16 Jumadil-Akhir 1443  |  Rabu 19 Januari 2022

basmalah.png

KESEHATAN

Produsen: Tidak Ada Bukti Invermectin Bisa Lawan Covid-19

Produsen: Tidak Ada Bukti Invermectin Bisa Lawan Covid-19

Fiqhislam.com - Merck, selaku perusahaan produsen Ivermectin, obat yang disebut menjadi salah satu pilihan untuk terapi pasien dengan infeksi virus corona jenis baru mengatakan bahwa belum ada bukti nyata bahwa ini sebenarnya efektif terhadap penyakit wabah. Pihaknya tidak yakin dengan hal tersebut.

“Kami tidak yakin bahwa data yang tersedia mendukung keamanan dan kemanjuran Ivermectin di luar dosis dan populasi yang ditunjukkan dalam informasi peresepan yang disetujui badan pengatur,” ujar Merck dalam sebuah pernyataan pada Februari, dilansir Inquirer, Selasa (22/6).

Meski demikian, Ivermectin mendapatkan popularitas sebagai pengobatan dan profilaksis (obat pencegahan) COVID-19. Merck menggarisbawahi langkah untuk mendistribusikan obat tersebut tetap dilakukan, meski ada peringatan dari lembaga kesehatan, seperti yang terjadi di Filipina.

Departemen Kesehatan Filipina pada pekan lalu mengatakan bahwa hanya rumah sakit dengan izin khusus menggunakan Ivermectin untuk perawatan COVID-19. Sejauh ini, izin khusus hanya diberikan kepada lima rumah sakit di negara itu. Di Filipina, hanya krim topikal yang mengandung Ivermectin digunakan untuk mengobati penyakit kulit, seperti kutu dan rosacea yang tersedia secara komersial.

Dilansir American Journal of Therapeutics, Ivermectin menjadi salah satu obat yang diteliti untuk mencegah sekaligus mengobati COVID-19. Obat ini dikenal memiliki sifat anti-parasit, anti-virus, dan anti-inflamasi.

Berbagai uji klinis yang dilakukan terkait Ivermectin menunjukkan bahwa penggunaan obat ini dapat mengurangi kematian, diantara orang-orang dengan atau berisiko tinggi terhadap COVID-19. Terdapat setidaknya 24 uji coba terkontrol secara acak yang melibatkan 3406 peserta.

Berdasarkan 15 percobaan yang dilakukan, terlihat bahwa Ivermectin mengurangi risiko kematian dibandingkan tanpa penggunaan obat ini. Rasio risiko rata-rata adalah 0,38, interval.

Hasil ini dikonfirmasi dalam analisis sekuensial percobaan menggunakan metode DerSimonian–Laird, sekaligus mendukung analisis yang tidak disesuaikan. Analisis sekuensial percobaan menggunakan metode Biggerstaff-Tweedie juga menunjukkan hasil serupa.

Sejumlah bukti menemukan bahwa profilaksis Ivermectin mengurangi tingkat infeksi virus corona jenis baru rata-rata 86 persen. Hasil sekunder memberikan bukti yang kurang pasti. [yy/republika]

 

Produsen: Tidak Ada Bukti Invermectin Bisa Lawan Covid-19

Fiqhislam.com - Merck, selaku perusahaan produsen Ivermectin, obat yang disebut menjadi salah satu pilihan untuk terapi pasien dengan infeksi virus corona jenis baru mengatakan bahwa belum ada bukti nyata bahwa ini sebenarnya efektif terhadap penyakit wabah. Pihaknya tidak yakin dengan hal tersebut.

“Kami tidak yakin bahwa data yang tersedia mendukung keamanan dan kemanjuran Ivermectin di luar dosis dan populasi yang ditunjukkan dalam informasi peresepan yang disetujui badan pengatur,” ujar Merck dalam sebuah pernyataan pada Februari, dilansir Inquirer, Selasa (22/6).

Meski demikian, Ivermectin mendapatkan popularitas sebagai pengobatan dan profilaksis (obat pencegahan) COVID-19. Merck menggarisbawahi langkah untuk mendistribusikan obat tersebut tetap dilakukan, meski ada peringatan dari lembaga kesehatan, seperti yang terjadi di Filipina.

