25 Rabiul-Akhir 1443  |  Selasa 30 Nopember 2021

basmalah.png

AS dan PBB Akhirnya Cabut Sanksi Ekonomi Iran

AS dan PBB Akhirnya Cabut Sanksi Ekonomi Iran

Fiqhislam.com - PBB mengatakan sanksi ekonomi terhadap Iran dicabut sesuai dengan kesepakatan nuklir yang dicapai tahun lalu di Vienna. Iran setuju untuk menghentikan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi-sanksi.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengumumkan, Sabtu (16/1), bahwa Iran telah memenuhi komitmennya di bawah perjanjian nuklir yang diraih bersama enam negara besar, sehingga sanksi internasional akan dicabut dan Iran bisa melakukan kerjasama bisnis dengan perusahaan-perusahaan Eropa.

Sertifikasi oleh IAEA yang bernaung di bawah PBB ini merupakan tahapan terakhir yang akan memungkinkan Iran untuk mendapatkan kembali aset-aset yang dibekukan di luar negeri senilai sekitar US$ 100 miliar (Rp 1.388 triliun).

Jumat lalu, Presiden AS Barack Obama memberi kuasa kepada Menteri Luar Negeri John Kerry untuk membuka kembali pintu ekspor pesawat penumpang sipil Amerika ke Iran jika IAEA mengatakan komitmen nuklir Teheran telah dipenuhi.

Kepala Bank Sentral Iran Hossein Yaghoubi Miab mengatakan pihaknya berharap sanksi-sanksi perbankan oleh Eropa segera dicabut, dan mengimbau Kementerian Keuangan AS agar tidak lagi memperkarakan perusahaan-perusahaan Eropa yang beroperasi di AS dan Iran sekaligus.

Perubahan ini akan membuka pintu bagi bantuan pembangunan ekonomi luar negeri ke Iran, meskipun bukan dari AS, ujarnya.

Presiden Iran Hassan Rouhani memberi selamat pada bangsa Iran setelah kesepakatan nuklir antara Teheran dan enam negara lain berhasil. Implementasi pembatasan nuklit Iran itu mengakibatkan diangkatnya sanksi atas Iran.

"Terima kasih pada Tuhan atas berkahnya dan hormat pada besarnya kesabaran bangsa Iran. Selamat atas kemenangan besar ini," kata Rouhani lewat akun Twitternya @HassanRouhani, kurang lebih 25 menit lalu, Ahad (17/1).

Iran selama ini berada dalam isolasi ekonomi akibat program nuklirnya. Hari ini pengamat nuklir PBB memastikan Iran telah mematuhi pembatasan program nuklirnya seperti dijanjikan Iran. Hingga sanksi ekonomi atau embargo pun dicabut, dikutip Reuters. [yy/atjehcyber]

Sanksi Ekonomi Dicabut, Presiden Iran Ucapkan Selamat

Presiden Iran Hassan Rouhani memberi selamat pada bangsa Iran setelah kesepakatan nuklir antara Teheran dan enam negara lain berhasil. Implementasi pembatasan nuklit Iran itu mengakibatkan diangkatnya sanksi atas Iran.

"Terima kasih pada Tuhan atas berkahnya dan hormat pada besarnya kesabaran bangsa Iran. Selamat atas kemenangan besar ini," kata Rouhani lewat akun Twitter-nya @HassanRouhani, kurang lebih 25 menit lalu, Ahad (17/1).

Iran selama ini berada dalam isolasi ekonomi akibat program nuklirnya. Hari ini pengamat nuklir PBB memastikan, Iran telah mematuhi pembatasan program nuklirnya seperti dijanjikan negara tersebut hingga sanksi ekonomi atau embargo pun dicabut, dikutip Reuters. [yy/republika]

Iran Bebaskan Tawanan Warga Negara AS Kelima

Iran membebaskan Matthew Trevithick, yang merupakan tawanan kelima berkewarganegaraan Amerika. Akan tetapi, pembebasan itu bukan bagian dari negosiasi pertukaran tawanan.

