23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Gawat! Obat Anti Malaria Sudah Tak Manjur Lagi

Fiqhislam.com - Di tengah upaya gencarnya memberantas malaria, muncul ancaman baru yang mengkhawatirkan, yaitu berkembangnya resistensi obat yang paling efektif untuk mengatasi malaria di daerah Asia Pasifik.

Gawat! Obat Anti Malaria Sudah Tak Manjur Lagi Munculnya kasus penyakit yang telah kebal terhadap obat ini memaksa ilmuwan mengembangkan obat baru yang lebih efektif.

Beberapa puluh tahun belakangan, telah banyak obat malaria yang kehilangan kemanjurannya karena resistensi.

Sayangnya, sebagian besar negara-negara endemi tak memiliki pilihan lain. Kondisi ini akan menyebabkan sekitar 216 juta orang yang terinfeksi malaria setiap tahun menjadi lebih berisiko keselamatan jiwanya.

"Resistensi terhadap obat ACT sudah muncul di daerah perbatasan Kamboja dan Thailand. Meskipun obat ini masih manjur bagi 90% penderita malaria di dunia, penting sekali dilakukan pencegahan sesegera mungkin. Jika pencegahan resistensi gagal, banyak negara akan kehilangan cara menyembuhkan malaria," kata dr Khanchit Limpakarnjanarat, wakil WHO untuk Indonesia dalam acara jumpa pers Forum Gebrak Malaria di Hotel Aryaduta, Jakarta, Jumat (13/4/2012).

ACT atau Artemisinin based Combination Therapy merupakan pengobatan terbaru untuk menyembuhkan infeksi Plasmodium falcifarum, penyebab malaria yang paling mematikan. Obat ini merupakan penyempurnaan dari obat sebelumnya yang juga telah resisten terhadap amoeba penyebab malaria.

Di tengah peliknya resistensi obat ini, muncul juga kabar yang menyatakan bahwa 20% obat malaria yang beredar di Asia Tenggara ternyata palsu. Adanya obat palsu ini menyumbang 20% angka kejadian malaria di Asia. Namun sampai saat ini, kasus obat malaria palsu ini masih sulit ditelusuri.

"Asia merupakan hot spot munculnya resistensi obat malaria. Memang bisa jadi ada beberapa obat palsu yang beredar di Asia. Untuk mengatasinya, kami membutuhkan dukungan politik agar dapat menghentikan produksi, distribusi dan penggunaan obat palsu," kata dr Limpakarnjanarat.

Dr Limpakarnjanarat berharap pengendalian obat-obatan di Indonesia bisa ditangani dengan baik oleh badan POM sehingga penggunaannya tidak membahayakan pasien yang sudah mengidap penyakit mematikan.

detikHealth

 

Tiap Tahun 11.000 Orang Indonesia Meninggal Karena Malaria

Fiqhislam.com -Malaria masih menyita perhatian dunia. Di Indonesia, 11.000 orang meninggal karena malaria setiap tahunnya berdasarkan data tahun 2011. Total kejadian kasus malaria sebanyak 256.592 kasus.

Tiap Tahun 11.000 Orang Indonesia Meninggal Karena MalariaSebanyak 80% daerah di Indonesia dikategorikan dalam wilayah endemis dan 45% penduduk tinggal di wilayah endemis.

Daerah-daerah yang berisiko ini adalah daerah-daerah timur seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan Nusa Tenggara Timur. Daerah endemis ini ditargetkan bebas malaria pada tahun 2030.

"Meskipun kita telah menyaksikan kemajuan pengendalian malaria beberapa tahun belakangan, hampir 700.000 orang dari berbagai belahan dunia meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dan diobati ini. Asia memiliki kasus terbanyak setelah Afrika. Indonesia menunjukkan pentingnya kepemimpinan politis, ketersediaan sumber daya dan kemitraan efektif dalam memberantas malaria," kata Herve Verhoosel, kepala hubungan luar RBM dalam jumpa pers Forum Nasional Gebrak Malaria di Hotel Aryaduta, Jakarta (13/4/2012).
.
Berdasarkan data lembaga kemitraan global pemberantasan malaria, Roll Back Malaria (RBM), 91% kasus kematian akibat malaria terjadi di Afrika. 85% di antaranya menyebabkan kematian balita. Di Asia Tenggara, kematian akibat malaria menyumbang 4% dari total seluruh dunia.

RBM merupakan lembaga kemitraan global yang bertujuan memerangi wabah malaria di seluuh dunia. Lembaga ini telah berkoordinasi dengan 43 negara endemis Malaria di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Di Indonesia, program ini diterjemahkan menjadi Gerakan Berantas Kembali Malaria (Gebrak Malaria).

"Sampai saat ini, kita telah melihat kemajuan nyata melawan malaria. Kita telah menurunkan sepertiga dari jumlah kematian sebelumnya, dan 43 negara di dunia telah menurunkan kasus dan kematian akibat malaria hingga 50%," kata Verhoosel.

Menurut RBM, negara-negara terbanyak kasus malaria adalah Nigeria, Kongo, Ethiopia, Tanzania dan Kenya. Sedangkan negara dengan tingkat kematian terbanyak akibat malaria adalah Nigeria dengan 225.424 kematian. Tingkat kejadian malaria per tahun atau Annual Parasite Incident (API) di Indonesia adalah 1,25 kasus tiap 1000 orang penduduk.

detikHealth