Departemen Kesehatan Filipina pada pekan lalu mengatakan bahwa hanya rumah sakit dengan izin khusus menggunakan Ivermectin untuk perawatan COVID-19. Sejauh ini, izin khusus hanya diberikan kepada lima rumah sakit di negara itu. Di Filipina, hanya krim topikal yang mengandung Ivermectin digunakan untuk mengobati penyakit kulit, seperti kutu dan rosacea yang tersedia secara komersial.

Dilansir American Journal of Therapeutics, Ivermectin menjadi salah satu obat yang diteliti untuk mencegah sekaligus mengobati COVID-19. Obat ini dikenal memiliki sifat anti-parasit, anti-virus, dan anti-inflamasi.

Berbagai uji klinis yang dilakukan terkait Ivermectin menunjukkan bahwa penggunaan obat ini dapat mengurangi kematian, diantara orang-orang dengan atau berisiko tinggi terhadap COVID-19. Terdapat setidaknya 24 uji coba terkontrol secara acak yang melibatkan 3406 peserta.

Berdasarkan 15 percobaan yang dilakukan, terlihat bahwa Ivermectin mengurangi risiko kematian dibandingkan tanpa penggunaan obat ini. Rasio risiko rata-rata adalah 0,38, interval.

Hasil ini dikonfirmasi dalam analisis sekuensial percobaan menggunakan metode DerSimonian–Laird, sekaligus mendukung analisis yang tidak disesuaikan. Analisis sekuensial percobaan menggunakan metode Biggerstaff-Tweedie juga menunjukkan hasil serupa.

Sejumlah bukti menemukan bahwa profilaksis Ivermectin mengurangi tingkat infeksi virus corona jenis baru rata-rata 86 persen. Hasil sekunder memberikan bukti yang kurang pasti. [yy/republika]

 

Ivermectin untuk Terapi

Ivermectin untuk Terapi, Bukan Obat Covid-19


Fiqhislam.com - Menteri BUMN Erick Thohir menekankan obat Ivermectin produksi PT Indofarma Tbk untuk terapi penanganan Covid-19, tapi bukan obat Covid. Erick mengatakan, pihaknya terus berkomunikasi intensif dengan Kemenkes karena dari studi yang ada Ivermectin ini dianggap bisa membantu terapi pencegahan dan harganya sangat murah.

"Tapi, kembali ditekankan ini adalah terapi, bukan obat Covid-19. Ini bagian dari salah satu terapi," ujar Erick Thohir seperti dikutip dari akun Instagram resminya @erickthohir di Jakarta, Selasa (22/6).

Menteri BUMN itu juga mengingatkan Ivermectin merupakan obat keras dan harus digunakan dengan resep serta pengawasan dokter. Dengan demikian, masyarakat tidak boleh asal-asalan dalam mengonsumsinya.

"Harap diingat, Ivermectin tergolong obat keras dan harus digunakan dengan resep serta pengawasan dokter. Jadi, jangan sekali-kali mengkonsumsi obat ini tanpa resep dokter," katanya menegaskan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan Ivermectin adalah obat antiparasit yang sudah digunakan terbatas untuk terapi penyembuhan Covid-19 di berbagai negara dari India sampai Amerika, juga Indonesia, seperti obat-obat untuk penyakit lain yang berpotensi untuk penanganan Covid-19.

Ivermectin masih terus diuji untuk penambahan indikasi penggunaan untuk Covid-19. "Namun, dalam kondisi pandemi yang butuh penanganan cepat dan dengan izin edar dari Badan POM ini, Indofarma siap produksi 4 juta tablet per bulan dan menjualnya dengan harga terjangkau agar bisa bangun kemandirian bangsa dan membantu penanganan Covid-19," ujar Menteri BUMN Erick Thohir.

Erick juga kembali mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap patuh dan disiplin menjalankan protokol kesehatan selama pandemi Covid-19 saat ini. "Walaupun usaha maksimal sudah dilakukan dalam memerangi pandemi ini, kita harus tetap mengutamakan disiplin protokol kesehatan dan vaksinasi. Kerja sama pemerintah dan masyarakat akan membantu kita keluar dari pandemi," kata Erick Thohir. [yy/republika]