Senior pejabat pemerintah AS menyebutkan Trevithick adalah mahasiswa yang baru ditahan di Iran. Kini, Matthew telah diizinkan untuk meninggalkan Iran dan sedang dalam perjalanan pulang.

"Ia adalah individu tambahan yang bukan bagian dari negosiasi, tapi kami meyakinkan Menteri Luar Negeri Zarif bahwa penting bagi mereka untuk mencoba menyelesaikan beberapa kasus warga Amerika lain yang ditawan di luar konteks," ungkap pejabat tersebut kepada CNN.

Sebelumnya, pejabat senior pemerintah AS membenarkan pembebasan empat tahanan AS. Rilis itu diatur sebagai bagian dari pertukaran tawanan yang melibatkan tujuh warga Iran yang diselenggarakan oleh Amerika Serikat.

Para pejabat menyebutkan, kesepakatan itu muncul setelah negosiasi rahasia yang berlangsung lebih dari setahun. Pengumuman itu bertepatan pada hari ketika pengawas nuklir PBB mengumumkan apakah Iran memenuhi kesepakatan Juli untuk membatasi program nuklirnya.

Jika Badan Energi Atom Internasional menyatakan bahwa Iran telah memenuhi, beberapa sanksi ekonomi internasional terhadap Iran diharapkan akan diangkat. Para pejabat AS mengatakan Iran membebaskan wartawan Washington Post Jason Rezaian, veteran Marinir bernama Amir Hekmati, Pendeta Saeed Abedini, serta Nosratollah Khosrawi yang identitas rincinya belum diketahui. [yy/republika]

Iran Bebaskan Koresponden Washington Post

Iran akan membebaskan empat orang warga Amerika sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tawanan. Pertukaran itu bertepatan dengan pelaksanaan kesepakatan nuklir Iran dan enam kekuatan dunia.

Salah satu tawanan yang dibebaskan adalah koresponden Washington Post bernama Jason Rezaian. Pria asal California berusia 39 tahun itu ditahan oleh Pemerintah Iran pada tanggal 22 Juli 2014 bersama istrinya, Yeganeh Salehi, yang juga seorang jurnalis.

Rezaian dibawa ke Evin Prison, dan dimasukkan ke dalam sel isolasi selama berbulan-bulan, tanpa penjelasan kepada keluarganya atau ke dunia luar. Salehi, istrinya yang merupakan warga negara Iran, dibebaskan dengan jaminan pada musim gugur tahun lalu.

Tawanan kedua yakni Amir Hekmati, dari Flint, Mich. Mantan Marinir itu ditangkap atas tuduhan sebagai mata-mata pada 29 Agustus 2011, dalam kunjungan ke rumah neneknya.

Hekmati lahir di Arizona dan memegang kewarganegaraan ganda AS-Iran. Pria yang menjabat sebagai infanteri 2001-2005 itu sempat melakukan mogok makan pada akhir 2014 untuk memprotes penahanannya.

Tawanan ketiga, Saeed Abedini (35 tahun) dari Boise, Idaho, adalah seorang pastor kelahiran Iran. Ia ditangkap pada September 2012 atas tuduhan terkait dengan imannya.

Dia disebut bersalah karena membahayakan keamanan nasional dengan mengadakan pelayanan keagamaan swasta di gereja-gereja rumah. Seperti yang dilaporkan The Post, kasus Abedini mendapat perhatian dari umat Kristen di seluruh dunia, di mana para aktivis mendesak Presiden Obama untuk mendorong pembebasannya.

Sementara, tawanan keempat ialah Nosratollah Khosravi-Roodsari. Belum banyak informasi yang tersedia tentang Nosratollah Khosravi-Roodsari, dikutip dari Washington Post. [yy/republika]