23 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 28 Nopember 2021

basmalah.png

Berbagai Macam Perdarahan di Saluran Cerna

Berbagai Macam Perdarahan di Saluran CernaFiqhislam.com - Timbulnya gangguan pada saluran cerna cukup sering dikeluhkan sebagian orang. Nyeri ulu hati, mual, muntah darah hitam atau segar, seringnya sembelit dan buang air besar berwarna hitam atau segar bisa jadi adalah tanda adanya perdarahan saluran pencernaan yang akut maupun kronik.

Dokter spesialis penyakit dalam Chaidir Aulia menjelaskan perdarahan bisa terjadi di mana saja di sepanjang saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Terjadinya perdarahan dapat disebabkan oleh satu atau lebih penyebab. Karena itu, mengetahui dengan pasti penyebab perdarahan penting dilakukan agar penanganannya dapat lebih optimal.

Perdarahan itu, misalnya, bisa terjadi pada saluran cerna bagian atas. Ini disebabkan karena pecahnya varises esophagus maupun nonvarises seperti tukak peptikum (tukak duodenum dan tukak gaster). Tukak peptikum disebabkan adanya kerusakan pada mukosa lambung atau usus dua belas jari akibat adanya asam lambung yang normalnya ada di dalam lambung pada proporsi tertentu.

Perdarahan ini juga dapat disebabkan infeksi Helicobacter Pylori yang mungkin ditularkan dari orang lain melalui makanan atau air yang terkontaminasi, penggunaan obat seperti aspirin atau obat-obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) yang dapat merusak dinding lambung dan stres.

Gejalanya pun bisa berbeda-beda. Pada perdarahan saluran cerna bagian atas seperti lambung atau usus dua belas jari, gejala yang timbul diantaranya muntah darah hitam di mana darah yang keluar bercampur dengan asam lambung (hematemesis) dan buang air besar yang kehitaman (melena).

"Pada perdarahan tukak peptikum dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan alat endoscopy (gastroscopy) sehingga luka atau sumber perdarahan dapat dideteksi dan dihentikan dengan hemoklip," kata Chaidir dalam rilis yang diterima Tempo dari Rumah Sakit Pondok Indah, Rabu, 29 Agustus 2012. "Sementara pada sebagian besar kasus dispepsia (nyeri ulu hati, mual, muntah, cepat kenyang, dan kembung), pengobatan dapat dilakukan dengan empirik terapi dari golongan antasida sampai golongan Proton Pump Inhibitor (PPI)."

Empirik terapi tersebut dapat dilakukan 4-6 minggu. Bila keluhan masih berlanjut Chaidir menyarankan agar pasien dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. "Apalagi bila terdapat ‘alarm symptom’ seperti turunnya berat badan, anemia, hematemesis, melena, atau bila berusia di atas 45 tahun dapat dirujuk langsung ke dokter spesialis penyakit dalam atau gastroenterologi," kata Chaidir yang juga Konsultan Gastroenterologi & Hepatologi, Rumah Sakit Pondok Indah.

Di Indonesia penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas selain tukak peptikum juga disebabkan pecahnya varises esophagus. Varises esophagus, Chaidir menjelaskan, adalah penyakit yang ditandai dengan pembesaran abnormal pembuluh darah vena di esophagus bagian bawah. Esophagus adalah saluran yang menghubungkan antara kerongkongan dan lambung.

Varises esophagus biasanya tidak bergejala, kecuali jika sudah robek dan berdarah. Beberapa gejala akibat perdarahan esophagus antara lain hematemesis, melena, hematoskezia (perdarahan yang keluar dari anus dengan warna merah segar), penurunan tekanan darah, dan anemia. Varises esophagus merupakan komplikasi dari penyakit sirosis atau pengerasan hati. Perdarahan yang tidak terkontrol juga menjadi penyebab kematian utama pada penderita sirosis dan transplantasi hati. Ancaman perdarahan ulang juga cukup besar, terutama dalam 48 jam pertama.

Metode penanganan varises esophagus cukup bervariasi, mulai dari konservatif (obat vasopresin, somatosatin, dan sebagainya), terapi injeksi endoscopy yaitu menyuntik pembuluh darah dengan larutan tertentu agar pembuluh darah berhenti berdarah sampai ligasi varises esophagus.

Pada perdarahan saluran cerna bagian bawah bisa disebabkan karena hemorroid (ambeien), divertikel (penonjolan mukosa buli), keganasan. Darah segar yang keluar dari anus, bisa merupakan hemorroid atau robekan di anus yang disebut fisura anus. Penanganan hemorroid juga bermacam-macam, tergantung berada pada stadium hemorroid tersebut. Pada stadium awal dapat ditangani dengan mengubah pola makan seperti makanan dengan serat tinggi dan suntik skleroterapi.

Kalau hemorroid ukurannya besar dapat ditangani dengan ligasi (pengikatan pembuluh darah). Sedang terapi bedah digunakan untuk penderita yang mengalami keluhan menahun, perdarahan berulang, atau prolaps. "Gangguan sakit perut bagian bawah dapat pula disebabkan adanya polip yang bisa dideteksi dengan alat colonoscopy dan biasanya dilakukan tindakan politektomi untuk penanganannya,” ungkap Chaidir. [tempo]