30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Vaksin Palsu, Dibuat sejak 2003 Menggunakan Vaksin Tetanus

Vaksin Palsu, Dibuat sejak 2003 Menggunakan Vaksin Tetanus Fiqhislam.com - Polisi menangkap 10 tersangka pelaku terkait dengan peredaran vaksin palsu. Mereka ditangkap di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Agung Setya mengatakan pelaku sudah membuat berbagai jenis vaksin palsu sejak 2003.

Mereka meraciknya dengan bahan cairan infus dicampur vaksin tetanus. "Dikemas mirip dengan yang asli dan didistribusikan," kata Agung di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis, 23 Juni 2016.

Agung mengatakan pelaku membuat satu paket vaksin palsu dengan biaya Rp 150 ribu dan dijual Rp 250 ribu. Padahal, kata dia, harga vaksin asli Rp 800-900 ribu per paket. Keuntungan mereka Rp 20-25 juta setiap minggu.

"Penyebarannya sudah menyeluruh di Indonesia," ucap Agung. Ia menjelaskan, hal yang menggerakkan polisi menyelidiki vaksin palsu ini adalah ada beberapa kasus anak sakit hingga meninggal setelah divaksinasi. Namun Agung belum bisa memastikan apakah anak-anak ini diberi vaksin palsu.

Dalam penyelidikan awal, polisi menemukan beberapa penjual vaksin yang tidak memiliki izin untuk mengedarkan vaksin ini. Tempat ini ada di Karang Satria, Bekasi. "Polisi menemukan satu tempat yang di dalamnya banyak vaksin dan dikembangkan dengan menangkap J, pemilik toko Azka Medica, di Bekasi."

Sebanyak 10 orang yang ditangkap terdiri atas 5 produsen atau pembuat, 2 kurir, 2 penjual, termasuk pemilik apotek, serta 1 pekerja percetakan yang mencetak label vaksin. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Barang bukti yang disita polisi adalah 195 bungkus vaksin hepatitis B, 221 botol vaksin Pediacel, 364 botol pelarut vaksin campak kering, 81 bungkus vaksin penetes polio, 55 vaksin Anti-Snake dalam plastik, dokumen bukti penjualan vaksin, dan alat pembuat vaksin. [yy/tempo]

Vaksin Palsu, Dibuat sejak 2003 Menggunakan Vaksin Tetanus Fiqhislam.com - Polisi menangkap 10 tersangka pelaku terkait dengan peredaran vaksin palsu. Mereka ditangkap di Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Badan Reserse Kriminal Polri Brigadir Jenderal Agung Setya mengatakan pelaku sudah membuat berbagai jenis vaksin palsu sejak 2003.

Mereka meraciknya dengan bahan cairan infus dicampur vaksin tetanus. "Dikemas mirip dengan yang asli dan didistribusikan," kata Agung di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis, 23 Juni 2016.

Agung mengatakan pelaku membuat satu paket vaksin palsu dengan biaya Rp 150 ribu dan dijual Rp 250 ribu. Padahal, kata dia, harga vaksin asli Rp 800-900 ribu per paket. Keuntungan mereka Rp 20-25 juta setiap minggu.

"Penyebarannya sudah menyeluruh di Indonesia," ucap Agung. Ia menjelaskan, hal yang menggerakkan polisi menyelidiki vaksin palsu ini adalah ada beberapa kasus anak sakit hingga meninggal setelah divaksinasi. Namun Agung belum bisa memastikan apakah anak-anak ini diberi vaksin palsu.

Dalam penyelidikan awal, polisi menemukan beberapa penjual vaksin yang tidak memiliki izin untuk mengedarkan vaksin ini. Tempat ini ada di Karang Satria, Bekasi. "Polisi menemukan satu tempat yang di dalamnya banyak vaksin dan dikembangkan dengan menangkap J, pemilik toko Azka Medica, di Bekasi."

Sebanyak 10 orang yang ditangkap terdiri atas 5 produsen atau pembuat, 2 kurir, 2 penjual, termasuk pemilik apotek, serta 1 pekerja percetakan yang mencetak label vaksin. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Kesehatan dan Undang-Undang Perlindungan Konsumen dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Barang bukti yang disita polisi adalah 195 bungkus vaksin hepatitis B, 221 botol vaksin Pediacel, 364 botol pelarut vaksin campak kering, 81 bungkus vaksin penetes polio, 55 vaksin Anti-Snake dalam plastik, dokumen bukti penjualan vaksin, dan alat pembuat vaksin. [yy/tempo]

IDI: Vaksin Palsu Bisa Tersebar di Puskesmas

IDI: Vaksin Palsu Bisa Tersebar di Puskesmas

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengaku belum menerima laporan adanya vaksin palsu. Namun kalau pun terjadi, IDI menilai, kemungkinan besar bisa tersebar di Puskesmas.

