kepribadian paranoid paling tidak memiliki 3 ciri atau perilaku berikut (Dalam PPDGJ III, Pedoman Pembagian Diagnostik Gangguan Jiwa)

Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan

Kegagalan dan penolakan sering dipersepsi sebagai suatu tindakan penghinaan berat terhadap dirinya, sehingga respon yang ada adalah perasaan marah, kalut, dan sakit hati. Padahal dalam hidup ini kita tidak bisa selalu berharap diterima dan sukses dalam segala aspek, dalam beberapa hal bila memang kita tidak bisa memenuhi kualifikasi tentu saja kita akan ditolak. Bagaimanapun kegagalan adalah bagian dari kehidupan, sama halnya dengan keberhasilan.

Kecenderungan untuk menyimpan dendam

Lebih mudah untuk merasa sakit hati dan hal ini menetap lama dan sukar untuk dihilangkan dan dilupakan. Ia mampu mengingat dengan baik semua moment dan hal yang menyakiti dirinya. Perasaan ini membuat dirinya aktif mengumpulkan energi marah, yang akhirnya akan menekan, dan pada saat-saat tertentu dapat meledak.

Kecurigaan dan kecenderungan yang senantiasa untuk meyalahartikan tindakan orang lain yang netral atau sahabat sebagai suatu sikap permusuhan dan penghinaan.

Ia sukar dan tidak pernah merasa welcome pada orang lain, kendati itu orang yang paling dekat dengan dirinya. Ia merasa bahwa orang lain pasti punya motif-motif terpendam, sebagaimana dirinya yang sukar untuk melepaskan diri dari prasangka-prasangka pada orang lain.

Mempertahankan dengan gigih hak pribadinya yang sebenarnya tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya

Rasa posesifnya sangat tinggi terhadap banyak hal, termasuk hal-hal yang beririsan dengan kepentingan orang lain. Ia merasa memiliki hak yang lebih besar dan lebih banyak dari siapapun yang ada di lingkungannya.

Kecurigaan yang berulang dan tanpa dasar tentang kesetiaan pasangannya

KECEMBURUAN yang berlebihan terhadap suami/istrinya, yang pada intinya adalah tidak adanya kepercayaan pada pasangan dan merasa terancam akan dikhianati.

Kecenderungan merasa dirinya penting secara berlebihan

Merasa sebagai orang yang tidak layak dan tidak sepatutnya mendapatkan kritikan, penolakan dan kekecewaan. Bagi yang mengkritik, menolak atau mengecewakannya dianggap sebagai orang yang tidak tahu diri dan menginjak-injak harga dirinya.

Pikirannya terpaku pada prasangka adanya persekongkolan, walaupun tanpa bukti terhadap suatu peristiwa (baik terhadap dirinya maupun dunia umumnya)

Prasangka, yang sebenarnya hanyalah suatu perkiraan, benar-benar diyakini sebagai suatu kebenaran yang pasti. Sehingga ia merasa pantas-pantas saja bila berusaha mengambil jarak, bersikap bermusuhan, dan tidak bersahabat.

Penyebab dari gangguan kepribadian Paranoid

Faktor sosiokultutal, seperti faktor budaya, pola asuh keluarga, dan pengaruh lingkungan social, merupakan penyebab dominan dari terbentuknya kepribadian yang paranoid. Pola asuh keluarga memainkan peranan yang penting. Pengasuhan yang dominan menggunakan kata-kata sarkasme, sinisme, kritik yang sifatnya merendahkan orang lain, menekan dan kurang menghargai perasaan anak maupun orang lain bisa menjadikan seseorang tumbuh menjadi penderita paranoid.

