20 Jumadil-Akhir 1443  |  Minggu 23 Januari 2022

basmalah.png
BERITA INTERNASIONAL

John Kerry: Perundingan Suriah Harus Serius atau Perang Terus

John Kerry: Perundingan Suriah Harus Serius atau Perang TerusFiqhislam.com - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry, berharap ada kejelasan untuk perundingan damai Suriah dalam waktu 24 hingga 48 jam ke depan. Menurutnya, perundingan Suriah harus serius atau perang akan terus berkecamuk di negara Presiden Bashar Al-Assad itu.
 
Perundingan damai Suriah seharusnya sudah mulai digelar di Jenewa pada hari Senin (25/1/2016). Namun, beberapa pihak memilih menundanya. Seruan Kerry agar perundingan damai Suriah digelar serius itu disampaikan saat kunjungan ke Laos.
 
Mereka harus serius. Jika mereka tidak serius, perang akan terus berkecamuk,” katanya, seperti dikutip Reuters. ”Kami telah menciptakan kerangka; orang Suriah memiliki kemampuan untuk memutuskan masa depan Suriah,” ujarnya.
 
Seorang diplomat Barat mengatakan pada hari Minggu, mengatakan bahwa perundingan damai Suriah tidak mungkin dimulai sebelum hari Rabu. Pemerintah Suriah mengatakan sudah siap untuk menghadiri perundingan, tetapi Komite Negosiasi Tinggi Oposisi yang merupakan lawan politik Presiden Assad, tidak akan hadir ke perundingan sampai pemerintah menghentikan pengeboman, mencabut blokade dan membebaskan para tahanan.
 
Kerry menolak komentar dari negosiator utama oposisi Suriah bahwa ada tekanan dari pihaknya untuk menghadiri perundingan damai di Jenewa. ”Saya tidak tahu di mana ini (informasi) berasal. Mungkin itu adalah tekanan politik internal,” ujar Kerry.
 
Mereka adalah negosiator, maka mereka akan memutuskan masa depan. Apa yang saya katakan pada mereka adalah bahwa hal itu dengan persetujuan bersama. Anda memiliki veto, begitu juga dia (rezim Assad),” ujar Kerry.
 
Meski demikian, Kerry menegaskan bahwa posisi AS tidak berubah, yaitu mendukung oposisi Suriah. ”Kami masih mendukung oposisi dengan dukungan politik, finansial dan militer,” katanya.

Cabut Sanksi Iran, AS Tegaskan Tetap Sekutu Kuat Saudi

Pemerintah Amerika Serikat (AS) meyakinkan Arab Saudi bahwa Washington tetap menjadi sekutu kuat Riyadh, meski AS mencabut sanksi ekonomi Iran sesuai kesepakatan nuklir. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, sebelum bertolak dari Riyadh kemarin.
 
Kami memiliki hubungan eras, sekutu jelas dan persahabatan yang kuat dengan Kerajaan Arab Saudi seperti yang pernah kita miliki,” ucap John Kerry.
 
Tidak ada yang berubah karena kita  bekerja untuk menghilangkan senjata nuklir di kawasan itu,” katanya seperti dikutip Al Arabiya. ”Kami akan terus bekerja di wilayah (Timur Tengah) dengan teman-teman dan sekutu kami.
 
Menurut kantor berita SPA, Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz pada hari Sabtu pekan lalu bertemu dengan John Kerry di Ibu Kota Riyadh. Mereka membahas urusan regional.
 
Dalam pertemuan tersebut, keduanya membahas perkembangan terbaru di wilayah tersebut, khususnya perkembangan terbaru di Suriah serta pentingnya mengatasi gangguan Iran terkait urusan internal negara,” tulis SPA.
 
Pertemuan yang berlangsung di istana Al-Auja itu dihadiri oleh para pejabat senior di kedua pihak, termasuk Deputi Putra Mahkota Saudi, Mohammed bin Salman, dan Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Abdel Al-Jubeir.
 
Pada konferensi pers bersama setelah pertemuan itu, Kerry menyatakan keprihatinan terkait dukungan militer Iran kepada gerakan Hizbullah Libanon. AS dan Saudi kompak mencela dukungan Hizbullah Libanon terhadap rezim Presiden Suriah, Bashar al-Assad sejak krisis Suriah pecah tahun 2011 dan berubah menjadi perang saudara hingga sekarang.

Kerry: Senjata Hizbullah Mayoritas Berasal dari Iran

Mayoritas senjata yang dimiliki oleh Hizbullah saat ini merupakan pemberian dari Iran. Hal tersebut. diungkapkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) John Kerry.

Berbicara kala menggelar konferensi pers bersama dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir di Riyadh, Kerry menuturkan bahwa saat ini Hizbullah memiliki persenjataan yang cukup besar. Bahkan, lanjut Kerry, Hizbullah memiliki puluhan ribu rudal, yang sebagian besar diantaranya didapatkan dari Irak.

"Sebagian besar senjata Hizbullah datang dari Iran melalui Suriah menuju Lbanon dan bahwa gerakan yang juga merupakan partai politik di Libanon tersebut memiliki sekitar 80 ribu rudal," ucap Kerry dalam pernyataannya
.
Kerry, seperti dilansir Al Arabiya pada Minggu (24/1) mengatakan fakta bahwa Iran masih memberikan dukungan kepada Hizbullah adalah sesuatu hal yang sangat mengkhwatiran. Hal ini, menurutnya adalah sesuatu hal yang harus dihentikan.

Seperti diketahui, sama halnya dengan Israel, AS mengganggap Hizbullah adalah salah satu kelompok teroris di dunia, bersanding dengan ISIS dan al-Qaeda. Nama seluruh anggota Hizbullah bahkan sudah masuk dalam daftar hitam di AS. [yy/sindonews]