“Kalau pun ada, itu berarti kemungkinan besar banyak tersebar di ranah puskemas,” kata Wakil Ketua Umum (Waketum) Pengurus Besar (PB) IDI, Dokter Daeng M Faqih saat dihubungi wartawan, Rabu (22/6).

Daeng menjelaskan, pada dasarnya tenaga kesehatan di lapangan seperti dokter, perawat maupun bidang akan selalu tahu palsu atau tidaknya vaksin. Sebab, mereka acap mendeteksi tercantumnya keterangan register pada vaksin. Jika tidak ditemukan, mereka tentu tidak akan memakainya.

Di samping itu, Daeng mengungkapkan, permasalahan sulit justru saat tidak terteranya keterangan resgiter. Para tenaga kesehatan tidak tahu benar atau tidaknya keterangan tersebut. Hal ini karena permasalahan tersebut merupakan kewenangan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

Dengan adanya kasus ditemukannya vaksin palsu, Daeng berpendapat, rantai distribusi terutama pemasokan vaksin harus diperketat. Selama ini, dia melanjutkan, aspek ini sepertinya tidak terlalu mengatur baik. “Harus diatur ketat zona produksi dan distribusinya termasuk registernya dibedakan,” terang dia.

Namun di antara samua itu, ia meminta, Bareskrim meneliti dahulu bahan apa yang terkandung pada vaksin tersebut. Sebab, bahan terkandung dalam vaksinlah yang menjadi faktor bahaya atau tidaknya vaksin tersebut. “Kan ada vaksin palsu dan sspal atau asli palsu. Yang Aspal itu biasanya isinya betul tapi areanya di luar distribusi,” tambah Daeng.

Sebelumnya, Penyidik dari Subdirektorat Industri Perdagangan (Subdit Indag) Bareskrim Polri membongkar praktek peredaran vaksin palsu untuk bayi pada Selasa (21/6) kemarin. Vaksin palsu tersebut dijual di apotek ternama berinisial ARIS yang berada di kawasan Kramatjati, Jakarta Timur. [yy/republika]

Pendapatan Pembuat Vaksin Bayi Palsu Capai Ratusan Juta

Pendapatan Pembuat Vaksin Bayi Palsu Capai Ratusan Juta

Subdit Industri dan Perdangan (Indag) Direktorat Tindak Pidana Eknomi Khusus, Bareskrim Polri berhasil membongkar jaringan pembuat vaksin bayi palsu di Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten, pada Rabu, 22 Juni 2016.

Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, Brigadir Jenderal Polisi Agung Setya, mengungkapkan alasan ekonomi menjadi motif para tersangka membahayakan masyarakat, dengan menciptakan vaksin palsu.

"Motif ekonomi yang tidak bermoral para pelaku, ini yang mendorong mereka memproduksi dan mendistribusikan dengan omset Rp100 juta sebulan untuk pembuat dan Rp80 juta untuk distributor," kata Agung Setya kepada VIVA.co.id di Jakarta, Kamis, 23 Juni 2016.

Agung menuturkan, para pelaku telah mendistribusikan vaksin itu ke beberapa wilayah, yaitu "ke Jakarta, Banten, dan Jawa Barat."

Pengungkapan pabrik pembuatan vaksin bayi berawal dari penggerebekan sebuah apotek berinisial ARIS di Kramatjati, Jakarta Timur.

"Dari penggerebekan di apotek, kami amankan pemilik apotek berinisial MF dan seorang kurir berinisial TH alias ER," ungkapnya.

Kemudian polisi bergerak ke pabrik yang ada di daerah Tangerang. Di tempat itu, polisi menangkap seorang pria berinisial AP yang diduga sebagai produsen pembuat vaksi bayi palsu, istrinya berinisial L, serta seorang kurir berinisial S.

Selain itu, menyita beberapa barang bukti terkait kasus ini, diantaranya ?307 vaksin campak kering, 11 vaksin Bacillus Calmette Guerin (BGC), tiga kemasan vaksin hepatitis B, serta 38 vaksin tetanus.

Kemudian juga sejumlah alat penyuling, larutan kimia, botol infus, dan perlatan medis pendukung pembuatan vaksin bayi palsu. [yy/viva]

 

Tags: vaksin | bayi | kesehatan