2 Dzulhijjah 1443  |  Sabtu 02 Juli 2022

basmalah.png

Fiqhislam.com - Ivermectin menjadi pembahasan hangat belakangan ini karena dianggap dapat menjadi obat terapi COVID-19. Padahal, obat tersebut sejatinya baru diakui secara ilmiah sebagai obat cacing, tidak lebih dari itu.

Kemudian muncul anggapan bahwa Ivermectin bisa dipakai untuk menangani COVID-19 karena hasil riset in vitro yang menyebutkan bahwa obat cacing ini punya potensi, meski kecil sekali, untuk mengatasi infeksi SARS-CoV2.

"Perlu saya tekankan di sini bahwa riset invitro itu baru sebatas tes pada sel, artinya masih praklinik, belum masuk ke uji klinis. Jadi, belum diketahui berapa dosis yang tepat untuk penanganan COVID-19 dan bagaimana khasiat obat tersebut lebih lanjut," terang Ahli Kesehatan Prof. Ari Fahrial Syam dalam unggahan video di Instagramnya, Kamis (24/6).

Jika dipergunakan secara tidak tepat, yang ada obat tersebut malah menimbulkan risiko buruk. Terlebih Ivermectin adalah obat tunggal, artinya tak boleh dikonsumsi setiap hari.

"Sama seperti kebanyakan obat cacing lain, Ivermectin ini obat tunggal sehingga tidak dikonsumsi harian untuk beberapa hari ke depan," tegas Prof. Ari.

Kalau berani menggunakan Ivermectin berhari-hari dalam waktu yang singkat, maka risiko efek samping terburuk bisa terjadi. Ia menyebutkan, ada beberapa penyakit yang bisa timbul jika Ivermectin dikonsumsi tiap hari.

"Obat Ivermectin itu bekerja di sistem pencernaan, jadi beberapa reaksi yang bisa muncul seperti mual, muntah, nyeri ulu hati, bahkan diare, sakit kepala, dan kalau dikonsumsi dalam jumlah besar dengan jangka waktu pendek, yang paling terganggu adalah kerusakan liver," paparnya.

Prof. Ari mengimbau masyarakat tidak terburu-buru untuk mengambil sikap membeli Ivermectin sebagai pencegahan apalagi pengobatan COVID-19. Sebab, ada efek samping yang harus dipahami.

"Jangan terburu-buru membeli obat ini apalagi untuk pencegahan atau mengobati COVID-19. Tapi kalau masyarakat ingin mengonsumsi obat ini sebagai obat cacing, ya, nggak masalah, asal sesuai anjuran dokter. Saya perlu katakan sekali lagi bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan misalnya ada alergi atau nggak dan masyarakat harus mengantisipasi adanya efek samping dari obat ini," tandas Prof. Ari. [yy/sindonews]

 

Fiqhislam.com - Ivermectin menjadi pembahasan hangat belakangan ini karena dianggap dapat menjadi obat terapi COVID-19. Padahal, obat tersebut sejatinya baru diakui secara ilmiah sebagai obat cacing, tidak lebih dari itu.

Kemudian muncul anggapan bahwa Ivermectin bisa dipakai untuk menangani COVID-19 karena hasil riset in vitro yang menyebutkan bahwa obat cacing ini punya potensi, meski kecil sekali, untuk mengatasi infeksi SARS-CoV2.

"Perlu saya tekankan di sini bahwa riset invitro itu baru sebatas tes pada sel, artinya masih praklinik, belum masuk ke uji klinis. Jadi, belum diketahui berapa dosis yang tepat untuk penanganan COVID-19 dan bagaimana khasiat obat tersebut lebih lanjut," terang Ahli Kesehatan Prof. Ari Fahrial Syam dalam unggahan video di Instagramnya, Kamis (24/6).

Jika dipergunakan secara tidak tepat, yang ada obat tersebut malah menimbulkan risiko buruk. Terlebih Ivermectin adalah obat tunggal, artinya tak boleh dikonsumsi setiap hari.

"Sama seperti kebanyakan obat cacing lain, Ivermectin ini obat tunggal sehingga tidak dikonsumsi harian untuk beberapa hari ke depan," tegas Prof. Ari.

Kalau berani menggunakan Ivermectin berhari-hari dalam waktu yang singkat, maka risiko efek samping terburuk bisa terjadi. Ia menyebutkan, ada beberapa penyakit yang bisa timbul jika Ivermectin dikonsumsi tiap hari.

"Obat Ivermectin itu bekerja di sistem pencernaan, jadi beberapa reaksi yang bisa muncul seperti mual, muntah, nyeri ulu hati, bahkan diare, sakit kepala, dan kalau dikonsumsi dalam jumlah besar dengan jangka waktu pendek, yang paling terganggu adalah kerusakan liver," paparnya.

Prof. Ari mengimbau masyarakat tidak terburu-buru untuk mengambil sikap membeli Ivermectin sebagai pencegahan apalagi pengobatan COVID-19. Sebab, ada efek samping yang harus dipahami.

"Jangan terburu-buru membeli obat ini apalagi untuk pencegahan atau mengobati COVID-19. Tapi kalau masyarakat ingin mengonsumsi obat ini sebagai obat cacing, ya, nggak masalah, asal sesuai anjuran dokter. Saya perlu katakan sekali lagi bahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan misalnya ada alergi atau nggak dan masyarakat harus mengantisipasi adanya efek samping dari obat ini," tandas Prof. Ari. [yy/sindonews]

 

Hoax

Hoax, Beredar Resep Obat untuk Pasien Covid-19


Fiqhislam.com - Sebuah pesan berantai muncul di media sosial mengenai resep obat yang dapat digunakan seseorang saat menderita COVID-19. Resep itu diklaim sama seperti obat yang digunakan di rumah sakit untuk mengobati para pasien COVID-19.

"Kalau ada yg kena covid tidak perlu panik dan tidak harus ke RS kalau memang tidak terlalu parah sesak napas sampai perlu ICU dan ventilator, karena saat ini RS khusus covid semua penuh.

Bisa diobati sendiri, obat di RS untuk pasien covid seperti ini:

- Antibiotik:

azitromycin atau zitrothromax 500 mg diminum 10 hari

- Antivirus:

fluvir 75

- Anti batuk dan kluarin dahak:

fluimucil 200mg

- Anti radang:

Dexamethasone 0,5

- Turun panas:

Paracetamol, sanmol

- jgn panik dan Stress.

Untuk jaga imun diatas 55 thn

Tetap hrs minum multi vitamin C 1000 mg .

D 5000 Iu .

E 400 Iu .

Zinc zat (besi )dan usahakan berjemur matahari pagi hari setidaknya 15 menit.

Lianghua sangat bagus untuk membantu meredakan gejala spt batuk dan sesak napas diminum 3x4 kapsul sehari

Silahkan di share ke semua yg membutuhkan, semoga dapat membantu dan cepat sembuh

Namun, benarkah resep obat COVID-19 tersebut?

Penjelasan:

Berdasarkan penelusuran ANTARA, pesan itu adalah hoaks dan telah beredar sejak akhir 2020. [yy/okezone]