5 Jumadil-Awal 1443  |  Kamis 09 Desember 2021

basmalah.png

Stroke Mulai Banyak Dialami Anak Muda

Stroke Mulai Banyak Dialami Anak Muda


Fiqhislam.com - Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Mohamad Hasan Machfoed mengatakan saat ini serangan stroke mulai cenderung dialami orang yang lebih muda. "Dulu orang terkena stroke di usia 55, 65, sekarang usia 44 tahun sudah terkena stroke," kata Hasan, di Jakarta, Rabu 25 Oktober 2017.

Dia menerangkan perubahan usia orang yang terkena serangan stroke menjadi lebih muda dipengaruhi oleh perubahan pola hidup masyarakat, yang juga merupakan penyebab meningkatnya kasus penyakit tidak menular dewasa ini. "Akibat perubahan pola hidup, stres, pola makan tidak teratur, banyak makan makanan siap saji, dan sebagainya, kurang aktivitas fisik," kata dia.

Sebagai contoh penyintas stroke berinisial BS yang saat ini berusia 77 tahun mengalami serangan stroke iskemik pertamanya pada usia 46 tahun dan berulang hingga 12 kali. Sementara penyintas stroke yang lain, MA, yang merupakan penderita stroke hemoragik atau stroke berdarah, telah mengalami serangan stroke dengan pecahnya pembuluh darah di otak saat usia 41 tahun.

Kasus serangan stroke termuda dialami oleh salah seorang pasien di RS dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang berusia 21 tahun dengan kondisi lumpuh separuh tubuh.

Penyakit stroke bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen atau kematian bagi penderitanya. Stroke yang dialami orang muda menghambat produktivitas bagi dirinya dan bahkan membuat anggota keluarga juga menjadi tidak produktif karena harus mengurus keluarga yang sakit. Bahkan, stroke juga menimbulkan stres bagi pasien akibat penyakit yang dideritanya dan stres bagi anggota keluarga yang mengurusnya. [yy/tempo]

Stroke Mulai Banyak Dialami Anak Muda


Fiqhislam.com - Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi), Mohamad Hasan Machfoed mengatakan saat ini serangan stroke mulai cenderung dialami orang yang lebih muda. "Dulu orang terkena stroke di usia 55, 65, sekarang usia 44 tahun sudah terkena stroke," kata Hasan, di Jakarta, Rabu 25 Oktober 2017.

Dia menerangkan perubahan usia orang yang terkena serangan stroke menjadi lebih muda dipengaruhi oleh perubahan pola hidup masyarakat, yang juga merupakan penyebab meningkatnya kasus penyakit tidak menular dewasa ini. "Akibat perubahan pola hidup, stres, pola makan tidak teratur, banyak makan makanan siap saji, dan sebagainya, kurang aktivitas fisik," kata dia.

Sebagai contoh penyintas stroke berinisial BS yang saat ini berusia 77 tahun mengalami serangan stroke iskemik pertamanya pada usia 46 tahun dan berulang hingga 12 kali. Sementara penyintas stroke yang lain, MA, yang merupakan penderita stroke hemoragik atau stroke berdarah, telah mengalami serangan stroke dengan pecahnya pembuluh darah di otak saat usia 41 tahun.

Kasus serangan stroke termuda dialami oleh salah seorang pasien di RS dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yang berusia 21 tahun dengan kondisi lumpuh separuh tubuh.

Penyakit stroke bisa mengakibatkan kelumpuhan permanen atau kematian bagi penderitanya. Stroke yang dialami orang muda menghambat produktivitas bagi dirinya dan bahkan membuat anggota keluarga juga menjadi tidak produktif karena harus mengurus keluarga yang sakit. Bahkan, stroke juga menimbulkan stres bagi pasien akibat penyakit yang dideritanya dan stres bagi anggota keluarga yang mengurusnya. [yy/tempo]

Lumpuh Sesaat, Waspada Gejala Dini Stroke

Lumpuh Sesaat, Waspada Gejala Dini Stroke


Lumpuh Sesaat, Waspada Gejala Dini Stroke


Fiqhislam.com - Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) Mohamad Hasan Machfoed meminta masyarakat mewaspadai kondisi tubuh saat terasa lumpuh selama beberapa saat. Menurut Hasan, kelumpuhan itu bisa mengarah pada serangan stroke. "Serangan stroke selintas itu transient ischemic attack (TIA), terjadi karena pembuluh darah menutup sementara. Itu bahaya, merupakan tanda dini terjadi stroke," kata Hasan di Jakarta, Rabu, 25 Oktober 2017.

Pembuluh darah yang tersumbat sesaat menyebabkan aliran darah ke otak melambat atau terhenti sehingga mengakibatkan gejala gangguan saraf sesaat seperti yang dialami penderita stroke. Umumnya, serangan stroke selintas terjadi selama 30 menit hingga dua jam kemudian penderitanya kembali normal.

Serangan selintas itu menyebabkan kebas atau tak merasakan sebagian tubuh, gerak tubuh melemah tiba-tiba, kesemutan, dan berbicara tidak nyambung atau kata-katanya tidak terstruktur. "Orang yang terkena stroke iskemik, biasanya didahului TIA," kata Hasan.

Meski demikian, menurut dia, kebanyakan masyarakat tidak memahami kondisi lumpuh sesaat itu merupakan gejala dini akan terjadi serangan stroke di kemudian hari. Penyakit stroke merupakan penyakit pertama yang menyebabkan kematian terbanyak di Indonesia. Berdasarkan riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan tahun 2013, prevalensi stroke di Indonesia sebanyak 12,1 per 1.000 orang.

Hasan menyebut stroke disebabkan oleh empat faktor, yakni fisik, mental, sosial, dan spiritual. Dia mengingatkan agar masyarakat menjaga pola makan dan pola hidup sehat dengan menerapkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat, yakni melakukan aktivitas fisik, juga memperbanyak makan buah dan sayuran. "Hidup sehat, olahraga, cegah kegemukan, tidak mengkonsumsi alkohol, tidak merokok, kalau ada diabetes, kontrol diabetesnya, kontrol lemak," tuturnya.

Sejumlah faktor risiko dari segi fisik yang sebenarnya bisa dicegah ialah merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan buruk, konsumsi alkohol, kadar kolesterol tinggi, narkotika, obesitas, terapi pengganti hormon, hipertensi, gangguan irama jantung, penyakit jantung lainnya, diabetes, dan migrain. "Hipertensi yang paling jahat dari faktor yang lain, terutama hipertensi primer yang tidak ada sebabnya, 90 persen dari hipertensi yang ada," kata Hasan. [yy/tempo]

 

Tags: Stroke