24 Rabiul-Akhir 1443  |  Senin 29 Nopember 2021

basmalah.png

Bulan Mematikan Para Migran

Bulan Mematikan Para Migran

Fiqhislam.com - Awal tahun 2016 menjadi bulan yang berat bagi para pengungsi. Sepanjang bulan Januari, jumlah pengungsi yang meninggal ketika mencoba hijrah ke Benua Biru ternyata mencapai jumlah tertinggi. 

Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mencatat, sedikitnya 244 pengungsi dan migran meninggal pada bulan ini ketika berusaha mencapai Eropa melalui Laut Mediterania. Angka tersebut meningkat hampir 200 persen dari 82 orang yang tewas pada Januari 2015. Angka ini juga meningkat amat pesat dibanding 12 orang yang tewas pada Januari 2014.

Menurut IOM, sebanyak 55.528 pengungsi dan migran telah tiba di Eropa sepanjang tahun ini. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) pun melaporkan 236 tewas atau hilang sepanjang bulan ini dengan keda tangan melalui laut sebanyak 54.518 orang.

Salah satu peneliti Human Rights Watch Watch (HRW) yang berbasis di Yunani, Eva Cosse, mengatakan, banyaknya korban tewas disebabkan oleh tingkat depresi yang tinggi karena harus melarikan diri dari tanah kelahiran. Selain itu, meski jarak antara Kepulauan Aegean dan Turki dekat, arus yang kuat dan perahu karet penuh sesak juga tidak dapat membawa banyak orang. 

Apalagi, selama ini ternyata para penumpang juga mengenakan jaket keselamatan palsu. "Jika kapal karam, mereka pasti akan tenggelam," ujar Cosse kepada Aljazirah.

Untuk memerangi fenomena ini, kelompok hak asasi manusia dan individu yang bekerja meningkatkan nasib pengungsi mengusulkan, pemerintah harus menyediakan rute yang lebih aman dan jalur hukum yang lebih baik, seperti menerbitkan paspor kemanusiaan.

"Kami membutuhkan respons kolektif dari Uni Eropa untuk memastikan orang-orang ini memiliki perjalanan yang aman ke Eropa. Sehingga, merekapun tidak mempertaruhkan hidup untuk mencapai Yunani," kata dia.

Tingginya jumlah korban meninggal pada awal tahun ini masih menjadi episode panjang dari krisis migran yang melanda Eropa pada 2015. Sepan jang tahun lalu, 3.771 kematian migran terjadi dan merupakan peningkatan dari 3.279 kematian pada 2014.

Editor eksekutif Migran Report, Mark Micallef, mengatakan, jumlah orang yang mencoba menyeberang ke Turki meningkat di tengah rasa takut akan segera ditutupnya perbatasan Eropa. "Kesan yang saya dapatkan setelah berbicara dengan para migran di Turki adalah ada kegemparan luas bahwa Eropa akan menutup diri," katanya.

Migran Report adalah proyek nonprofit yang mengukur, menyelidiki, dan mendokumentasikan efek gerakan manusia. Di tengah penderitaan pengungsi, penyelundup ternyata juga mengambil keuntungan dari aliran pengungsi. 

Dengan jarak tempuh yang relatif pendek, mereka memberikan jaket keselamatan yang tidak sesuai dan menempatkan terlalu banyak pengungsi di kapal.

Biaya untuk mencapai Lesbos dari Turki saat ini berkisar antara 600 dolar hingga 700 ratus dolar Amerika Serikat (AS). Harga ini kemudian melonjak menjadi 1.000 dolar AS hingga 2.000 dolar AS pada musim panas ketika cuaca lebih baik dan lebih aman untuk menempuh perjalanan.

Untuk mengurangi pertumbuhan dalam jumlah perpindahan dan kematian, harus ada lebih banyak dukungan bagi negara-negara, seperti Yordania, Lebanon, dan Turki di mana populasi pengungsi besar.

"Negara-negara ini membutuhkan bantuan," ujar Micallef. Turki, ia melanjutkan, harus didorong untuk memberikan hak-hak dan perlindungan hukum.

Untuk mengurangi tekanan pada Yunani dan membendung aliran pengungsi, pejabat Belanda kini tengah menimbang rencana untuk mengangkut pengungsi yang telah tiba di Yunani untuk kembali ke Turki. 

Namun, menurut peneliti Amnesty Internasional Yunani dan Siprus, Kondylia Gogou, Turki tidak dapat dianggap sebagai negara yang aman bagi para pengungsi. "Dalam beberapa bulan terakhir, pengungsi secara ilegal justru kembali ke Irak dan Suriah," katanya.

Menurut Gogou, skema permukiman skala besar untuk pengungsi dari Turki ke Uni Eropa adalah ide yang baik. Dalam beberapa tahun terakhir, pemblokiran satu rute ke Eropa telah pasti menyebabkan pengungsi mengambil jalur lain yang justru lebih berbahaya untuk mencari perlindungan.

Pada Kamis (28/1), setidaknya 25 orang termasuk 18 anak-anak dilaporkan tewas setelah kapal yang membawa pengungsi terbalik di Aegean Timur. Setidaknya 43 orang juga tenggelam, Jumat (29/1) lalu, ketika dua kapal terbalik di perairan Yunani. Kebanyakan yang menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. [yy/republika]

 

Tags: Migran | Pengungsi