Bentuk Terapi

Terapi kognitif bisa jadi menjadi terapi pilihan yang utama untuk menyembuhkan kepribadian paranoid ini. Terapi kognitif adalah terapi dimana individu dirubah cara berpikirnya yang maladatif (tidak sehat) menjadi pola berpikir yang adaptif (sehat). Proses ini tentunya memerlukan waktu yang tidak sebentar dan harus dilakukan secara bertahap berkesinambungan, dan perlu kontrol untuk mengevaluasi perubahannya. Pada prinsipnya terapi kognitif yang efektif adalah yang berusaha menghubungkan pikiran dengan value tertinggi yaitu aspek kesadaran atau kecerdasan spiritual (Spiritual quotient). Yang pada akhirnya secara bersamaah ia juga mengasah dan membuka kepekaan emosional (emotional quotient)

Langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam terapi kognitif ini antara lain:

  1. Menanyakan pada individu apa kira-kira yang banyak mempengaruhi pikiran-pikirannya, apakah itu orang-orang tertentu, pemikiran-pemikiran tertentu, atau peristiwa-peristiwa tertentu ?
  2. Lalu mintalah individu untuk mengevaluasi pikiran-pikirannya, bandingkan dengan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang haqiqi yang bersifat Illahiyah (yang tidak lain adalah nilai-nilai spiritual yang bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadist). Ini berguna untuk merumuskan kembali nilai-nilai hidupnya. Termasuk juga ajak ia untuk berusaha menjawab, mengapa ia harus curiga, dendam, atau marah. Perasaan-perasan itu harus memiliki alasan yang kuat.
  3. Luaskan wawasan dan pengetahuan individu tentang nilai-nilai agama secara terus menerus, kalau perlu jadikan itu sebagai pembelajaran seumur hidup. Dekatkan ia pada sosok-sosok individu yang memiliki kesehatan mental (psikologis dan spiritualnya) untuk mewarnai dan meminimalisir sifat negatifnya.
  4. Mintalah individu untuk merumuskan visi dan misi hidupnya serta idealisme atau nilai-nilai tertinggi yang dijunjung tinggi dalam hidupnya
  5. Mintalah individu untuk melawan dan mengontrol lintasan-lintasan pikiran negatif yang memasuki pikirannya dan isi segera dengan pikiran baik sebagai pengganti. Ajak ia untuk berusaha melapangkan jiwa.
  6. Mintalah individu untuk sering merenung dan introspeksi sedikitnya setiap akan tidur, yang berguna untuk menciptakan kejernihan berpikir. Berikan motivasi padanya untuk memperkuat diri terhadap berbagai bentuk tekanan hidup dan perubahan-perubahan lingkungan (sosial, ekonomi, politik).
  7. Bila ada gagasan-gagasan baru yang sifatnya untuk pengembangan diri ada baiknya segera dicatat dan didokumentasikan, ini berguna untuk menumbuhkan motivasi dan memberikan semangat untuk perbaikan
  8. Sekali waktu rencanakan rihlah, rekreasi, atau perjalanan ke tempat-tempat tertentu atau ke luar kota, yang beguna untuk merilekskan dan menyegarkan pikiran (yang sumpek karena dijejali beban prasangka) dan juga melihat banyak sisi dalam kehidupan ini yang bisa jadi bahan renungan. Di sini individu bisa belajar dan berusahalah untuk mencintai diri sendiri dan orang lain dengan ketulusan. Berikan perhatian dan kehendak baik pada orang lain.

Segera list sifat-sifat buruk yang ada pada diri dan ingin dihilangkan, dan juga sifat-sifat baik yang ingin dimiliki, serta mudharat dan manfaat masing-masing sifat tersebut. Ini akan memancing dan menumbuhkan motivasi untuk berjuang memperbaiki diri

Yang tidak kalah pentingnya adalah berdoa kepada Allah memohon diberikan sifat yang diinginkan tersebut. Usahakan untuk terus menghadirkan Allah dalam setiap dimensi waktu (dzikrullah), ini berguna untuk menenangkan jiwa dan emosi, juga sebagai fungsi kontrol dalam upaya pengendalian diri.

Wallahu’alam Bishawab.

Oleh Inna Mutmainnah, Psi
Sumber: Majalah SAKSI
yy/islampos