30 Rabiul-Akhir 1443  |  Minggu 05 Desember 2021

basmalah.png

Rezim Suriah: Tak Ada yang Peduli Warga Selain Pemerintah Assad

Rezim Suriah: Tak Ada yang Peduli Warga Selain Pemerintah Assad

Fiqhislam.com - Pemerintah Suriah mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB pada Jumat (15/1), tak ada yang peduli dengan nasib warga Suriah selain pemerintah Presiden Bashar al-Assad. Ini disampaikan setelah PBB menuduh pihak bersaing dalam konflik melakukan kejahatan perang dengan membuat warga kelaparan.

Wakil utusan Suriah untuk PBB Mounzer Mounzer mengatakan, Pemerintah Suriah adalah yang paling memperhatikan rakyatnya. "Tak ada yang bisa mengklaim lebih peduli warga kami daripada kami, tak ada negara lain, terutama ketika datang untuk memberikan bantuan ke daerah-daerah di bawah kendali kelompok teroris bersenjata," katanya.

Wakil Kepala Bantuan PBB Kyung-Wha Kang mengatakan, tanggung jawab utama atas penderitaan ini terletak pada pihak-pihak yang mempertahankan pengepungan.

Bagaimanapun menurutnya, orang-orang yang melakukan kegiatan militer di daerah pendudukan sehingga menggunakan warga sipil sebagai perisai juga bertanggung jawab karena membuat mereka dalam bahaya.

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan pada Kamis (14/1), bahwa pihak bertikai di Suriah khususnya pemerintah melakukan tindakan mengerikan dan pelanggaran terhadap warga sipil.

PBB mengatakan setidaknya 250 ribu orang tewas dalam perang sipil selama lima tahun di Suriah, dan 13,5 juta lainnya membutuhkan bantan kemanusiaan.

Ban: Jadikan Kelaparan Sebagai Senjata adalah Kejahatan Perang

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon memperingatkan menjadikan kelaparan sebagai senjata di Suriah merupakan kejahatan perang. Pernyataan ini disampaikan setelah konvoi internasional kedua tiba di kota Madaya untuk memberi bantuan kemanusiaan.

Seperti dilansir Al Jazeera, Ban mengatakan pada Kamis (14/1) warga yang dikepung di kota tersebut sangat membutuhkan bantuan kemanusiaan. Ban menegaskan, semua pihak termasuk pemerintah Suriah memiliki tanggung jawab utama melindungi Suriah.

"Biar aku menjelaskan. Penggunaan kelaparan sebagai senjata perang merupakan kejahatan perang," ujar Ban.

Ban berbicara setelah konvoi kedua yang membawa makanan dan kebutuhan lainnya memasuki Madaya untuk kedua kali pekan ini. Bantuan dikirim menyusul adanya laporan kelaparan dan penyakit.

Salah seorang warga, Mubarak Aloush mengatakan mereka sering kali tiga hari tanpa makanan. Itu membuat mereka akhirnya mengumpulkan rumput dan memakannya.

Pada Senin, konvoi bantuan pertama mencapai Madaya. Truk bantuan juga memasuki dua kota lainnya yang diblokade kelompok pemberontak.

Bantuan ini merupakan bagian dari upaya PBB memberi bantuan pada 4,5 juta warga Suriah yang tinggal di daerah terpencil, termasuk hampir 400 ribu orang yang berada di daerah terkepung.

Rusia Luncurkan Operasi Kemanusiaan di Suriah

Rusia mengatakan pada Jumat (15/1), telah meluncurkan operasi kemanusiaan di Suriah. Mereka mengklaim kehidupan damai perlahan-lahan kembali ke negara yang dilanda perang itu, setelah kampanye pengeboman Moskow melawan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

"Penduduk secara bertahap kembali ke kota Suriah dan kehidupan damai mulai kembali," ujar pejabat senior Staf Umum Jenderal Sergey Rudskoy seperti dilansir Al Arabiya.

Ia menambahkan, dalam konteks ini pelaksanaan operasi kemanusiaan akan menjadi pekerjaan baru dari pasukan bersenjata Rusia di Suriah. Rusia mengklaim operasi udara Moskow di Suriah telah perlahan membantu membawa kedamaian di negara tersebut. [yy/republika]